481209_156442537853256_1181789195_nBeberapa tentara nasional datang ke rumahku pada suatu pagi mendung. Dari awal sudah kutebak bahwa kedatangan mereka hanya sekedar meminta bantuan, bukan mengancam keselamatan. Sebagai orang kaya, aku sadar betul pujian mereka tak lebih sekedar basa-basi agar aku mengira betapa mereka menghargai kekayaanku. Dan kau tahu, Zu, betapa senang wajah bocah-bocah itu ketika aku masuk ke ruang rahasia lalu memberikan sebagian senjata yang kumiliki. 

Beberapa hari kemudian–hari yang sama ketika kau kirimkan selimut baru untukku–salah seorang tentara pemberontak, dalam perang yang sedang kecamuk menghubungiku. Tidak ada yang bisa menyelesaikan permasalahan dengan panglima penjajah di bidang pertanggungjawaban harta benda negara selain aku, katanya. Aku buru-buru tiba dan menyelamatkan muka bangsa. Betapa bahagia aku tatkala usahaku dihargai oleh panglima penjajah.

Beberapa hari setelahnya–setelah yakin bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan–saya mengirimkan surat kerjasama pada pemimpin tentara nasional. Di hati paling kecil, aku berharap mereka menerima usulan itu. Aku benar-benar membutuhkannya. Tapi, Zu, ternyata mereka menahan surat usulan kerjasama itu. Aku benar-benar kecewa dengan perilaku pemimpin mereka. Apa susahnya mereka melunaskan surat itu dengan syarat di tengah perjalanan kami bersepakat lagi tentang segala hal yang belum rampung? Tidak, mereka terlalu prosedurial. Padahal, jika saja mereka memudahkan itu, aku telah berniat akan memberikan diriku sepenuhnya di bawah pengabdian. Mereka membutuhkanku untuk terus menyalakan api perjuangan.

Beberapa jam lalu, dengan sisa semangat yang dipinjamkan orang tuaku, Zu, kau akan melihat bagaimana aku menyelesaikan ini semua. Dengan cara apa pun. Kau tahu bahwa aku bisa melakukannya dengan baik, bukan? Kau tahu bahwa aku bisa menaklukkannya.[]