20141007_152400Mati lampu ketika kami kecil adalah keadaan yang sangat disyukuri. Teungku akan meniadakan pengajian Alquran, diganti dengan belajar doa sembahyang dan atau surah hukum-hukum agama oleh abang atau kakak angkatan. Tidak dalam keadaan membaca Alquran kamu boleh duduk suka-suka, boleh bercanda bisik-bisik. Kamu boleh menjahili teman serta tentu saja tidak akan begitu takut kalau-kalau tidak mau begitu peduli pada apa yang disampaikan pengajar muda pengganti Teungku.

Mati lampu waktu kami kecil juga berhasil menghapus strata pengajian untuk sementara waktu. Tidak ada beda anak Aleh-Ba/Juz ‘Amma (pengaji tingkat dasar di tempat kami tidak membaca kitab Iqra’), Quran kecil (tingkat dasar), Quran besar (tingkat menengah/sedang dibersihkan bacaan kajiannya). Semua duduk bersama, berhimpit-himpitan, bersinggung-singgungan, sentil-sentilan. Barangkali hanya anggota tujuh (tingkat fasih dan kerap dibawa mengaji di lomba atau acara) itu yang sedikit menyombongkan diri dengan duduk teduh di depan, begitu takzim seolah-olah mereka adalah kaum tekun sekali belajar. Kita tidak boleh terlihat lalai di tantang mata mereka. Sebab kekuasaan penuh atas hukuman anak-anak mengaji, Teungku berikan juga pada orang-orang ini.

Jujur saja aku memang bukan seorang murid yang rajin mengaji. Dan bersebab tempat kami mengaji sudah menggunakan lampu, jadi tiap mendung datang dan atau hujan tipis tiba aku selalu berdoa agar lampu mati sejak sore sampai pukul delapan malam, setidaknya. Agar dibolehkan oleh Umi tidak mengaji dan agar dapat menonton film-film di parabola yang adanya masih sangat jarang di kampung kami. Tapi Tuhan hampir tak pernah mengabulkan doaku saat itu. Aku sering kesal.

Penderitaan kami bertambah-tambah sebab Umi selalu memaksa aku dan adikku mengaji meskipun hujan lebat pekat, kilat menjilat-jilat, guntur ketam-ketum. Belum lagi jika mengingat di parabola selalu ada film-film bagus dari pukul empat sore sampai pukul delapan malam. Film berkelahi, pakai pedang, panah, kuda. Bila kesal atau malas, satu-satunya harapanku agar bisa tidak mengaji adalah mati lampu. Sialan, PLN terlalu baik pada warga saat itu padahal aku yakin mereka tidak berdoa agar lampu terus hidup. Bisa jadi juga sebab lampu di rumah-rumah warga hanya sebagai pelengkap, bukan suatu hal yang paling penting. Belum banyak pemakainya.

Orang-orang kampung kami masih menanak nasi dengan kayu di tungku. Jika mau menonton, cukup membeli sebungkus kerupuk di rumah pemilik parabola, lalu masuk dan menonton sepuasnya. Harga kerupuk masih 50 rupiah. Maka tiap hari Sabtu aku tidak jajan di sekolah, bersebab harus menabungnya untuk menonton Power Rangers sampai Wiro Sableng besok harinya.

Doaku setiap siang hari selalu saja sama, “semoga mati lampu sore ini sampai pukul delapan malam nanti, ya Tuhan!”

Pernah sekali dua Tuhan mengabulkan doaku. Sungguh suatu yang tidak tergambarkan kebahagiaannya. Diam-diam aku menyombongkan diri dan berterimakasih kepada-Nya.

Perihal doa, aku sering bertanya pada Nekgam, apakah semua doa akan terkabul? Ya, katanya, (seperti yang saat ini kita ketahui) hanya saja kadang doa tersebut diganti pengabulannya dengan yang lebih tepat atau ditunda kabulkan dan akan diberikan pada saat yang tepat.

“Doaku sangat tulus. Aku memanjatkannya setiap selesai shalat Zuhur dan Asar. Apakah akan ditunda atau diganti, Nekgam?”

“Mungkin saja. Berdoalah terus menerus, yang baik-baik, nanti akan dikabulkan!” jawab Nekgam sembari terus meraut lidi untuk membuat sapu yang akan dijualnya ke Blang Pidie.

Aku senang sekali mendengar jawaban Nekgam. Maka setiap hari ketika masih mengaji, terserah bagaimana pun cuaca, aku tetap berdoa, “semoga mati lampu sore ini sampai pukul delapan malam nanti, ya Tuhan!”.

Sebab sering kali doaku tidak terkabul, aku mengajak beberapa teman berdoa bersama. Bukankah doa berjamaah lebih besar kemungkinan pengabulannya? Bahkan kami dengan khusyuk setelah wudhuk berdoa, “semoga mati lampu sore ini sampai pukul delapan malam nanti, ya Tuhan!”. Sialnya, doa kami terlalu sering tidak terkabulkan.

Ternyata benar kata Nekgam, doa yang baik jika tidak langsung dikabulkan ia akan ditunda. Setelah sekian lama menunggu, baru saja salah satu doaku dikabulkan Tuhan sore tadi. Tepat, sampai pukul delapan malam ini. Sempurna!

(NSA, Alue Naga 2015)