20140905_012500Terimakasih atas kesempatan ini, Tuhan. Terimakasih Umi atas ucapan selamat yang pertama sejak lahir. Terimakasih atas kado dari jauh yang nyeri dan indah itu, Tiara. Terimakasih upaya keras menciptakan tulisan panjangmu yang gebu, Erna. Terimakasih kopi, Coca-Cola, dan jam merah bersampul kado merah jambu itu, Lia. Terimakasih atas ucap yang terlalu awal, Yulia dan bukan di ponsel saya. Terimakasih atas 9 jam bersamaku, Kak Putro. Terimakasih Zu, Ia, dan Molly, tiga tangkai siswa hebat yang tetap terkenang-kenang, tergenang-genang di ingatan. Terimakasih Komunitas Jeuneurob dan Apache13 atas kerupuk sagu dan penampilan serta lagu-lagu. Terimakasih atas ucapan dan doa-doa kalian, kawan-kawan. Semoga limpah juga untukmu sekalian segala kebaikan.

Kelak, setelah lima atau sepuluh atau dua puluh lima tahun lagi, saya akan mengenang hari ini. Saya melewati dua puluh lima kali ulang tahun sudah dan beberapa di antaranya dirayakan dengan meriah. Pada usia tujuh belas, kawan-kawan di sekolah gila-gilaan merayakannya. Kucatat itu sebab di sanalah bermula saya mulai membenci bau anyir telur. Tiga tahun kemudian, perayaan ulang tahun saya dilakukan oleh teman seangkatan di kampus. Itu kucatat sebab hadiah kue tart bola dan bagaimana Syaikhuna King Munawir Shakir al Burtuqally menunjukkan diri sebagai aktor teater berbakat. Lalu seorang pacar terlama merayakan 22 tahun usiaku dengan perayaan macam di film-film, ada lilin yang banyak dinyalakan di dekat sungai besar dan hadiah poster Che Guevara yang sampai hari ini masih kusimpan.

Hari ini, tidak ada perayaan apa-apa. Kecuali dua perempuan cantik yang datang membangunkan tidur sebentar saya dan datang lagi setelah zuhur dan datang lagi setelah Asar bersama seorang teman yang membawa hadiah berupa dua kotak kopi kesukaan, sebotol besar Coca Cola, dan sebuah kado berbalut kotak warna merah jambu (maksud warna merah jambu itu apa?) berisi jam warna merah itu. Diberikan jam membuat saya berpikir, betapa masih ada orang yang mau mengingatkan saya perihal waktu yang kerap lupa. Perihal lima saat wajib menyembahNya dan masa kuliah saya, barangkali. Perihal waktu membaktikan diri dan waktu mengambil keputusan.

Ini akan menjadi kenangan sebab di sinilah, di tepat dua puluh lima tahun usia saya, keputusan-keputusan itu diambil dengan pasti. Saya berhenti mengutuk diri, berhenti tidur berlebihan, berhenti menanyakan ke mana jalan ini akan membawa kesemakin-tuaan. Saya telah memutuskan untuk berjalan dengan baik, menjadi anak baik, dan tidak mau bermusuhan. Saya ingin berguna untuk diri saya dan keluarga. Ini tidak berlebihan dan saya kira tidak boleh jadi bual. Terlalu lama sudah bermain-main, saya kira itu cukup.[]

Pari 85, NSA 5 September 2014