Dina Cinta.jpgUntuk menulis ini, kekasih, aku telah merenung sekian malam, melawat berbagai tempat, menghujat sejumlah waktu, melunas banyak temu. Betapa menyedihkan. Bertahun-tahun aku  berkarib kata-kata, sehingga jika kuajak bertemu mereka akan datang padaku serupa gurun diamuk badai, tapi kali ini mereka jadi pengecut. Kata-kata menolak tiba padaku. Menolak berteman meski sudah kupuja rayu. Barangkali mereka luka hati sebab aku sudah memutuskan untuk lebih mencintaimu.

Percayalah, setiap hari-hari bertunas, aku duduk cemas. Memikirkan ilham yang tak kunjung bernas. Ada, memang. Tapi susah betul kujabarkan. Aku memikirkanmu dan hendak  menulisnya. Tapi kata telah berkhianat. Aku bisa apa?

Hatimu. Jika kuamsalkan sebagai harta, ia adalah yakut biru. Dan mataku hanya cahaya yang menyusup celah kecil bekas sarang lebah di satu dinding yang agak jauh. Di ruang engkau berteduh, ketika yakut dan cahaya bersitemu, segalanya semburat biru. Sekalipun hanya cahaya lata yang berserah pada takdir, aku tidak tiba begitu saja. Dikirim langit pada suatu terik, mencari permukaan, menemui ceruk, masuk, berjumpa hatimu, mabuk.

Kau bertanya, mengapa begitu lekas memutuskan duduk. Padahal hari masih sebelah tangan, ucap belum pun sepengalahan. Aku percaya pada kemestian-kemestian Tuhan yang tak perlu kita persoalkan dan tak akan pernah mahfum meski bertahun kita belajar.

Cintamu adalah mekar bunga jambu. Pelan menuju kesumba. Kau tahu mengapa cintamu tak buru-buru tiba untukku? Sebab hatimu tak kucuri. Sengaja tak kucuri sebab mencuri itu, kita tahu, nyata-nyata tidak baik. Aku juga kadung percaya bahwa harta yang didapatkan dari hasil mencuri tidak akan berkah. Harta yang tak berkah akan cepat habis, kata orang. Hilang dalam sekelipan. Hatimu, sekali lagi, adalah harta yang kumaksudkan. Untuk apa kucuri, jika aku masih punya cukup cara dan kekuatan untuk meraih lalu memilikinya dengan penuh kerelaan?

Maka segalanya pelan saja. Seperti angin senjakala yang mengirim hari ke malam: tenang dan melenakan. Atau seamsal biji kersen yang jatuh pada musim hujan. Tiba di bumi, menunggu dipecahkan alam, pecah, berserakan, menyatu tanah, tertanam, bertunas akar, tumbuh, dan kelak akan menjadi batang ke dahan yang tak mampu dipatahkan tangan telanjang.

Tiba di pintu hatimu, aku mengetuk. Kali ini tidak sebagai bajingan. Melainkan seorang pecinta yang cukup punya nyali meminta pintu hatimu kau bukakan. Dan kelak, ketika ia terbuka, di hatimu aku berdiam. Di sana pula kelak aku bermakam. []ss

NSA – Juli 2016