10409626_687105308037447_6819970628352958718_n (1)Bagaimana jika semuanya kita bolak-balik sesuka hati? Misal baik adalah buruk, buruk adalah samar-samar, terang adalah hitam, dan gelap adalah cahaya, kita tukar semuanya. Cobalah. Saya akan berbicara tentang hal yang sangat perlu. Tentang kebencian. Mulailah mencoba, bagaimana kalau saya adalah kamu atau kamu adalah seseorang yang sama sekali kita tidak kenal atau bagaimana sebaiknya menurutmu? Ini saya tulis untukmu. Mulailah ajak kepala kita bekerja membolak-balikkan semuanya.

***

Tiba-tiba kamu melakukan hal yang tepat untuk menyelamatkan saya dari kegilaan total. Membawa saya ke hamparan tanah yang asing penuh lumut hijau dan merah dihantam cahaya merekah. Segalanya terasa buru-buru berubah. Selama gila dulu pikiran saya dipenuhi pendar biru, semakin lama semakin biru, tapi tidak menggelap. Warnanya biru yang semakin biru, tidak memekat, tidak. Hanya biru. Biru belaka. Tapi semakin. Ah, kamu paham, kan? Meskipun tidak mutlak selalu biru, tapi saya merasa warna tersebutlah yang sering menguap di kepala membentuk awan atau kadang seperti gulali. Tapi tidak, memang seperti awan. Awan yang tidak rumit. Tidak terlalu berbuntal. Begitulah. Biru. Seperti awan yang tidak rumit. Di kepala saya.

Di kepala: saya merasa kepala saya hanya memiliki sekisar enam atau tujuh urat saja. Baik, tujuh urat saja biar ganjil. Tujuh urat itu persis seperti tujuh pohon kecil yang akarnya kuat. Kamu punya pohon yang bisa kita jadikan tamsil? Saya lebih sepakat kita umpamakan seperti rotan. Tunggu dulu, apakah rotan termasuk jenis pohon? Anggap saja pohon. Atau rotan saja? Menurutmu urat di kepala saya lebih bagus diumpakan sebagai pohon atau rotan? Ups, saya lupa, tidak boleh lagi ada kata “menurutmu” atau “terserah kamu”. Semua menurut saya. Saya memilih rotan. Tujuh urat di kepala saya itu persis seperti tujuh rotan yang akarnya kuat. Akarnya ada di hati saya. Apakah pucuk rotan yang saling terjalin rumit itu atau akarnya yang menentukan semua perilaku saya atas penerimaan kesembuhan terhadap gila yang terlanjur saya nikmati? Saya belum bisa pasti. Tapi yang jelas ada tujuh urat di kepala saya. Saling terjalin. Rumit. Berakar di hati.

Di hati: saya telah merasa ia menjadi laut tempat bermakam matahari Maghrib. Lebih tepatnya hati saya adalah laut yang Maghrib. Kamu pernah menyangka bahwa sembuh dari gila telah membuat saya sengsara? Atau mungkin memang begini adanya. Tiap luka yang mau sembuh benar akan terasa sakit benar. Saya belum terbiasa saja menerima kewarasan. Hati saya terluka sebab terlalu percaya hidup dalam kegilaan akan memberikan ketenangan. Ya, saya memang merasa tenang. Tapi nampaknya kamu tidak betah dengan ketenangan yang sering. Ini terlalu monoton. Kamu perlu ledakan. Saya tidak lagi bisa meledak. Sebab meledak adalah waras. Dan waras. Apa yang indah dari kewarasan? Hati yang selalu patuh tanpa merasa terluka, bagaimana bisa? Tidak, saya tidak akan menerima kewarasan dan ketenangan. Saya menyukai goncangan di hati saya oleh sebab rotan tadi dihempas-hempas prahara.

Prahara: kamu salah telah menyembuhkan saya dari gila.