Karya Naz13495323_652340458263459_2982292007711034420_n.jpgar Shah Alam

Mestinya kukabarkan kepada kalian lebih panjang lagi perihal petaka ini. Tapi Bahrum, tidak mengizinkanku. Katanya sebelum pergi, kabarkan yang penting-penting saja kelak. Tidak ada yang bisa mengabarkan ini kepada saudara sekalian kecuali aku. Mustamidan dan Abdul Bayaki bahkan tidak bisa menulis dengan benar nama ayah dan ibu mereka. Benar-benar bodoh. Tapi koko dan peci yang mereka kenakan setiap waktu telah menyelamatkan mereka dari kenyataan itu.

Malam itu langit terang benderang. Setengah bulan lagi masuk Syawal. Sepulang tarawih, sembunyi-sembunyi, kami menyapir ke rumah Bahrum. Lelaki itu lima tahun lebih tua dariku. Janggutnya yang lurus dan kumis tipisnya ditambah badannya yang tinggi membuat ia lebih tepat kupanggil paman daripada menyebut nama seolah sebantaran.

Kata Ibu, Bahrum memang terlahir dalam takdir buruk. Tak berpangkal bangsa, tak bertali karib. Konon entah dari mana Ibu tahu, katanya pemuda itu sudah berulang kali diusir dari berbagai kampung sebab sikap dan kepalanya yang  racun. Aku serta dua teman bodohku tidak melihat itu. Tapi membantah cerita Ibu sama halnya dengan harus menunda waktu tidur beberapa jam lagi.

“Jika ibu tahu kau dekat dengannya, awas saja!” ancam Ibu di akhir ceritanya. Aku mengangguk, Tapi kami sudah terlanjur akrab. Sangat dekat sehingga beberapa katanya kugenggam setingkat di bawah sabda.

Dia datang dari arah timur. Bergerak ke barat, semakin ke barat. Seperti matahari, katanya. Ia tidak akan berhenti. Sebab bila itu terjadi, dunia menjadi hampa. Diam sama sekali. Dan pada masa itu, terangkatlah ayat-ayat Tuhan ke langit. Lebih cepat dari laut. Lebih lekas dari angin. Lebih gegas daripada cahaya.

“Tugasku adalah datang, menyampaikan, lalu terusir,” kata Bahrum pada kami beberapa jam sebelum kegaduhan itu pecah. Ia memberi senyum khas yang mempertegas keras garis rahangnya. “Aku ini, anak muda, adalah sesuatu yang berangkat dari asing menuju asing” lanjutnya.

Kami hanya diam. Saling bertatapan. Sebagian kepala kami mencoba menafsir maksud ucapannya, sebagian lagi tak paham sama sekali. Pelita di depannya seperti mata kami bertiga ketika berada di balai. Bosan, layu, semakin menuju khatam.

“Di mana asing itu?” tanyaku.

“Sangat dekat. Maksudku, terkadang sangat jauh. Namun sesungguhnya amat sangat dekat.” Dia menatap padaku seolah percaya bahwa akulah satu-satunya yang bisa menafsirkan maksud setiap tutur katanya.

“Yang sangat jauh itu…?”

“Masa lalu!” celutuk Mustamidan mengutip petuah Imam Ghazali.

“Dan yang sangat dekat adalah kematian,” ucapku.

Dia tersenyum. Tapi menggeleng.

“Rumah Tuhan!” katanya. “Tempat kita menerima limpahan segala cinta Dzat Pencipta.”

***

Tidak ada yang menyangka Suhaimin telah berubah nama menjadi Malim Muslimin. Sama dengan tak siapa nyana bahwa ia telah seteduh telaga di tengah rimba. Dia merantau lima tahun silam ke kota besar untuk melanjutkan sekolah, nyatanya ketika pulang sudah berpeci dan jubah. Orang-orang kampung kami takjub, sebagian mereka memuji Malim Muslimin dan semakin percaya pada kebesaran Allah atas segala hidayah.

Ayahnya adalah bajingan besar paling tenar di sepanjang kotapraja yang harta kekaya-rayaannya didapat dari hasil memalak pedagang yang ada. Sampai sekarang masih sama. Tidak pernah shalat dan tidak ada kebaikannya. Beliau pendekar dan punya ilmu kebal sehingga tidak ada yang bisa menahan laju kebangsatannya. Malim Muslimin mewarisi sikap ayahnya pada masa silam. Sekarang, semuanya berbeda sama sekali.

Malim Muslimin semakin dihargai setelah sore tadi mengundang seluruh masyarakat kampung kami berbuka puasa di masjid. Dia menyedekahkan sepuluh ekor kambing untuk kenduri. Alasan pertama, menurut ceramah sambutannya, adalah untuk memohon maaf atas segala perilaku buruknya pada masa silam kepada setiap warga. Alasan kedua adalah mengajak masyarakat membahu bantu niat baiknya mendirikan masjid kecil di sudut utara kampung kami. Itu semua agar para jamaah yang jauh di sebelah utara bisa beribadah di masjid layaknya warga di selatan.

“Kampung kita sangat luas. Hampir tiga kali kampung orang. Golongan kita terbagi dua. Saya mengharap keizinan dan bantuan saudara sekalian. Semata ini demi kebaikan, tanpa maksud buruk secuil pun,” tegasnya. Orang-orang yang berkumpul di halaman masjid bertepuk tangan.

“Ibadah adalah kesunyian, saudara Malim. Masjid kita yang menjurus ke selatan ini tidak akan menjadi alasan bagi para ahli ibadah serta ahli jamaah,” sanggah Bahrum di sela ceramah Malim Muslimin. Pemuda itu menyeringai.

“Saudara nampaknya baru di kampung ini. Sebagai tamu, saudara harus menghargai pemilik rumah ini. Dan saya pribumi, saya paham betul keadaan dan isi kepala orang kampung kami.”

“Selama yang disembah adalah Tuhan yang sama, kita tidak perlu membeda-bedakannya. Tidak perlu menambah masjid, cukup bersihkan hati. Hati yang bersih adalah rumah ibadah yang baik. Di sanalah tempat Tuhan sepenuhnya dipuji, dirasakan Ia memberi,” Bahrum terlihat mencoba menjaga nada suaranya meski wajahnya mulai tegas.

“Kami menghargai perbedaan sejak lama. Tidak ada perpecahan apa-apa sekalipun di kampung ini berdiri seribu masjid. Anda meragukan persatuan kami?” Malim Muslimin kesal sekali. Dia turun dari mimbar bahkan sebelum mengucap salam penutupan. Lekas. Jubahnya terkibas angin petang yang culas.

Semua orang menatap Bahrum mahamakna. Sebagian menyesali tindakan pemuda itu, sebagian menganggap ia berani, sebagian kecut, takut, kalut. Dan selaik dugaan, bajingan kotapraja segera memasuki halaman masjid. Mulutnya komat kamit. Orang-orang melipir seperti pengecut. Matanya yang setajam pedang menyeruak satu persatu wajah-wajah kalut di sana. Tidak dijumpai Bahrum. Lelaki itu memberi isyarat pada anak buahnya agar segera mencari Bahrum. Sebagian mencari. Sebagian lagi menyalakan api seperti hendak memberi ancaman akan ada seseorang yang dibakar.

“Kami telah mengusirnya dari kampung kita, tuan panglima. Tidak boleh dibiarkan racun itu berada terlalu lama di kampung kita,” Teungku Yunus bersuara setelah sekian lama kalut.

Mata bajingan itu tidak menyurutkan kebengisan. Dia menatap Teungku Yunus dengan gelagat curiga. Biasanya, jika api sudah dinyalakan pada saat kemarahan bajingan itu berkobar, maka wajib baginya ada tubuh yang terbakar.[]

Dimuat di Serambi Indonesia edisi 26 Juni 2016