OlalaKabar ini kusampaikan padamu, kekasihku, sebagai maklumat menuju tenggat pelunasan tanggung jawab pendidikanku. Agar kau tahu mengapa kukata perlu waktu mengumpulkan semangat. Agar kau paham mengapa ketakutan itu menyusup. Agar kau mengerti bahwa aku tatkala semakin dekat menelan mimpi, semakin menyala semangat, semakin lebat pula kurasa degup.

Menjadi guru. Bisa kau bayangkan bagaimana menjenuhkan takdir itu? Kami harus menyalakan mata lebih cepat dari muncul fajar dan melelapkannya sampai di ujung malam. Ini sungguh sebuah penyiksaan. Jika saja ini kualami hari ini, kupastikan aku akan menghajar banyak siswa di sekolah jika mereka bengal. Jika ini terjadi hari ini, kupastikan seminggu saja aku betah di sekolah sebelum benar-benar menalaknya. Talak delapan. Biar mampus sekalian.

Kau tahu, ketika dulu menjadi guru utusan, aku hampir tidak pernah maksimal. Maksudku, aku tidak bisa total mengikuti aturan. Jangan tanya berapa kali aku terlambat datang sebab aku pun telah tak sanggup menghitungnya. Kau hanya perlu membayangkan bagaimana aku bermasalah dengan guru pamong sebab tidak mau memberikan siswaku pekerjaan rumah dengan alasan agar mereka punya waktu bermain. Bermasalah sebab membawa mereka keluar pekerangan sekolah dengan alasan agar mereka bisa belajar dengan tenang dan bebas. Bermasalah sebab tidak ingin menuruti aturan kurikulum yang ada dengan alasan bahwa pembuat kurikulum itu tidak tahu apa-apa tentang apa yang siswa butuhkan. Aku melakukan itu semua demi membuat siswaku berbahagia. Dan siswaku berbahagia. Begitulah, guru kerap menderita demi kebahagiaan siswa. Di sudut lain, siswa selalu merasa guru tidak pernah mengerti mereka.

Aku benci sekolah sebab selalu diikat dengan aturan. Sekolah adalah penjara tak kasat, kekasihku. Maka kemudian kadang aku bertanya, dengan semangat mana guru-guru kita bisa bertahan? Dengan cara apa tiap pagi membuka mata mereka bergegas berbenah menuju sekolah yang menjemukan? Dengan kesabaran bagaimana guru-guru kita menghadapi semua siswa dengan polah beragam?

Menjadi guru, kekasihku, adalah mengambil keputusan bertekuk di bawah upaya pembunuhan oleh segenap penat, dilukai oleh murid-murid batat, didera tanggung jawab tak bertenggat. Dibunuh perlahan-lahan seperti tuba kampung selatan. Tapi ini jalan yang telah kucita di awal, sejak baru kuketahui tentang keinginan-keinginan.

Kekasihku, kelak aku akan menjadi salah satu hamba lata bernama guru itu. Akan menjadi pelakon di hadapan siswa-siswaku seolah tidak pernah punya masalah apa-apa. Menghadapi mereka dengan kesabaran istimewa. Menjaga semangat mereka untuk terus belajar. Melawan kantuk untuk menyiapkan ilmu yang besok akan diajarkan meskipun tahu mereka tidak pernah serius ingin menerima. Menunjukkan pada mereka betapa aku sangat bahagia. Dan jika kelak setelah menjadi guru mana tahu aku khilaf bertindak atas mereka, telah pun aku siap menerima didoakan oleh siswaku semisal semoga mengalami kecelakaan atau barangkali ada di antara mereka yang berdoa agar segera nyawaku dicabut oleh Tuhan. Dan pada saat itu, kekasihku, jika doa siswaku dikabulkan, kau harus bersabar.

(Alue Naga, NSA 2 Agustus 2014)