Big Bos(Catatan Serapahan Tahun Ini)

Sesungguhnya, asal-asalan dan atau salah memilih juri untuk sebuah perlombaan adalah kejahatan besar. Juri yang asal-asalan dan atau salah memilih pemenang dalam sebuah perlombaan adalah kriminal. Dan juri yang baik serta benar adalah ia yang menentukan pemenang dengan dasar pengetahuan dan dasar memang layak menang, bukan sebab ikatan dan lain-lain macam.

(1)

Ketika masih kelas empat SD aku terpilih mewakili sekolah di Lomba Bidang Studi cabang Bahasa Indonesia tingkat gugus sekolah (sekarang bisa disebut: se-Aceh Barat Daya). Ada tiga babak yang harus kami tembus untuk menjadi juara: penyisihan, semi final, dan final. Aku lolos di babak penyisihan dengan peringkat yang tak buruk-buruk amat. Di babak semifinal, ketika juri harus memilih lima pemuncak untuk difinalkan, skor aku berkejar-kejaran dengan siswa perwakilan SDN 1 Blang Pidie. Empat orang sudah dipastikan lewat lebih cepat. Tersisa kami berdua. Pertanyaan selanjutnya hanya untuk kami berdua. Itu benar-benar dramatik.

Aku melihat jam dinding. Pukul empat lewat lima belas menit, lebih kurang. Ketika pertanyaan dibacakan oleh pengaju, kupejamkan mata, mendengarnya dengan seksama.

Kalau sampai waktuku/ kumau tak seorang ‘kan merayu/tidak juga kau/” ucap pengaju. Aku bersiap-siap. Dia melanjutkan,”sebutkan nama penulis puisi tersebut!”

“Anwaaaar!” jawabku cepat. Segera aku melihat ke arah anak SDN 1 Blang Pidie. Dia mengetuk batu (pengganti bel) ke meja. Setengah ragu dia.

“Anwar Chairul,” jawabnya.

Oh, Tuhan, aku lupa mengetuk batu ke meja. Para juri berdiskusi sejenak. Keadaan menjadi lebih tegang. Aku melihat ke luar ruangan, tidak ada satu pun teman atau guru kami. Para juri mengambil keputusan.

“Chairil Anwar! 100 untuk SDN 1 Blang Pidie!” pekik semangat dari juri. Aku ternganga. Tidak percaya.

Keluar dari ruang lomba aku mengadu pada pak Sabirin, pesuruh sekolah kami.

“Anak itu salah. Dia bilang Anwar Chairul, bukan Chairil Anwar. Jurinya jahat kali.”

Pak Sabirin yang juga teungku itu mengusap kepalaku. “Hari Senin nanti bapak kasih kunci pustaka. Kamu baca lebih banyak lagi ya,” nasehatnya.

Di rumah aku kembali mengadu. Sembari mengaduk bumbu gorengan, Umiku bilang, ”wajar dia menang. Jurinya orang Blang Pidie, mana mau dikasih ke sekolah lain!”

Seminggu penuh aku tak tenang. Itu kejahatan juri lomba pertama kali aku temukan.

(2)

Ketika mengikuti salah satu lomba membaca puisi di kota ini beberapa tahun silam, tak sengaja saya mendengar sendiri juri sedang bersepakat bahwa salah seorang peserta harus dikalahkan. Alasan mereka, tidak layak memberi kemenangan kepada seorang yang kerap bermasalah.

“Tapi dia bagus. Lewatkan saja ke final,” ujar salah seorang dari mereka. Aku berdegup di balik dinding rapat mereka.

“Ada yang lain juga bagus. Tidak meloloskan dia kali ini tidak berarti membunuh dia,” tegas juri lain.

“Kau membunuhnya,” jawabku di hati.

“Baiklah, kita kurangi nilainya. Padahal padaku dia tertinggi. Ehehehe”

Mereka tertawa. Mataku menyala.

Itu kecurangan kedua. Mereka mengalahkan seorang berbakat hanya sebab hal-hal di luar bidang yang dilombakan.

(3)

Sekali waktu tahun lalu, dalam sebuah lomba meuh’iem (teka-teki), aku melihat juri juga bertindak tak lazim untuk menentukan juara.

“Dalam budaya kita, saling menghormati itu selalu harus diutamakan, Zar. Maka dia kami kalahkan. Dia tidak menghormati lawannya,” kata salah seorang juri padaku.

“Tapi dia menang kemarin, Cutbang. Menang telak. Hiem dia tak tertebak satu pun, dia menebak hampir semua hiem lawan. Lagian dalam tindak sehari-hari, ketika meuh’iem, kita juga boleh membuyarkan konsentrasi lawan. Itu salah satu trik. Dan bisa jadi itu bagian dari candaan dia untuk sekedar menghibur,” aku membelanya.

“Beda. Ini lomba, semua harus saling menghormati.”

“Ya, Cutbang. Sebab dalam lomba mana pun di dunia ini, kita selalu akan menang ketika bisa menghormati lawan. Betapa mulia segala lomba. Tapi saya tidak melihat Australia dikalahkan oleh wasit atau asosiasi sepakbola mana pun setelah mencetak 31 gol tanpa balas ke gawang Kepulauan Samoa. 31 gol itu tanda mereka tidak menghormati lawan, kan? Orang-orang di sana lebih logis dan mereka tahu bahwa yang mencetak gol adalah pemenang, Cutbang. Tapi di sini, seorang yang menghormati lawan Cutbang menangkan atas seorang yang telah mencetak gol. Menyedihkan!” saya marah hari itu. Dan sampai sekarang kami tak pernah lagi bertemu. Jika pun bertemu, saya tidak akan menghormati dia lagi. Sebab saya tidak berniat menjadi pemenang gegara bisa menghormati juri curang.

(4)

Ketika dipercaya menjuri tingkat provinsi, saya melihat banyak sekali duta-duta kabupaten asal jadi yang dikirim ke sini. Bisa kau tanyakan pada teman yang sekaligus guru saya, Budi Arianto. Ada salah satu kabupaten yang notabenenya dianggap tanah seni, tempat pembaca puisi terus berbenih, malah mengirim duta yang mengecewakan. Dia sama sekali tidak sedang membaca puisi, melainkan membaca biasa. Sangat biasa sehingga seperti baca koran, atau, entahlah.

Aku segera membayangkan bagaimana bisa dia terpilih? Siapa yang memilih? Juri, kan? Iya, juri. Juri di sana. Siapa juri di sana, merekalah yang salah. Adik ini tidak bodoh dan tidak pula bisa kau sebut tidak berbakat. Dia ikut berkompetisi dengan segenap kemampuannya. Tapi juri yang tolol telah membuat dia terlihat gagal di hadapan orang-orang pilihan dari belahan kota lainnya.

Bukan hanya adik itu, banyak lagi korban lain. Tidak hanya di tanah itu, banyak tersebar di tanah lain. Tidak hanya kali itu, tapi banyak kali yang lain. Ini kejahatan. Imbasnya bukan hanya membuat malu kampung kita sendiri, bukan hanya selalu gagal di tingkat yang lebih tinggi, tidak hanya membuat anak itu merasa buruk sendiri, tapi ini juga akan merusak generasi bangsa yang mestinya layak menang dan berpotensi.

Ketika kau terpilih menjadi juri, dan sikapmu nepotis, kau (padahal) tak paham tapi sok paham, lalu salah memilih pemenang, itu artinya kau sudah membunuh beberapa benih berbakat yang mestinya tumbuh besar dan berkembang. Menjuri tak cukup dengan sok-sok pintar lalu mendapat honor, bajingan! Tapi kau sedang berhadapan dengan masa depan bidang yang kau jurikan. Dipercaya menentukan siapa yang layak menyelamatkan muka bangsamu pada masa kemudian.  Sekian!

NSA, Darussalam, 14 Maret 2016