DVenco 1ik, sudah tengah malam dan aku terjaga. Dari jendela kamar kutemukan bulan sesabit senyummu. Warnanya jingga tipis. Aku memandangnya yang sendiri. Barangkali adaku mengandaskan ia dari sepi. Maka, bulan itu mengirimkanku ilham ini. Ingin kujadikan puisi, tapi puisi terkadang sulit dimengerti. Ingin kujadikan prosa, tapi tak cukup syarat menjadikannya. Bisa saja kutulis dengan bahasa yang manis, tapi kau tahu, tak semua orang menyukai manis. Maka ini kutulis apa adanya. Seukuran bisa dicerna oleh lambung pikiran siapa saja. Percayalah, ini kutulis untukmu. Sekedar mengingatkanmu dengan sebuah amanah yang fardhu.

Dik, kita tidak pernah bisa menerka hidup. Tuhan telah menulis takdir kita sebaik mungkin sampai awal bersua akhir. Bayangkan saja, kita tak pernah berencana bertemu tapi kemudian bertemu. Saling berbagi dan mencintai, saling tak membiarkan jatuh. Kau jahit sayap-sayapku, kubawa terbang kamu. Dan itu, serta segala yang kelak akan terjadi, telah ditulis di suhuf takdirku: di suhuf takdirmu. Sebab juga Tuhan mempertemukan kita untuk saling menyelamatkan, maka kita harus saling menyelamatkan. Sebab juga Tuhan mempertemukan kita untuk sebuah perjalanan, maka kita harus saling menambah bekal. Ini bekal untukmu sebelum kita memulai sebuah perjalanan hidup yang sah, dariku yang lata dan rabun betul tentang perjalanan menuju Tuhan yang maha indah.

Dik, lintasilah segala nusa jika kau mau. Tapi sebagai perempuan, kelak nusamu hanyalah aku dan anakmu. Engkau hanya wajib menjadi istri dan ibu. Jika kau mengetahui dengan baik tentang agamamu, kau akan senantiasa menerima takdir itu. Sebab takdir sebagai istri dan ibu adalah takdir menuju nusa yang indah, syurga yang megah. Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan nusa bagi perempuan di tempat paling istimewa. Jika kau mengetahui dengan baik agamamu, kau akan ke nusa itu. Maka, tunduk dan berbaik-baiklah dengan takdirmu. Kau tidak pernah meragukan janji Tuhan, bukan? Hanya dengan menjadi istri dan ibu saja, tempatmu di akhirat telah dijamin penuh keindahan.

Dik, jadilah nakal dan ugal demi agar kau punya kenangan. Kita mulai berbicara lebih dalam. Sebagai ibu, kau tidak akan bisa membanggakan diri pada anak-anakmu tentang seberapa lelaki kau taklukkan, seberapa banyak perhiasan kau dapatkan, seberapa pandainya engkau memiliki kekuasaan. Kecuali jika kau hanya ingin mengisi dunia di piring anak-anakmu untuk mereka santap. Sebagai ibu, kau lebih bagus mengisahkan pada anak-anakmu seberapa pandai kau di sekolah, seberapa baik akhlakmu masa lalu, seberapa berimannya dirimu sehingga bisa kau ubah aku—ayah dari anakmu—yang dulunya bangsat dan tak pernah tunduk, dan atau seberapa bagusnya tilawahmu yang oleh sebab itu (entah bagaimana sekali waktu bisa kudengar) membuatku jatuh cinta padamu. Dunia sudah sangat buruk, dik. Jangan kita tambah dan terlalu ikut. Kita akan mati, anak-anak yang paham agama akan menjadi penyelamat sejati.

Dik, belajarlah agama. Sebab kau tahu aku tidak banyak memahaminya. Dan sebab engkau adalah madrasah pertama yang sesungguhnya bagi anak-anak kita. Darimu mereka akan mengetahui perihal wudhuk dan shalat, perihal sedekah dan zakat, perihal sifat baik dan laku jahat. Jika kau menjadi madrasah yang baik, baiklah anak-anak kita. Engkau yang menjadi batang-daun-dahan dan mereka putik ke buah. Sedang aku hanyalah akar yang senantiasa menjaga kalian berdiri dan mengirim zat-zat baik dari pergumulanku di bawah tanah. Dan dari engkau yang madrasah, aku bermimpi, anak-anak yang kau asuh dengan baik berebut menjadi imam ketika tubuhku hanya jenazah.

Dik, belajarlah membaca Al Quran dengan fasih agar bisa kau ajarkan anak-anak kita mengeja ayat Tuhan dengan sahih. Jika kau berhasil, betapa bahagianya kita. Tak ada yang lebih indah selain mendengar anak-anakmu mengaji dengan merdu setiap maghrib, atau jika ia sudah baligh, kita akan mendengar suaranya melantunkan azan di masjid. Ketika kita mati, ia akan mengirim doa-doa syahdu. Kau tahu, doa yang dibaca anak-anak kita dengan merdu akan menjadi sungai tempat arwahku dan arwahmu mandi dan berwudhuk.

Dik, jadilah istriku yang baik. Jika aku salah, tunjukkan arah. Sesungguhnya ucapanmu adalah suluh terhadap hidupku yang malam. Jika aku benar, ikuti dan janganlah melawan. Sesungguhnya aku hanya ingin engkau menjadi yang terbaik bagiku, tercinta bagi anak-anak kita, dan terindah di mata Tuhan.

NSA, Agustus 2015