DuaSatu yang tidak pernah berubah sekalipun waktu berkitar adalah segala yang ada di dalam hari Jumat. Pagi berbinar (coba kau ingat-ingat, berapa kali kau temukan Jumat yang hujan selama hidupmu, aku yakin jarang sekali), setiap pukul 11 siang di masjid-masjid akan diputar ceramah KH. Zainuddin MZ lalu disusul suara H. Muaammar ZA melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, kau mandi siang (ini mandi siang satu-satunya, sebab siang yang lain tidak disunnahkan mandi), ke masjid membawa recehan, jalan kaki agar lebih banyak pahala,mengantuk di sela khutbah (beberapa malah tertidur dan mendengkur), dan mencari tempat duduk paling strategis untuk mengamankan diri dari awasan para teungku.

Tempat duduk paling strategis dalam masjid setiap hari Jumat adalah di dekat tiang. Sebab jika nanti mengantuk, kau akan bisa tidur santai dengan punggungmu kau sandarkan di sana. Kami berlomba-lomba cepat datang ke masjid hanya untuk berebut tempat strategis itu. Atau tempat lainnya adalah rapat dengan dinding masjid dengan alasan yang sama. Untukku, sengaja kupilih di ujung paling kiri, sebab Ayah biasanya duduk berselang dua tiga jamaah di dekat dinding sebelah kanan.

Jika nasib sedang tak berpihak, kau akan mendapatkan tempat duduk di tengah masjid, celaka dua belas jika tanpa sengaja kau terpaksa duduk berdampingan dengan guru mengajimu. Di sanalah kau harus melawan kekuasaan setan yang bergelantungan di bulu mata. Semakin lama, semakin berat, dan menjemukan. Kau menahan kantuk dan nguap hingga matamu berair. Sebab sedikit saja tingkah salahmu terdeteksi, semalam suntuk nanti kau tak akan tenang mengaji. Dipandang satir oleh teungku adalah hukuman yang buruk tak terperi.

Jika hari Jumat tiba, aku tidak bisa bermain-main lebih lama di sekolah atau berlalai-lalai pulang. Umi akan menjemputku dengan sepeda biru Cutlot Awi. Demi menghindari amuk marah Umi dan menjauh dari malu pada teman sekampung sepermainan, aku selalu pulang cepat. Tiba di rumah segera mandi dan memakai pakaian rapi. Setelah siap, aku dan Vodjan akan menemui Umi. Disampirkan beberapa keping uang seratus rupiah di saku baju kami. Di masjid, aku sering meletakkan uang itu di bawah tikar, bukan di kotak amal. Itu setelah kubaca sebuah buku agama dan mendengar ceramah teungku-teungku yang mengatakan bahwa bersedekah lebih baik tanpa memamerkan pada banyak orang. Ketika meletakkan kepingan seratusan rupiah itu di bawah tikar masjid, aku menyembunyikan tangan kiri ke balik punggung. Sebab seperti kata teungku, sedekah yang baik adalah ketika kau memberi dengan tangan kanan tanpa diketahui oleh tangan kiri.

Sepanjang masa kecil aku dan Vodjan tinggal di rumah Nekgam. Jumat adalah hari pulang. Sekalipun rumah Nekgam dan rumah keluarga kami hanya berjarak 50 meter, tapi kami jarang pulang ke rumah sendiri. Paling datang setiap pagi ketika meminta jajan sekolah atau siang ketika meminta uang untuk membeli lotre dan kue-kue. Atau jika Umi berjualan gorengan, kami akan pulang setiap sore sebentar, untuk mengambil jatah sepotong goreng pisang. Secara utuh, keluarga kami jarang berkumpul. Maka Umi selalu saja (setiap Jumat) memasakkkan kami gulai-gulai spesial: gulai talas, pakis, kepala ikan, gulai jantung pisang, goreng jantung pisang, gulai kacang panjang campur ikan asin, dan apa pun masakan kesukaan kami yang lain.

Sembari menunggu dihidangkan, Ayah akan mengulang khutbah teungku dan memperingatkan kami lebih detail tentang apa-apa yang disampaikan tadi. Kami akan tiduran di dapur setelah makan, bercanda dengan Ayah yang selalu mampu membuat kami sakit perut dan rahang akibat tertawa tak berhenti. Dapur rumah kami luas, tanpa meja makan dan hanya berlantai semen dilapisi tikar anyam daun pandan, dan dinding papan yang beberapa bagian sengaja dipasang jarang-jarang. Di sanalah setiap Jumat, rindu dan lelah kami tumpahkan.

Jumat ini, sejak semalam, aku merindukan Ayah, rindu rumah, rindu suasana Jumat ketika kecil di mana kami berkumpul lengkap di dapur mendengar ulasan khutbah dari ayah, menikmati makanan spesial racikan tangan Umi, dan tertawa dengan kelucuan Ayah yang tak pernah garing.[]

Alue Naga, 14 Agustus 2015