Zu

Beberapa hari ini aku tidak menghasilkan apa-apa dan sedang tidak ingin menghasilkannya. Tapi kau selalu bisa memaksaku mengubah banyak hal, bahkan diriku. Apa yang tidak bisa kau tentukan? Perjalanan musafir tak berumah yang mengelana sepanjang hidupnya tanpa istirah, telah berhasil kau hentikan. Meskipun kemudian hentian itu usai, istirahnya selesai. Sebab memang akan selalu ada yang datang dan pergi karena keniscayaan-keniscayaan.

Kita hanya bisa membiarkan Tuhan memain-mainkan ketentuan-Nya tanpa bisa menyela. Barangkali sedikit saja andil kita dalam mengatur takdir, yaitu berdoa. Sangat kecil. Kita hanya bisa menunggu dan berjanji tidak akan luka atau terlalu pora ketika Ia melemparkan nasib. Yah, meskipun agak munafik untuk mengakui bahwa sangat mudah melupakan sesuatu yang benar-benar berkesan.

Suatu ketika aku pernah membenci kepergian—setelah berhenti padamu dan ingin berumah di sana. Aku lupakan banyak sekali kemungkinan menuju jalan lain dan bahkan menolak untuk berjalan seperti di kelana-kelana silam. Tapi ternyata Tuhan belum mengizinkanku berhenti. Nampaknya, melaluimu Ia kembali memberiku tugas melakukan pencarian. Sudahlah. Bukankah aku tak pernah menolak apa-apa yang kau inginkan, sayang? Apa-apaan ini? Aku memanggilmu “sayang”, ini terlalu lancang. Maka ketika kau menginginkanku lupa, aku akan lupa. Tepatnya berusaha sekuat mungkin untuk lupa agar apa yang kau inginkan bisa kukabulkan serupa mestinya.

Beberapa hari lalu aku bertemu seseorang tempat kau ruahkan cerita. Katanya, kamu bertanya mengapa tidak lagi kukabari engkau serupa biasa. Akhir-akhir ini keadaan sedang buruk, kau merasakan itu? Aku harus merampungkan beberapa pekerjaan di sebuah tempat celaka. Bukankah kau juga yang memintaku menyelesaikannya? Berulangkali menemui lelaki tua yang hampir saja mencabut nyawaku dengan pistolnya sebab aku gagal membunuh adik kandungnya tempo waktu dan berusaha terus menjaga semangat agar tidak muak melihatnya, itu yang kulakukan. Agar pekerjaan rahasia tersebut selesai. Di rumah, beberapa persiapan untuk pesta akhir bulan (juga tentang beberapa pembunuhan baru yang telah dirancang) benar-benar mengupas dayaku. Aku hampir lupa bagaimana tidur semestinya.

Dan ketahuilah, malam ketika kau meminta aku melupakan semuanya, siangnya aku berkata pada tempat berceritamu bahwa tidak kukabari engkau, Zu, sebab aku ingin kau punya banyak waktu sendiri. Ada kaitan baik antara persiapanku membunuh dan persiapanmu merampungkan buku. Kita masing-masing jadi memiliki waktu menyendiri.

Kau tenang menerima ilham dari Tuhan dan menuliskannya sedang aku tenang menyiapkan senjata dan cara. Jangan bilang kau sudah lupa pada mimpimu memiliki buku. Kau sudah tak ingin mengalahkanku? Kalau iya, percayalah aku membenci itu. Duhai, kekasih yang ingin pergiku, aku ingin kau punya masa menyendiri, sepi, dan bermain-mainlah dengan tulisanmu itu. Kelak kau harus memiliki buku. Aku menyimpan mimpi itu di kepalamu. Gapailah.

Semua yang terbaik akan terus dijaga kebaikannya. Aku telah menyimpan banyak sekali tentangmu di kepalaku dan kelak ia akan dihapus oleh orang yang aku pantas menyandingnya. Sekarang, seribu kunang-kunang bermain-main di kamarku dan kuminta mereka membawa semua ingatanku tentangmu. Bagaimana mereka mampu? Kunang-kunang itu tidak pernah patuh lagi padaku. Tapi semuanya harus berbeda, bukan? Kita tidak pernah bisa hijrah jika tidak berbeda. Aku akan berubah. Untukmu dan seperti inginmu.

Setelah pergi, tidak akan ada lagi yang persis sama. Dan memang tidak perlu sama.  Sebab itu kita harus membiarkan rumah ditinggal ini dijalari rumput sialan sampai dinding-dindingnya berlumut dan runtuh sendiri. Kau dan aku harus membangun rumah-rumah baru yang kau akan tempati sendiri, aku tinggali sendiri. Ini akan jadi pergi yang tak kembali. Di kiri kananku, malam menjadi jalan yang lebih sunyi. Di kiri kananmu, kebahagiaan akan terus beranak puisi.

Selamat pergi, Zu. Ini akan jadi surat cinta pengkhataman. Penutup ucapan kasih sayang.[]

NSA, Alue Naga Agustus 2014