askkDitimpakan padaku darimu sebuah luka sebagaimana telah kutimpakan luka pada orang-orang sebelum kamu, agar aku berkarma.

(Pengkoisme. 1989-sekarang)

Orang-orang yang punya tujuan akan tekun mencari. Maka ia terus berjalan atau berlari. Mereka akan istirah jika lelah untuk mengumpulkan kekuatan demi berjalan lagi dan atau berlari lagi sampai benar-benar ditemukannya tempat huni. Begitulah aku, wahai, agar kau ketahui.

Kau pernah melihat aku berdiri di beberapa pintu, mengetuk. Jika terbuka, aku masuk. Jika tidak, aku akan mencari kuncinya. Atau–sebab aku bukan seorang makhluk yang rentan putus asa–barangkali kau pernah menemukan aku berupaya mendapatkan cara supaya bisa menginap di rumah-rumah yang kuharap bisa menjadi huma. Tapi belum ada. Belum kutemukan satu hunian yang setenang kukatakan padamu tempo waktu: yang bisa membuatku tidak lagi menanyakan apakah ada huma lain setelah itu. Baiklah, maksudku barangkali pernah ada, tapi sudahlah, nyatanya aku sudah kembali harus berjalan atau sesekali berlari. Aku harus berlari sekuat mungkin.

Aku menghabiskan sebagian waktu untuk terus melihat dan memerhatikan sesiapa yang kutemui. Kau kerap bertanya padaku mengapa terlalu mesti. Kau menyangsikan aku seperti orang lain. Beribu pasang mata menghardik padaku seolah-olah aku pembunuh. Itu wajar. Beberapa orang dari mereka tahu bahwa aku sudah pernah menghabisi harapan banyak orang. Bukankah kau selalu mengira aku gila? Anggap saja pikiranmu benar. Kelak kau akan mengetahui mengapa aku gila dan bagaimana nasib seseorang yang digilakan tujuannya. Beribu pasang mata (seperti anggapanmu) juga melihatku sebagai seorang gila lata yang tak punya pucuk kelana. Aku memiliki tujuan yang mereka ragukan itu. Aku tidak meragukan tujuanku.

Suatu ketika. Pasti kelak aku dan para pencari itu akan berhenti di sebuah huni di mana hati orang-orang seperti kami bisa merumahkan diri. Menikmati malam yang lambat dan diam di jendela dada kekasih. Membiarkan ketenangan kami larut dalam peluk senang. Kau tahu, seperti kukata padamu, aku tidak pernah takut pada kenyataan bila-bila kelak di tengah pencarian kutemukan seseorang yang menyengsarakan. Sesungguhnya, hidup adalah proses melakukan sesuatu dan mendapatkan balasan. Kau memberi kebaikan, akan mendapatkan kebaikan. Aku? Semuanya sudah terlanjur buruk. Tapi ini perkara berjalan atau sesekali berlari, menginap dan pergi lagi. Lalu mutlak berhenti. Sekali dan sampai mati.

Kau masih menyimpan obat gilaku? Tiba-tiba kepalaku pusing sebab beberapa orang mengatakan bahwa rumahmu sama sekali tak akan pernah kau berikan kuncinya padaku. Ternyata kau masih tak bisa membedakan kelucuan dan kesungguh-sungguhan. Dan aku sudah semakin yakin kau adalah bagian dari kebanyakan orang yang selalu percaya bahwa pelaku kejahatan tidak pernah bisa menjadi pahlawan kebaikan. Sedang di sini, padahal, dalam sebongkah sunyi, aku sedang membaca jarak yang sebentar lagi akan khatam.

(NSA, Pari 85. 1 Oktober 2014)