Namaku Nazar Shah Alam. Pemilik ruang pasung Pengko ini. Jika hendak bertandang ke rumah orang, tentulah kau mesti mengenalnya, atau setidaknya, pura-pura kenal saja. Ah, baiklah. Aku lahir nun di sebuah kampung pesisir bernama Koeta Bakdrien. Konon kata emakku, aku lahir kala matahari baru pecah pada 05 September 1989, di gubuk kecil kami di pinggir sawah. Bertahun kemudian Tuhan menabalkan aku sebagai sulung dari tiga bersaudara.

Ayahku yang rupawan bernama Alamsyah AL, Emakku yang manis dan cerdas itu namanya Armiji AR. Adikku yang segaris baya di bawahku bernama Afzhal de Armilamsyah, dan yang perempuan namanya Humaira Salvy.

Tahun ke delapan belas setelah aku lahir itu, aku dipaksa emak untuk kuliah. Dipertemukan nasib baik pula aku memilih PBSI Unsyiah sebagai labuhan pengetahuan. Di sana aku mula menulis, dipaksa oleh petua teater Gemasastrin untuk menulis di media.

Baiklah, nama penaku pertama-tama adalah Nazar Alam, gabungan namaku dengan sepotong nama ayahku yang diizinkannya kala ia masih hidup. Lalu pada karyaku yang pertama di Serambi Indonesia berjudul “Sinopsis Negeriku” aku menambah suku kata pada antara nama asliku dengan nama depan ayahku dengan “Shah”. Sejak itu aku selalu memakai nama Nazar Shah Alam pada tiap karyaku.

Kenapa Nazar Shah Alam?

Nama “Shah” ini saya ambil dari beberapa nama raja Persia. Jadi ini bukan suku kata terakhir dari nama ayahku, apalagi sampai ke tahap membalik-balikkan nama orang tua. Masyaallah!

Kawan, sebenarnya aku sedang tidak begitu bergairah menulis. Nanti akan kuperbaiki kembali redaksi -kata perkenalan ini, sehingga jika dibaca akan menimbulkan kesan yang lebih menarik

Saleum Tuwah

“Mwah”

Nazar Shah Alam

Iklan