481209_156442537853256_1181789195_nSemalam melalui telpon Ibuku berwasiat sangat panjang, Zu. Kutaksir ia baru saja menonton film kerajaan yang bagus sehingga ceritanya begitu filmis dan monarkis. Ibuku memang pandai berkata-kata. Dan aku mahir betul menghayal. Maka ketika suaranya dan pendengaranku bersua, beginilah ceritanya…

“Berhentilah berperang sementara waktu, Bas. Sebab saat ini menuju medan laga adalah pilihan terburuk untukmu. Kau ksatria yang selalu menjadi ancaman armada perang mana pun. Ibu takut jika kelak kau menang, sehimpun orang kalah dan sebangsa pengecut akan bersatu menyerangmu. Lagi pula, saat ini Ibu hanya berharap kamu bisa menyelesaikan tugas mengamankan mahkota hitam milikmu yang masih belum jelas disembunyikan di mana itu. Untuk Ibu. Saat ini, kau adalah ksatria Ibu dan tentu saja ksatria, aduh, siapa nama kekasihmu? Oya, Zu. Kamu ksatria Ibu dan Zu,” petuah Ibu padaku dengan suara sayup-sayup.

Ibu sedang membujukku. Tentang gelar ksatria yang diberikannya sungguh sangat menyiksa. Kau tahu, aku sedang berada di tiga perang. Dan pada perang itu Ibuku bilang, “jangan menang. Kamu harus mengalah. Ibu bermimpi buruk tentangmu.”

“Mimpi apa, bu?” tanyaku.

“Ada dua belas sungai dipenuhi bangkai mengalir di sebelah lengan kirimu. Dua ekor anjing di belakangmu berdiri bersama lima ekor babi. Sedang di sebelah kananmu, ada tiga sungai dipenuhi bunga cempaka rendah. Harumnya semerbak sehingga menenggelamkan bau bangkai di sungai-sungai sebelah kiri. Dan di hadapanmu, anakku, seekor serigala putih yang selalu siap menerkam siapa pun yang akan mencelakaimu. Serigala putih itu sangat dekat, sehingga seolah-olah kalian sedang saling memeluk,” ucap Ibu.

Aku segera meraih sebuah buku tafsir mimpi demi menemukan tabirnya.

Zu. Ada amuk perang di kota bagian selatan. Perang besar. Kamu telah minta izin padaku untuk menjadi panglima di sana.  Membawa bendera kebesaran pasukan kita.

“Menggantikanmu, sayangku!” ucapmu ketika aku sedang dalam masa menimbang. Oh, Zu, betapa gatalnya jiwaku tatkala mendengar pecah amuk itu. Rasa-rasanya aku ingin maju ke medan laga seperti biasa. Membunuh siapa pun seperti biasa. Lalu memenangkan segala-galanya seperti biasa. Tapi aku tidak pernah melawan nasihat Ibu meskipun ia tak melihatku.

Perang kali ini, kekasihku, adalah yang terburuk selama kukenal pertumpahan darah. Beberapa pendekar pedang yang mahsyur turun ke padang. Sebenarnya sama sekali tak berimbang jika mereka mengambil bagian sekali pun yang diperebutkan adalah wilayah subur yang luas. Kau baru saja belajar memainkan pedang bersama beberapa temanmu. Bagaimana mungkin bisa memenangkan pertarungan melawan para ahli tebas tersebut?

Zu, apa pun yang terjadi kelak di perang, jangan pernah kau pikirkan. Saat ini berlatihlah terus menerus memainkan pedang. Seorang ksatria selalu harus memiliki keyakinan bahwa ia bisa menaklukkan segala perang, segala medan, semua lawan.

Percayalah, jauh di atas puncak bukit Jawararaya aku akan duduk di punggung kuda Barqun yang perkasa. Menyaksikan perang pertamamu hingga usai. Mengawasi ayun pedangmu. Menjaga agar bendera perang kita tidak jatuh disalup debu.

Di sela belajarmu, kekasihku, aku bertanya, “bukankah sudah nyata di hadapanmu bahwa ksatria renta kampung kita terlalu banyak yang tak tahu diri? Sayangku, ketahuilah, aku masih yakin tidak ada salah satu pun dari pendekar pedang pengecut itu yang bisa menang jika aku turun gelanggang. Tidak ada, Zu. Sama sekali tidak. Kau meragukan ucapanku?”

“Aku sudah melihat kenyataannya, Bas. Untuk ini aku tidak akan pernah meragukanmu, Sultan!” ucapmu dengan senyum yang selalu kucintai itu.