Baiti Alam.jpgBait al Alam, telah tiba isyarat semakin dekat kita terpisah-pisahkan kenyataan kehidupan. Pada bilangan sepuluh pertama Ramadan ini, ketika Umi memutuskan suluk dan Apii tak ikut, resmi sudah kita terbagi sejumlah pribadi, terpisah membawa diri. Ayah di peluk Tuhan, Umi di suluk Darussalam, Apii di rumah, Angah Vodjan di Malaysia, dan Abang masih saja terus di Banda. Kita tahu ini akan terjadi. Kelak kita juga akan terbagi. Tapi inilah pertama kali.

Sekalipun tanda awal, kekasihku sekalian, dan kali pertama, kita memang tidak pernah memperkarakannya. Kita sudah terbiasa terbelah, namun terus berkabar tanpa menyisakan celah. Dunia telah sangat sempit. Betapa menyenangkan. Kita tidak lagi dibalut rindu pada wajah sebab setiap hari, jika ingin, kita bisa terus bersipandang.

Semoga selalu dalam kebahagiaan. Jarak mana yang bisa memisahkan orang-orang yang terikat kasih sayang? Kita sedang belajar untuk saling kuat dan menguatkan. Tidak ada yang berubah kecuali kabar Umi yang selalu rindu saja pada sepuluh awal ini dan tidak sahur bersama Apii dengan Umi. Selebihnya, masa silam telah sangat berjasa sebagai guru. Kita sudah sama saling paham sebab sudah sama saling tahu.

Memang seperti inilah yang akan terjadi setahun dua tiga lagi. Kita tidak akan bersama-sama pada banyak masa. Sibuk di rumah masing-masing dengan keluarga masing-masing. Umi akan menghubungi kita setiap ia pulang suluk Ramadan. Atau dengan keluarga masing-masing kita akan menunggunya di kuburan Ayah pada pagi lebaran. Jika biasanya hanya berempat, kelak kita di sana akan berjumlah tujuh orang. Atau mungkin lebih jika lekas kita punya keturunan. Bayangkan, sebelum Umi tiba kita saling bercanda sembari membersihkan kuburan Ayah dari siraman segala daun yang merindang di sana, tapi tidak saling bersalam-salaman. Sebab di rumah kita, salam pertama selalu milik orang tua dan kita sudah membuat adat sendiri, salaman di hadapan pusara Ayah sebab ia masih dianggap ada di dunia ini.

Percayalah bahwa tidak ada seorang pun yang tersiksa dengan segala keterpisahan ini. Juga tidak akan ada yang berbeda meski sudah ada orang-orang baru di keluarga kita nanti. Siapa pun mungkin mampu mengubah kita, tapi ia tidak bisa meruntuhkan Bait al Alam. Rumah kasih sayang dan tumpah ruah canda di hati mereka akan menjadi kerinduan. Sementara terpisah lima, mari saling mendoa. Semoga kubur Ayah berhias lampu surga, semoga ibadah Umi istimewa menurut Rabbana, semoga Angah Vodjan dilimpah tumpah rezekinya, semoga Apii dilapangkan hati dalam menerima pengetahuan agama, dan untuk Abang, doakan semoga tidak ada aral di jalan pengkhataman masa muda.[]

NSA, Darussalam-Ramadhan 1437 H