481209_156442537853256_1181789195_nAku telah lari dari tugas membunuhmu, Zu. Sekarang, di salah satu rumah sembunyi aku mencari tahu tentangmu agar bisa kubaawa lari bersamaku. Kau tentu tidak tahu bahwa atasanmu itu telah memintaku melakukan hal serupa denganmu, yakni kita saling bunuh. Amily sudah kuminta melaporkan pelarianku kepada utusan pembunuh bayaran jika diam-diam dia datang. Maksudku agar Amily tidak dituduh bersekongkol dalam pengkhianatanku. Lagi pula, itu tugas pertama gadis mungil itu. Aku tidak ingin membuat dia dipecat atau dibunuh oleh mereka. Dan barangkali sebab dia sangat mencintaiku, maka dia menyetujui walaupun tak bisa diselamatkan air matanya.

Sebuah lampu teplok tua di hadapanku saat ini, Zu. Nyalanya lemah sebab kekurangan minyak. Aku diberikan tempat tidur di gudang. Kami telah membuat perjanjian bahwa jika kelak kabar tentangmu lebih terang, aku akan pergi dari sini. Pemilik rumah ini adalah seorang janda pikun yang masih terang matanya. Dia sebijak ibu. Meskipun pemarah, tapi semalam ketika kuberikan padanya fotomu, Zu, dia segera tersenyum.

“Anda mengenalnya, Bu?” tanyaku berharap.

“Tidak. Tapi nampaknya dia anak baik. Dia tepat untukmu!” ucapnya pelan dan berat.

“Dia penjahat juga, seperti aku!” timpalku.

“Berarti kalian pasangan yang tepat,” guyonnya menyisakan senyum seorang Ibu. Dia bangkit menuju rak buku yang sarat. Susah payah dikutipnya buku yang dimaksud. Aku menyesap kopi panas perlahan-lahan sembari membagi dengar pada suara hujan.

“Kamu yakin pada pilihanmu, Basti?” tanya pemilik rumah itu. Aku menatapnya sekian lama.

“Awalnya tidak. Begini, aku sempat ragu. Dia dijaga dengan baik oleh kelompok pembunuh yang telah mengutus kami menghabisi banyak musuh mereka. Dia orang kepercayaan. Tapi aku dibayar sangat besar untuk membunuhnya. Dia diutus untuk membunuhku,” lalu kuceritakan semuanya. Sampai pada bagaimana Zu telah lebih dulu mendapatkan kesempatan membunuhku, tapi tidak membunuhku. Perempuan di depanku mendengar khusyuk.

“Kamu bisa menghabisi halangan terakhir ini?”

“Tentu saja. Aku akan membawa Zu pergi.”

“Keyakinan yang baik, Basti. Semoga Tuhan menyampaikan semua yang kamu rasakan ke hati Zu-mu,” dia tersenyum mengucap itu.

Katamu, kesetiaan sejati adalah hasil pergumulan kejujuran dan sikap menutup peluang sekecil apa pun bagi orang lain menyusup ke hati. Aku percaya itu, Zu. Maka sampai saat ini tidak ada yang kupeduli meskipun telah mengetuk berkali-kali. Kau tahu, Amily pernah hampir berhasil menggodaku dengan suara lembutnya dan tatap manjanya di depan pintu. Ya, hampir. Tapi ketika kunci tipis itu kutusuk ke lubang pintu, aku kembali pada keinginan berjujur.

Kamu tidak perlu percaya pada kejujuranku. Kita telah melaksanakan ritual berdusta bersama-sama. Sebagai sesama pendusta, kita boleh saling tidak percaya. Tapi, bisakah kau jawab mengapa pada akhirnya kedua pendusta yang sudah saling tahu dusta masing-masing bisa bersatu? Menurutku, sebab ada hal yang pernah bisa didustai oleh diri kita sendiri, Zu. Yaitu bahwa aku sangat mencintaimu dan kamu sangat mencintaiku.

Janda tua seteduh Ibu itu terdiam. Matanya awas. Aku menangkap isyarat yang disampaikannya dengan lekas.

“Di bawah ranjang kamarku ada lubang. Ke sanalah!” bisiknya. Aku bangkit.

“Basti!” dia memanggil pelan. Aku berhenti. “Nanti perkenalkan Zu-mu pada ibu, ya!”

Dia membebaskan aku dari ketegangan.[]