Blog.jpgOleh Nazar Shah Alam

Dengan penuh kesadaran dan kelataan, sebagai pengelana tak berpulau dan perantau tak berhuma, telah kuputuskan untuk berhenti berlayar. Di hatimu, kekasih, kapal hidup kutambatkan. Di sana, dengan izin Allah, ia akan kekal berlabuhan.

Hanya setelah beberapa waktu bertemu dan melawat waktu denganmu, aku telah mengubah banyak hal dalam hidupku. Tanpa takut apa-apa, tanpa terlalu banyak menimbang kira. Sebab untuk maksud baik tidak perlu banyak menaksir terka. Betapa lucu mengingat engkau saat kusampaikan maksudku. Tak percaya dan terkejut. Bertanya berulang kali dan memintaku meyakinkan sampai hatimu pasti.

Demikianlah, engkau tak sekali pun kutawari menjadi pacar, tapi kuhendakkan untuk menikah. Aku juga tak habis pikir. Maksudku, bukankah mestinya (atau seperti pemuda lazimnya) kau kudekati dulu setidaknya berminggu-minggu, lalu kuberi kesan-kesan baik tentangku agar diterima, lalu mengajakmu menjadi pacar sekian waktu, lalu jika tepat barulah kita berumah tangga? Tidak. Untukmu aku tak butuh panjang sangkala dan tidak juga sebertele lazimnya. Nyata-nyata, siapa nyana, sudah begini kita adanya. Orang-orang pasti akan menduga dan akan bertanya pada kita sudah bagaimana hubungan ini pastinya. Tapi kita masih cukup sabar untuk tidak mengabarkan sebelum waktu yang tepat itu tiba.

Kekasih, maafkanlah sebelumnya. Aku tidak datang padamu sebagai orang yang tidak berdosa, tidak baik, konon lagi sempurna. Tapi satu hal yang pasti, setelah memantapkan hati, aku tahu segalanya harus berangsur lebih baik. Maka, sebagai teman yang akan menunaikan hidup denganmu hingga hari penghakiman, temani pula pencarianku untuk menjadi sebaik ingin Tuhan. Menemani aku hingga tepat kau sebut imam.

Sebagai seorang yang sadar pada keburukan diri, aku hanya perlu insaf. Kita ini, kekasih, umpama besi. Dan masa lalu adalah tempaan yang jika semakin keras dijatuhkan, semakin berapi, semakin cepat kita menjadi pedang yang tajam. Maka, sudahlah, dan terima kasih telah menutup semua perkara kenangan hingga pupus di ingatan. Terima kasih telah menerimaku dengan segenap keadaan dan kekurangan.

Kekasih, aku tidak datang padamu sebagai seorang yang sudah memenangkan perang kehidupan. Justru sebaliknya, sebagai orang yang kalah dan babak belur oleh terpaan. Ketika mengajakmu menikah, aku dalam keadaan paling lata. Tidak memiliki apa-apa selain dari tenaga, pikiran, nyali menyampaikan, kata-kata, dan tentu saja niat baik untuk berumah tangga. Kau ragu menjawabnya, menolak untuk percaya. Sempat kusyukuri itu. Di sebagian kecil hati aku memang pernah berharap kau menolaknya sebab tidak yakin bisa menggapaimu segera, tapi di sebagian besar hati lainnya aku sangat mengharap kau menerima sekalipun harus terus berupaya. Hatiku berguruh setiap mendapat isyarat-isyarat penerimaan darimu. Guruh yang aku tak tahu antara harus senang atau harus mengeluh. Tapi sebagai lelaki, pantang rasanya menarik ulang kata. Apalagi jika alasannya hanya tak siap mengikatmu sebab belum memegang apa-apa.

Lelaki ini, kekasih, adalah yang pantang jadi pengecut. Pantang kecut. Tapi maju ke padang tikai tanpa panah, perisai, baju besi, dan pedang adalah sama dengan memutuskan memasrahkan diri kepada penaklukan. Namun, ada ketapian lain, kekasih. Itu yang kusebut keajaiban. Bahwa Tuhan memeluk setiap mimpi yang serius. Aku tidak akan mundur, akan bertarung, berdarah-darah untuk membawamu ke hadapan balairung. Berdiri di belakangku sebagai makmum.

Nyatanya, sungguh gaib, Tuhan segera membuka pintu-pintu cara bagi pemuda yang berencana menyempurnakan separuh agamanya. Simpul-simpul rezeki terbuka tanpa diduga. Maha Besar Allah atas segala janji-Nya.

Sebagai yang sadar diri lata, barangkali perlu kusampaikan sedikit ihwal. Hanya sebagai ingatan awal. Bukan bentuk aku terbakar sebelum api menyala. Bukan sebentuk takluk sebelum menuju laga. Bahwa lelaki yang telah memilihmu untuk menjadi istri ini kelak tidaklah selamanya jaya. Tidak selamanya sehat dan tidak selamanya menang. Ia hanyalah pejuang yang terus berusaha kuat untuk wijaya dan menyenangkan.

Kau akan menjadi teman di perang-perang selanjutnya. Tetap tenang. Tetap tabah dan bersetia. Jangan jatuh ketika aku rapuh. Jangan menyerah ketika aku kalah. Jangan menyesal bila sewaktu-waktu kelak aku ditaklukkan keadaan. Biduk yang melayarkan aku dan kamu kelak adalah milik kita berdua. Bertemu dermaga, berlabuh kita berdua. Berjumpa ombak, meriak kita berdua. Bersua badai, masai kita berdua. Mendapat baik, berasyik kita berdua. Mendapat buruk, jangan masyuk di dalamnya.

Kekasih. Tuhan selalu punya maksud atas sebuah pertemuan dan keadaan. Kita sedang berdiri di satu pulau yang mengharuskan berlayar. Berpeganglah yang kuat di tanganku yang sekalipun tak kekar tapi mampu menghalang terjang. Jadilah semangat agar kuat kuayunkan kayuhan. Kau hanya perlu tersenyum agar kandas lelahku. Tertawalah agar bertambah gelora hatiku. Setiap kau merayu, kujanjikan melintas seratus pulau untukmu. Setiap kau memanja, akan kulangkahi seribu pulau lainnya. Apabila kau berharap dengan tulus agar aku terus punya tenaga, aku merasa direstui semesta. Ketika kau berdoa untuk kekuatanku agar segera menemukan pulau haluan, malaikat segera menjelma angin, mendorong perahu kita ke tujuan. Sejenak kita pejam, begitu terbuka, tahu-tahu perahu kita sudah tertambat di pulau yang kita citakan. Disambut gelora nyala pagi, dipenuhi wangi mawar.[]

(NSA-Juli 2016)