20140821_161050~2Betapa mudah Nona menyelinap ke ruang sembunyi saya. Diantar oleh hujan sebuah senjakala engkau tiba dengan belati tersampir di pinggang kiri serta sebuah mustika berwarna perak berbentuk bunga cengkeh di balik kerudung merah menyala. Tidak ada kabar yang menyampaikan pada kami di mana tepat Nona menyimpan mustika keramat. Yang saya ketahui adalah Nona memiliki racun di sepasang mata runcing daun bambu sehingga membuat saya selalu waspada membidiknya sampai kapan pun.

Dari saya sendiri Nona ketahui bagaimana kecerdasan dan kepicikan berbeda setipis asap. Saya membawa Nona ke beberapa perompakan yang kemudian hasil jarahan kita bagi berdua. Orang-orang yang pernah saya lukai, begitu melihat Nona tiba, seperti melihat sewujud peri. Mereka berterimakasih dari jauh kepada Nona. Sebab, kata mereka, Nona adalah karma yang dikirimkan kenyataan untuk saya. Dan saya, celakanya tidak pernah berpikir seperti mereka.

“Dengan belati itu dia akan membunuhmu, bangsat!” ujar seorang perempuan tua pendendam berkulit jelaga sembari meludah air sirih ke arah kanannya. Saya hanya tertawa sebab mengira dia terlalu banyak menonton sandiwara kelompok tonil dari kota yang selalu menceritakan bahwa penjahat akan mati dengan cara paling tersiksa.

Di dalam diri, Nona saya anggap tuah yang diruah langit serupa hujan yang turun pada senja celaka di mana kita mula bertemu dan bercengkerama. Di tempat pertama sekali kita bersepakat melakukan penaklukan-penaklukan lalu mempertemukan tapak tangan kanan di udara, sembari tertawa. Kita melakukan penaklukan beberapa kali. Kadang sendiri-sendiri. Jika Nona melakukan di tempat asing, aneh sekali, saya bisa mencium aroma engkau akan berhasil. Saya selalu menjadi yang pertama mendengar kabar bagaimana cepatnya tangan Nona memainkan belati serta dengan gerakan segemulai padi Nona lemparkan mustika cengkeh ke mata para dicuri. Tidak perlu Nona datang mengabarkannya. Saya selalu tahu lebih cepat perihal Nona, bahkan lebih cepat dari saya mengetahui perihal saya.

Setiap kali Nona berhasil menaklukkan satu daerah perompakan, saya ingin memeluk Nona, mengatakan betapa saya bangga telah menjadi teman terbaik dalam penaklukan sebelumnya. Saya ingin mencium kening Nona dan berkata betapa saya sangat kagum pada apa yang engkau lakukan. Nona lama-lama membuat saya sengsara. Jika tiap gulita menjalar dengan gesit ke kamar saya, rindu demikian genit menjulurkan lidahnya. Nona tidak pernah peduli itu dan saya tidak pernah peduli apakah Nona mau tahu.

Berkali-kali saya lihat Nona ingin mencabut belati dan pernah mustika beracun di balik kerudung merah menyala itu ingin Nona tancapkan di jantung saya. Sialnya, saya malah selalu berusaha untuk membiarkannya. Nona ingin membunuh saya oleh sebab entah. Barangkali, karma sayalah yang meminta demikian. Tapi ternyata Nona tidak jadi membunuh saya.

“Menusuk belati ke jantungmu? Tidak sulit. Tapi membunuhmu seperti itu adalah cara paling buruk!” ucap Nona pada suatu kali kita mabuk. Malam menenggelamkan kita dalam keladatan euforia. Sedangkan karma saya berserapah sebab lagi-lagi Nona selamatkan kehidupan saya.

Saya berhasil masuk ke ceruk yang Nona keruk. Mencintai Nona adalah membunuh diri sendiri, saya tahu. Betapa menjemukan menjadi seorang bersetia sebab tentu saja itu seperti membuka pintu dengan pasrah dan membiarkan begitu saja seseorang menaklukkan saya. Tapi Nona berhasil meyakinkan bahwa bersetia di bawah penaklukan cinta, adalah hal yang mesti saya lakukan. Nona ajarkan saya membalikkan keadaan. Menunjukkan jalan pulang ke rumah impian. Nona membantu saya bangkit dari dibenci dan memadamkan api dendam. Nona jugalah yang menjadi mustika di cinta saya yang semakin merah menyala. Sesuatu yang dalam diri saya terlanjur tidak bisa lagi dipadamkan. Nona tidak paham bagaimana saya mencintai, maka Nona tetap tunduk pada apa yang karma saya ingini. Nona tidak mengetahui bahwa saya telah memberikan diri saya sendiri untuk Nona bunuh mati.

Senja tadi hujan turun persis secelaka senja kita pertama jumpa. Nona masih sangat cantik sampai-sampai saya lupa bahwa beberapa hari silam Nona telah berpesan agar saya waspada pada sebuah upaya pembunuhan. Seorang tukang sampah menemukan surat di halaman depan rumah saya yang mengisyaratkan bahwa pembunuhnya adalah Nona.  Engkau memaksa saya untuk tidak lagi jatuh cinta. Di sudut rumah, saya menusuk sebelah mata dan menguburkannya bersama rindu yang masih terjaga.

Saya tiba di persembunyian setelah Asar bergegas pulang membawa selembar surat yang Nona bungkus dalam selipat kain berenda bunga. Lagi-lagi tukang sampah itu yang menemukannya. Saya membuka dengan sangat baik. Di pemberian itu, saya temukan mimpi tua, sebuah permata segitiga berwarna kuning, biru, dan merah menyala. Ini mimpi saya. Di mana Nona menemukannya?

Saya kembali mencintai Nona. Dan Nona meminta saya untuk tidak. Berulang kali saya Nona paksa melupakan sesuatu yang telah ada. Suara Nona terngiang-ngiang di telinga, menggenang-genang di udara. Saya menyimpan permintaan Nona dalam sebuah kotak kusam sebagai upaya membuat diri lupa pada keinginan Nona untuk saya lupakan. Saya mengharap kedatangan Nona. Dan Nona menyuruh saya beranjak. Saya menjadi seorang gila. Begitu sengsara. Begitu sengsara. Nona membunuh saya dengan cara santun sekali. Sebab Nona paham bahwa jatuh cinta adalah luka paling nyeri. Setelah saya tersiksa, Nona beranjak lari. Saya kepayahan merawat luka sendiri.

Di ambang kematian, berulang-ulang saya sebut nama Nona. Tapi nun di sana, barangkali Nona sedang tertawa, menikmati kebodohan saya yang sudah terlanjur percaya bahwa mencintai Nona adalah tuah yang diruah semesta.[]

NSA, Pari 85, 14 September 2014