481209_156442537853256_1181789195_nSurat untuk Zu dari Amily

Benam matahari yang kau temukan sore tadi, Zu, ketahuilah bermakna luka. Cahaya senja yang kesumba menyala adalah isyarat akan menemui ajal salah satu orang bernama, kata orang tua. Begitulah. Sore tadi, keputusan atas nasib Basti, kekasihmu, sudah titik.

Basti sudah ditangkap oleh komplotan Tu Sem, aku yang membawa mereka menjemputnya. Bastimu, ketika kami temukan sedang tidur di sebuah gudang rumah perempuan tua yang telah menyelamatkan dia tempo waktu. Orang tua itu sudah diamankan oleh Tu Sem, aku tidak tahu bagaimana nasibnya. Tapi mesti kau tahu satu hal, Zu. Beruntunglah aku ikut menjemput Basti. Kalau tidak, barangkali kau memerlukan sepuluh atau dua puluh tahun lagi untuk mengetahui di mana tulang-tulangnya kami benamkan.

Dia sedang sakit: malarianya kambuh. Kupikir kamu ada di sampingnya di saat-saat seperti itu. Atau mestinya kau buat dia sadar bahwa aku sangat mencintainya. Aku akan selalu bersamanya, menjaga, dan tidak pernah meninggalkannya seperti kau lakukan saat ini. Ketika para pembunuh ini tiba, kekasihmu tidak bisa memberikan perlawanan sedikit pun. Dia membuka mata tepat saat seluruh ujung senjata mengarah ke badannya. Dia bangun pelan-pelan, meraih baju jaket yang kau berikan–aku tahu itu sebab dia pernah katakan padaku.

“Jangan pakai baju itu!” bentakku. Matanya menghardik tajam ke mataku. Untunglah aku memakai burqa. Dia pasti tidak tahu.
“Dalam sebuah upaya pembunuhan, kamu tidak boleh mencintai siapa pun, Amily. Apalagi orang yang akan kau bunuh,” ucapnya tenang. Sial, dia mengenal suaraku. Dan suaranya, Zu, bariton. Jika kau di posisiku, akan kau rasakan bagaimana darahmu berdesir mendengar suara itu. Akan kau rasakan bagaimana penyesalan sebab telah mengganggu ia istirah. Akau menyesal sebab harus memaksa dia bangkit dalam keadaan sakit.

Dia kesulitan bangun. Seorang dari kami membantunya. Dia tersenyum ke arah pemapahnya itu. Sang pemapah nampak kelimpungan, seperti salah tingkah. Basti merebahkan kepalanya di bahu lelaki yang memapahnya, lalu membisikkan sesuatu. Lelaki itu melihatnya sejenak, tapi tidak berkata apa-apa.

***

Basti menulis surat terakhir. Dialamatkan untukmu, Zu. Aku telah menyelamatkan dia dari kematian yang buru-buru, tapi dia mengingatmu. Setiap malam aku merebahkan selimut ke tubuhnya yang menggigil, menyuapinya sarapan, menjaga obatnya. Tapi di ambang kematian, dia tidak menyebut sekali pun namaku. Aku akan membunuhnya, Zu.

Ini potongan surat Basti. Sengaja kupotong sebab muak kubaca yang lainnya…

Zu, kemarin aku bermimpi dijemput dengan tangisan keluarga. Aku tidak melihatmu di antara mereka. Padahal aku mengharapkannya. Tapi itu hanya dalam mimpi. Di dunia nyata, aku yakin semuanya akan berubah. Kau pasti akan menjadi orang pertama yang datang menjemput mayatku, kan? Dengan keberanian melebihi perempuan mana saja kau tiba meraih tubuhku yang lata. Aku berharap kau menangis melihat penderitaan dan penyiksaanku. Sebab tangisan perempuan menatap luka kekasihnya adalah cinta yang sudah tak bisa disampaikan dengan kata-kata…

Basti

***

Zu, besok Basti akan dihukum mati. Aku akan menjadi salah seorang pengeksekusi. Kau paham bagaimana sakitnya membunuh orang yang sedang dicintai, kan? Tapi posisi kita berbeda, Zu. Kamu tidak jadi membunuhnya malam itu sebab kau mencintainya dan dia mencintaimu. Aku? Dia hanya mencintaimu.[]