521406_156891104475066_249738155_nSejak kedua anak lelakinya besar, Umi saya selalu bercerita tentang dapur yang bagus, kamar mandi yang baik, kamar perempuan untuk adikku, persiapan kamar untukku dan adikku setelah menikah, dan sebuah mobil separuh mewah. Dia menginginkan tempat tinggal yang baik untuk menikmati masa tuanya dan tentu saja keadaan hidup yang baik pula. Umi ingin dibuatkan sebuah kedai kecil tempat ia mengais rezeki manakala kami (mungkin setelah menikah nanti) lupa mengirimkan uang belanja untuknya. Saat ini Umi sangat leluasa bercerita pada kami. Semacam balas dendam dalam makna baik. Dia tidak pernah segan meminta apa pun pada kami persis seperti kami meminta padanya dulu. Setiap meminta, dia berdoa semoga Tuhan membuka pintu rezeki bagi kami berdua. Beda dengan kami dulu. Tiap meminta kami merajuk.

 
Setiap yang diinginkan Umi pelan-pelan kami wujudkan. Dia mengaku sudah sangat berbahagia dengan keadaannya yang sekarang. Saya, setiap bertemu dengan Umi saat ini lebih banyak bercerita tentang perkembangan diri saya dan karir. Setiap bekerja, saya selalu memikirkan bagaimana sebagian besar gaji saya diperuntukkan untuk kebahagiaannya. Bukan apa. Saya hanya sedikit takut kelak setelah menikah saya tidak bisa berboros-boros untuknya lagi sebab harus berpikir kehidupan sendiri, anak dan istri. Umi mendukung semua yang baik. Diberikan wejangan-wejangan agar kami tidak lupa pada pangkal muasal, pada Tuhan, dan pada masa depan. Bagaimana dulu keluarga kami jatuh, bagaimana ia berjuang, bagaimana kami bangkit pelan-pelan. Ia tak pernah luput menceritakan perihal luka-luka masa silam agar kami selalu ingat bahwa hidup pernah tak berpihak pada keluarga Alam. Agar kami tidak ceroboh dan atau mengulang kegagalan.
 
Sejak seminggu ini saya dilanda resah. Tiba di kampung, saya berencana mengutarakan maksud untuk menikah. Tapi bukankah sudah kuceritakan padamu bagaimana Umiku? Kalau Umi tak setuju, bisa berhari-hari kita mendengar ceramahnya tentang penolakan itu. Sekalipun saya seorang yang tungang di kota Bunda, di rumah, di hadapan Umi, saya tak lebih dari seorang pemuda kalah.
 
Semalam, dengan sisa keberanian yang ada, saya nyata-nyata mengutarakan maksud hati padanya. Tidak gampang. Saya harus memilih kata sebaik mungkin agar apa yang saya sampaikan terdengar tidak lancang. Tak lupa sebelumnya membaca isim Sulaiman agar Umi bisa ditaklukkan.
 
Umi dulunya terang-terangan melarang saya menikah sebab takut saya belum mampu bertanggung jawab pada keluarga. Beberapa kali saya perkenalkan dia dengan pilihan diri, dia hanya berkata,”boleh, tapi tidak sekarang!” Selalu demikian. Dia mengangguk, tapi tidak pernah mengucap setuju. Kalau pun setuju, ada rona berat di matanya mengucapkan itu.
 
Saya sudah berniat menikah muda sejak lama. Tapi petuah Umi mengandaskan keinginan saya. Sebagai pembuktian bahwa saya sudah cukup siap berkeluarga, setiap bulan saya mengirimkan sedikit rezeki untuknya. Umi memang begitu. Cara dia menguji kami selalu dengan menolak yakin bahwa kami mampu. Akhirnya, setelah sekian masa berusaha keras meyakinkannya, hari ini Umi memberi restu. Dia hanya meminta saya untuk lebih serius. Menghemat belanja, menabung, dan memperbaiki diri sehingga Allah pun ridha, katanya. Ketika mendapat restu, kau tahu apa yang ada di kepalaku?
Umi saya sering bercerita tentang menantu. Ia ingin yang mencintainya, dekat dengannya, menjadi anak yang melebihi anak kandungnya. Saya mendapatkan banyak orang yang belum tentu bisa seperti itu. Umi ingin menantu yang mencintai saya, patuh dan tak begini begana, yang selalu menjadi teman akrabnya. Saya mendapatkan banyak orang yang belum begitu adanya. Tapi bagaimana mungkin mendapatkan yang begitu jika kita tidak saling memberi tahu apa yang diinginkan keluargamu dan keluargaku? Well, terpenting sudah ada restu. Selebihnya adalah urusan kita berdua, belajar, menerima, dan memperbaiki keadaan satu persatu.[]
NSA, 2016