481209_156442537853256_1181789195_nPerempuan yang ditugaskan denganku itu bernama Amily. Aku membacanya di buku nikah dusta yang disodorkan oleh tiga orang lelaki yang membawa kami ke tempat ini. Kami akan tinggal lama di kampung yang berdekatan dengan gunung ini, namanya Teuba. Apakah kami akan membunuh salah seorang warga di sini? Belum jelas. Kata lelaki berjerawat lebat, foto target eksekusi kami akan dikirim kemudian.

Dengan Amily, aku sudah akrab dalam sekejap. Seperti dulu denganmu, Zu, aku begitu bagus memerankan diri sebagai seorang suami. Dan Amily, harus kuakui dia berbakat menjalankan misi ini. Dan singkatnya, Amily benar-benar menjadi istri yang baik, lugu, dan selalu menyapih segala kemauanku. Berhari-hari begitu sehingga aku menduga-duga kemungkinan dia memang merasa kami suami istri. Dan rupanya dugaanku tak jauh menikung. Pada minggu ketiga, dia menyatakan bahwa ternyata dia benar-benar merasa nyaman bersamaku.

“Ini misi pertamaku. Jika kau mau, aku akan mengakhirinya sekarang. Kau harus membawaku keluar dari pekerjaan jahanam ini,” ujarnya malam itu ketika direbahkan kepalanya di dadaku sebelum kami tidur. Tapi saat itu aku segera mengingatmu, Zu. Dulu aku begitu kesulitan mendapatkan cintamu. Maka Amily tidak boleh mendapatkanku semudah ini.

***

Malam pertama pada minggu keempat kami di Teuba. Amily tidak berbicara padaku. Dia hanya menangis. Aku berusaha membujuknya dan mencari tahu mengapa ia begitu sedih.

“Ini target kita,” ujarnya sembari menyodorkan selembar foto padaku tanpa melihat.

“Kamu bercanda, Amily!” aku benar-benar tidak bisa percaya.

“Kamu tidak ingin membunuhnya? Aku akan membunuhnya. Ini tugas pertamaku dan aku tak mau gagal!”

“Aku akan membunuh siapa pun yang melukainya!”

Amily menghardik tak percaya padaku. Matanya penuh amarah.

“Juga aku? Kau akan membunuhku, Basti? Kamu tidak bermaksud akan lari dari tugas ini, kan?” dia nanar. Gusar.  Seperti sulit percaya.

“Aku hanya…”

“Ternyata kamu memang hanya bisa dimiliki oleh Zu. Sayang sekali, aku sudah tahu bagaimana Zu menganggapmu. Kembalilah pada penderitaanmu, Basti!” ucapnya dengan mata menyala. Aku membayangkan api di matanya hendak meloncat menerkam sekujur tubuhku.

“Kamu sudah berhenti mencintaiku, Amily?” kali ini aku serius menanyakan itu. Sekalian mencoba mencairkan keadaan.

“Sebatas sadar bahwa mencintaimu adalah pekerjaan sia-sia. Mencabut sebatang pohon besar dengan tangan sendiri adalah pekerjaan konyol, kekasihku. Menanam pohon baru di sampingnya agar akar-akarnya terganggu dan tumbang sendiri itu butuh waktu lama. Kamu bisa memahami itu, kan?” Amily bergetar menyatakan ini. Aku menemukan genang air di matanya. Perlahan genang itu tumpah membentuk delta.

“Kita harus berusaha keluar dari tugas ini. Aku tidak ingin membunuh Zu dan kamu tidak boleh menyerah meyakinkanku bahwa kamu men…”

“Aku bukan kamu, Basti. Kembalilah pada penderitaanmu. Kembalilah mencintai Zu, mencintai kesemuan.”

Gadis itu berlalu dari hadapanku. Begitu lekas. Aku masih mematung, pelan-pelan menuju meja kayu yang kaki-kakinya sudah dimakan rayap. Di sana dua buku nikah tergeletak begitu saja. Di hadapan kaca yang tergantung sedikit di atas meja itu, aku melihat diriku sendiri. Menikah. Aku pernah menikahi Zu juga dalam sebuah misi. Ini pernikahan dusta kedua. Sialnya, lagi-lagi pasangan dusta ini jatuh cinta. Perbedaannya, kali ini aku tidak.

Ada yang berkeletip di bawah rumah panggung kami. Malam masih buta. Aku bergerak pelan ke pintu depan. Amily sudah di sana. Matanya awas.

“Seorang perempuan,” bisiknya ketika aku sudah berdiri di sisi kiri tubuhnya. Aku menusuk tatap melalui sebuah lubang kecil. “Aneh, jika dia musuh, mengapa terlalu terang-terangan?”

“Aku akan menemuinya!”

Amily cepat meraih lenganku. “Aku mencintaimu, Basti!”

Aku melihat air matanya turun lagi. Di hadapan pintu, untuk pertama kali aku menyentuh pipinya yang licin sebagai ganti ucap bahwa aku akan pulang sebaik sekarang ini.

Pintu terbuka. Aku turun memasuki rimbun batang sala, menyusur jalan batu demi menemui kemungkinan perenggut ajalku. Di tengah pekat, aku sulit mencari perempuan yang tadi mengintai kami. Dingin sangat hebat mendekap tubuhku. Dan kurasakan pelan-pelan di pinggang kiriku ada sesuatu yang runcing menusuk. Pelan sekali. Berhenti. Aku sudah di ambang mati.

“Siapa yang mengirimmu?” tanyaku. “Kamu akan membunuhku? Lakukan sekarang.”

Dia mengarahkan pisau ke leherku. Tangan kirinya menarik rambutku sehingga terangkat dagu. Aku bisa merasakan dengus tak teratur nafasnya. Dia resah? Bagaimana mungkin seorang pembunuh bisa seresah ini? Aku bisa dengan cepat membunuhnya kalau ingin. Tapi sudahlah, aku akan membiarkan dia bergerak sembari bersiap-siap menyelamatkan diri.

Ada setangkap wangi yang kuhidu meruap dari perempuan itu. Dia masih gugup. Jantungnya terdengar berdegup. Lalu ia lepaskan peluang membunuhku dan berlari serta merta. Hilang ditelan gelap dan rimbun sala. Aku mencoba mengingat wangi yang baru saja. Pernah kucium wangi itu.

“Oh, celaka. Zu?”

Bersambung…