Big BosAku hanya menyampaikan ini padamu, Zu. Tak perlu kau adili.

Malam itu, tepat pukul nol. Dibakarnya setengah batang lilin sisa mati lampu. Dengan suara tipis ia nyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk kekasihnya yang jauh. Dia sedang pengecut dan bodoh. Bagaimana mungkin hanya untuk sebuah perayaan kecil saja tak mampu ia pikir. Lelaki terburuk adalah yang tidak paham tatacara memberikan kesan pada saat-saat vital. Lelakimu seperti itu. Basti. Bastimu, Zu. Dia benar-benar harus segera disadarkan dari kebodohannya membuat sebuah perayaan. Dan tolong ajari pembunuh celaka itu menjadi sedikit lebih  romantis.

Masih pukul nol. Dia mendengar suara daun patah di samping rumah. Didekatkan telinganya ke dinding beton tua yang sudah berlumut. Ya, suara daun patah. Semakin banyak daun patah. Suara itu menyerbu semakin dekat dan mengalir semakin luas. Di sekeliling rumah sembunyi itu. Masih pukul nol. Daun-daun tidak lagi patah. Namun, keletap kokang senapan begitu cepat terdengar. Keletap itu melingkar dan rapi.

“Bangsat, anjing mana yang bisa mengendus tempat ini?” bisiknya dalam hati. Basti menyelesaikan lagu Selamat Ulang Tahun lalu meniup lilin. Rumah itu gelap. Pekat sama sekali. Ia raih baju dan pistolnya. Tanpa takut ia keluar dari rumah sembunyi. Menyerahkan diri.

***

“Mestinya pasukanmu menembakku semalam, Tu Sem. Tidak perlu mereka bawa aku ke meja ini seolah-olah aku pencuri kampung,” ucap Basti sesaat setelah azan Subuh. Bastimu, Zu, tenang.

“Aku butuh pembunuh licik sepertimu. Sore ini kamu harus membunuh Zu. Dia sudah kembali ke kota ini semalam. Kamu satu-satunya yang masih bisa kupercaya sekalipun sudah beberapa kali berkhianat!” perintah Tu Sem sembari memutar-mutar pistol di tangannya. Pistol Basti.

“Kau memberikan ruang aku lari lagi?”

Tu Sem tersinggung.

“Bagus sekali. Kalau kau lari, maka kami sudah menghabisi dua anak nakal sekaligus.”

“Jangan berikan celah untuk kubergerak, Tu Sem. Satu tapak Basti melangkah lebih dari padamu, maka kau hanya bisa meratapi kesalahanmu, lalu melihat-lihat fotoku. Rindu!” ancam Basti. Matanya tetap pisau.

“Sudah pandai mengancam, Bas?”

“Sudah pernah kau kuancam dan kubuktikan kata-kataku, Tu Sem. Kau mau memberi kesempatan untuk kubuktikan lagi?”

“Kau harus membunuh Zu!” pekik Tu Sem sembari menghantam meja.

“Setelah membunuhmu.”

***

Kelak Tu Sem akan tahu bahwa yang selalu meloloskanku dari upaya dia membunuh adalah seseorang yang paling ia cintai. Saat itu dia akan mati karena serangan jantung, barangkali. Atau mungkin bunuh diri.

“Apa susahnya hanya membunuh Zu, Basti? Kau akan mendapat bayaran besar dan tempat paling empuk di kelompok Tu Sem,” sasar pemuda berambut pirang, Johan. Dia yang mengemudi. Sedangkan aku duduk di sampingnya, menghadap padanya. Johan adalah anak tunggal Tuan Sulaiman, atau, ya, Tu Sem.

“Bagaimana kalau aku menyuruhmu membunuh Amily?”

Mendadak wajahnya puas. Senyum Johan khas anak muda bahagia mendapatkan jawaban orang yang dikaguminya.

“Bas, bagaimana bisa kau berani menantang ayahku hanya demi Zu?”

“Ada yang lebih berani dariku, Jo!”

“Zu. Dia bahkan nyata-nyata lari dari misi pembunuhanmu, lalu menyelematkanmu, lalu datang kepada Ayahku dengan beringas…”

“Zu datang kepada Tu Sem?” aku tidak pernah tahu ini.

“Zu yang telah membuat ayahku pincang sampai hari ini. Dia menembak lutut Tu Sem. Mungkin penting kau tahu, dia mengatakan pada ayahku bahwa menyuruhnya membunuhmu sama dengan meminta bunuh diri. Dia mencintaimu, Basti,” jelas Johan antara kagum dan dendam.

Johan pasti akan mencari Zu atas dendam itu. Tapi aku tidak akan membunuh Johan saat ini. Aku akan menyelamatkan Zu, lalu membunuh Tu Sem. Membunuh Tu Sem melalui Johan. Ini permainan yang sedikit nakal, memang!

NSA, Alue Naga. Juni 2015