Sekaum semut menu20141007_152051~2rut cerita Neknongku memang suka bermain-main di tepi alir air. Barangkali sebab mereka kerap mencuri remah roti yang jatuh dari tanganmu, sehingga mungkin jika anak-anak mereka mungkin tersedak dengan mudah mereka dapatkan pemudah lulus makanan itu.

Ketika sudah dewasa, kau mandi setiap hari dengan menyalakan keran air demi memenuhi bak. Air yang penuh tumpah ruah dari bibir-bibir tampungan lonjong berkotak, jatuh dengan gebu ke lantai tua keramik biru, mengalir menyusur kehendak takdir: semakin merendah, semakin tabah. Kau angkat gayung sembari masyuk bersenandung. Kidung sukacita atau lagu-lagu dangdut aneh yang akhir-akhir ini tak bisa ditolak hinggap di telinga: aku mah apa atuuhh…bla bla bla dan semacamnya.

Di pinggir corong air pembuangan, sejak keran itu kau putar, sekaum semut sudah menyerahkan diri mereka kepada takdir alam. Mereka berdiri menatap bibir bak yang memuntahkan bongkah air sembari berdoa agar takdir sedikit berbaik hati pada anak-anaknya yang masih kecil. Kepala kaum mereka serta beberapa lelaki berputar-putar mencari celah keluar dari bah yang kau alirkan agar bisa membawa lari para semut lain yang tak seberdaya mereka. Seolah-olah, lihatlah, mereka ingin menembus himpun air yang deras. Membelah alir itu seperti yang pernah dilakukan Musa.

Beberapa lelaki mereka hanyut dalam upaya penembusan, terbenam di kedalaman tak terbayangkan setiap engkau selesai membersihkan badan. Para wanita mereka menghambur keluar beberapa jenak setelah keran air kau putar matikan. Ketika tak ada lagi yang mengalir, mereka mencari lelakinya yang telah berjuang menyelamatkan takdir.

Sore ini kau tidak ingin mandi. Hanya cuci muka dan duduk sekian lama di atas mulut WC yang bersahaja. Keran yang terlanjur kau hidupkan demi menyamarkan jerit angin perutmu menumpahkan air yang penuh, tumpah ruah dari bibir-bibir tampungan lonjong berkotak, jatuh dengan gebu ke lantai keramik biru, mengalir menyusur kehendak takdir: semakin merendah, semakin tabah. Sembari menghayal, matamu menatap sekaum semut yang kelimpungan. Alir air yang hampir menenggelamkan kampung mereka melaju lekas dan kejam.

Dengan tangan kanan tetiba kau jangkau keran air, lalu kau putar matikan. Tak ada lagi yang tumpah. Alir air pelan-pelan menyusup ke corong buangan. Sekaum semut yang sudah mempersiapkan diri hijrah dari kemungkinan kematian menghentikan langkahnya. Mata mereka memandangmu tak percaya. Bagaimana mungkin bandit air sepertimu yang dikenal buruk dan kejam di rumah ini bisa melunak demi menyelamatkan kehidupan kaum mereka?

Sebagai wujud terimakasih, sebab sadar suara mereka tidak pernah bisa kau dengarkan, semut-semut itu segera berwudhuk pada sisa air yang tumpah dari bak. Mereka serentak shalat sunat demi mendoakan agar Tuhan memberi balasan setimpal atas perlakuanmu. Sebelum doa-doa itu ditutup, sang imam semut yang suka bercanda itu mengucapkan doa paling nakal,”oh, Tuhan, semoga laki-laki yang telah menyelamatkan kami ini segera selesai kuliahnya. Semoga cepat  dapat kerja setelah wisuda. Semoga berjodoh dengan perempuan pilihan hatinya!”

Jamaah semut tulus lahir batin serentak menjawab,”amiin!”

NSA, Alue Naga Juni 2015