:Untuk Bunda Larasati Sahara972340_1159468544063797_2739175968938184481_n

 

Tuhan tidak menciptakan kata-kata buruk kecuali

kita yang suntuk sendiri telah mencari-cari perwakilan

tumpah buncah kekesalan. Seperti kabar tentang seorang

perempuan yang telah mengikatkan batu-batu di kakinya

dalam dendang ibu tua di suatu senjakala : ia meloncat ke alir

sungai ghairah. Tenggelam. Benam. Lalu, segala kembali ke diam yang diciptakan

 

Tuhan tidak menciptakan waktu yang salah kecuali

kita yang buru sendiri telah mencari-cari berupa alasan

melipir dari hal. Derak jam, enyah hari. Berulang-ulang

kucari perempuan dalam dendang ibu tua: batu-batu yang

dipilih untuk diikat di kaki. Sungai tempat ia menjatuhkan peluk diri

berjumpa tenggelam. Bersua benam. Dipeluk diam. Dan sepi yang tak tertanggungkan.

 

Tuhan tidak menciptakan keangkuhan kecuali

kita melupakan bahwa jalan panjang ia berpangkal

Seorang bajingan telah menemukan hampar sungai besar

beserta batu-batu pilihan. Ia temukan kilah membenam juga

tatacara perempuan dalam dendang ibu tua menjaga setia pada kebisuan

 

Bulan tidak muncul juga, katanya, langit pekat arang

di sebuah padang ia gelar sungai, alir, benam

batu, bisu, dan perempuan dalam dendang

 

NSA. Lhokseumawe, 21 Maret 2016