Camera 360Aku duduk di sudut kamar, tepat di mana kita melunaskan pelukan terakhir tempo hari. Di tempat (katamu) dihempaskan tubuhku oleh segerombolan musuh yang membawaku pulang dalam keadaan menjadi pelupa. Dengan tubuh lemah sebab tak tidur menungguku saat itu, kau memungut badanku yang keriput dan membiru sebab berulang-ulang disetrum. Kata seseorang yang bisa kupercaya, waktu itu matamu menghardik penuh dendam kepada mereka yang menghempaskanku. Dan kemudian, pada hari-hari setelahnya, kau membenci siapa saja yang mengejekku. Membenci siapa saja yang membenciku.

Setelah hujan sawan senja tadi, pemimpin mengabariku tentang keputusan terbaru pergerakan kami. Kau tentu saja tidak akan bisa mengerti jika pun berulang-ulang kujelaskan perihal permintaannya. Lelaki itu membebaniku tugas besar, masih berkutat dengan pembunuhan. Jika biasanya dia merestui aku bergerak denganmu, tidak kali ini. Dia memintaku berganti teman. Kau tahu, bekerja dengan orang baru sama saja dengan memulai sesuatu yang baru. Dan asing. Aku sudah terbiasa denganmu, Zu. Sehingga kita sudah bisa saling menghafal bahkan sampai tata cara tidur.

Aku benci perpisahan, tapi ini harus. Kau pasti akan merasa kehilangan. Aku juga, percayalah. Aku ingin memelukmu saat ini sembari membisikkan ungkap-ungkap penyemangat. Seperti yang kamu lakukan pada saat baru saja ingatanku pulang. Kala itu kamu terus menerus mencoba mengangkat badanku yang lemah dan kalah, menyadarkanku bahwa menyerah adalah pilihan hidup terburuk bagi seorang pejuang.

Aku sudah terlalu lama mencintaimu, Zu. Sadar atau tidak, mau atau tolak, aku sudah merasakan itu. Tapi sebagai pejuang, memutuskan mencintai sama saja dengan bersiap kehilangan. Di hadapan mata cinta, kita seperti pelaut yang perahunya diamuk badai. Sendiri dihempas angin dan gigil. Diombang gelombang, diambing bersama puing.

Aku baru akan memulai dengan seseorang yang ditugaskan itu besok. Namun sudah saja aku pesimis. Kau harus menghubungiku besok pagi, seperti biasa. Pukul tujuh dengan berpura-pura membangunkanku dan mengingatkan minum kopi. Setelah itu kamu harus menyemangatiku panjang lebar agar ruh kejahatanku kembali, agar bisa kubunuh penjahat yang telah membuat aku ditugaskan pergi tanpamu kali ini. Jika tugas ini mudah, aku berjanji akan menemuimu hari pertama setelah kembali. Tapi jika ternyata amat musykil, maka ini adalah pergi yang tidak akan pulang lagi.[]

Alue Naga, NSA, 22 Oktober 2014