Cetak Bani Alam FIX.jpgAssalamualaikum, Ayah.

Apa kabar Ayah di surga?

Masih rindu sama Umi? Cieee

Sejatinya kami lebih rindu padamu melebihi rindumu pada kami atau pada Umi sekali pun. Ya, kami terlanjur tahu bahwa cinta Ayah ke Umi bahkan tidak bisa dipisahkan oleh kematian. Buktinya, setiap Umi sakit, Ayah datang ke mimpinya. Besoknya Umi sembuh. Jangan tanya saya tahu dari mana, Ayah. Sejak Ayah meninggal, hanya kami bertiga tempat Umi mengadu, tempat bercerita dan ya, sama seperti dulu, kami juga tempat ditumpahkan sumpah serapahnya jika kami salah berlaku. Tapi untuk kali ini, percayalah, tidak ada yang melebihi rindu kami pada Ayah, bahkan rindu Ayah sendiri kalah besar. Saya berani taruhan. Yang kalah harus mengulang baca Yasin tujuh kali malam Jumat ini. Pakat?

Surat ini saya yang tulis tapi juga mewakili perasaan Vodjan dan Dekvi. Sebagai sulung, tentu saja saya lebih pantas menyampaikan ini kepada Ayah dibandingkan mereka. Saya adalah adalah orang tua/wali untuk mereka hari ini. Seorang yang telah menerima takdir sebagai perisai. Untuk kedua adik saya itu, Ayah, hari ini sayalah yang akan berdiri di depan menghadang serang, menahan pedang. Saya, Ayah. Anak sulung yang engkau panggil “Abang”.

Vodjan sehat-sehat saja. Benar kata Ayah dulu semasa hidup, dia sangat kuat. Jiwanya, tubuhnya, dan semangat dia itu mirip petarung. Beberapa hari ini dia sering mengirimkan pesan di Mule untuk saya, mengajak bernyanyi bersama. Cukup sudah untuk memupus rindu dengannya. Kami masih tidak pernah bertengkar seperti yang Ayah wasiatkan. Bahkan kami masih sering bercanda, seperti yang Ayah ajarkan. Masalah bercanda, Ayah, dan tabiat melucu, kami semua mengikuti bakatmu.

Dekvi juga sehat. Dia sudah mengatur hidupnya sendiri dengan baik. Kami tidak kesulitan mengaturnya. Putri tunggal Ayah sangat paham bahwa kedua abangnya menginginkan yang terbaik untuknya. Dia tidak senakal kami dalam hal mengaji. Di sekolah juga prestasinya lebih bagus dari kami. Pergaulannya baik. Dia sudah pandai berpakaian baik, seperti ditetapkan untuk muslimah oleh hukum Islam. Apalagi? Dia lucu dan sering minta pulsa pada saya. Pada Vodjan dia meminta yang lebih mahal. Begitulah, dia punya dua abang yang selalu menuruti apa yang diinginkan sehingga itu membuatnya lupa pada kenyataan bahwa ia telah tidak memiliki Ayah. Dan paling dia malas saja. Malas masak, cuci piring, membersihkan rumah. Kami sering mencandainya bagaimana dia membawa diri bersama suaminya ketika sudah menikah nanti. Dia tenang saja.

Umi? Sudahlah, Ayah lebih tahu Umi daripada kami. Perkara sekarang Umi lebih banyak tidak bekerja, itu aturan kedua anak lelakinya. Perkara Umi bergelang kalung seperti mimpinya dulu, itu sebab dia punya dua anak muda. Perkara rumah kita yang bangkit, itu sebab dua anak Ayah sudah belajar dari segala sakit. Perkara sekarang Umi sudah lebih gemuk, itu resiko, dulu Umi tak punya istirahat, sekarang kami beri hukuman, Umi harus lebih banyak istirahat dan menikmati kehidupannya. Cuma yang belum berubah adalah cinta Umi untuk Ayah. Masih sama. Kami tidak berani komentar, takut diparang.

Kabar baik dari saya hari ini hanya beberapa saja. Saya tidak semanja dulu, meskipun kalau sedikit sakit langsung telpon Umi. Sekarang, saya sudah berdiri di kaki sendiri. Membantu Umi berdiri. Pelan-pelan satu persatu mimpi telah saya lunaskan. Tinggal sebagian kecil saja yang belum tercapai dan akan segera. Maaf, belum menjadi pegawai seperti yang Ayah inginkan. Tapi saya pastikan itu akan. Saya tidak peduli orang bilang begana begini tentang menjadi pegawai. Dan keputusan itu bukan sebab putus asa atau merasa gagal di bidang yang selama ini saya geluti. Tapi ini demi mimpi Ayah dan Umi. Saya tidak punya mimpi yang terlalu muluk di bagian itu. Bagi saya, membahagiakan Umi dengan rezeki halal saja sudah cukup.

Di antara kebahagiaan saya ketika merindui Ayah adalah ketika bisa dengan terang mengenang bagaimana kami kewalahan mengikuti aturan Ayah untuk membaca surat Yasin dengan cepat tanpa kesalahan tajwid dan makhraj. Adalah ketika mengingat Ayah sengaja datang cepat dan duduk di samping panggung organ tunggal demi dapat melihat saya menyanyikan lagu Rhoma Irama. Adalah saat kita menghambur ruahkan canda di dapur sampai sakit perut kami tertawa. Adalah ketika ingat Ayah tak pernah marah. Adalah ketika kita bersama membaca Al Quran setiap Maghrib di rumah tapi irama mengaji Ayah saja yang tidak mengalun seperti kami semua dan engkau berkilah bahwa itu irama terbaik pada masanya. Adalah ketika Vodjan meminta dibelikan sepatu bola tapi Ayah menawarkan ganti dengan peci saja biar lebih berkah. Adalah, ah, sangat banyak dan  masih sangat banyak yang tidak tertuliskan.

Ayah sangat dekat dengan Vodjan. Sangat akrab seolah-olah sebagai teman. Pada masa lalu saya cemburu. Sampai umi mengatakan bahwa yang membuat kita berjarak adalah kemiripan Ayah denganku. Satu-satunya cara Ayah mencintai saya hanya dengan menciptakan beberapa ruang jarak. Konon, kata orang kampung, anak yang berwajah persis ayahnya memang tidak boleh terlalu akrab. Bintang mereka bertabrakan, demikian disurahkan oleh orang-orang paham. Jika sangat akrab, ditakutkan salah satu dari mereka akan lebih cepat meninggal. Jika yang satu sudah meninggal, satunya lagi akan berumur panjang.

Mestinya, jika dilihat tanda-tanda, sayalah yang lebih dulu akan menghadap Tuhan. Sakit parah waktu kecil, kata saudara-saudara kami, telah hampir membuat saya mati. Sampai-sampai Umi putus asa dan pernah berkata,”rasa-rasanya lebih ikhlas jika Abang meninggal daripada melihat dia berpenyakit separah ini.”

Lalu pada tahun 2007 aku terlibat kecelakaan parah, tabrakan kejam yang merenggut nyawa. Teman-teman sekolah bahkan sudah mengira saya yang khatam. Beberapa malah hendak datang berziarah. Tapi lagi-lagi saya selamat. Ayah adalah satu-satunya orang yang tidak menyudutkan saya dengan kejadian itu. Selebihnya, sampai pada masa saya hendak merantau, mereka tetap menganggapku sebagai biang petaka keluarga kami.

Ayah meninggal pada tahun yang sama. Aku merantau ke Banda.

Di antara kebahagiaan saya setiap rindu padanya adalah saat lekat di ingat beberapa waktu sebelum meninggal, ia sudah mengajariku bekerja agar siap dan kuat. Bahagia betul saya sempat memandikan jenazahnya, bahagia sebab dipercaya mengangkat kerandanya. Bahagia sebab ia sudah mewariskan secara penuh ilmunya membaca Yasin secepat lesat tanpa merusak tajwid dan makhraj.

Tapi di antara penyesalan saya adalah tidak dapat membuktikan pada Ayah bahwa ternyata anak sulungnya yang dikira lemah itu telah sangat kuat. Setiap memegang piala, saya selalu ingin menceritakan padanya. Saya merebut semua mimpi hari ini, semua yang saya khayalkan pada saat masih kecil. Dan pada saat saya telah bisa meringankan kehidupan keluarga, Ayah sudah terlanjur tiada. Dia tidak sempat menikmati hasil keringat kami, padahal ia meninggal sebab mencari rezeki untuk meneruskan denyut jantung kami.

Ketika mengenang Ayah malam ini, hujan turun tipis. Dalam tidur setelah maghrib tadi Ayah tiba dengan hanya berkata, “beudoh ju, ka Isya”.[]