Karya Nazar Alam

Patahkan sayap-sayap camar wahai matahari. Panggang setengah matang, kirimkan dia ke ubun-ubun rerumputan. Letakkan di dahan cemara liar, biar kuutus musang menjemput kado itu untukku. Terima kasih, terima kasih

Sesaat senyap, sunyi. Hanya angin terdengar bersorak dan gesekan daun tumbuhan liar bertepuk tangan. Sekejap hujan pun turut meramaikan suasana, sungguh dingin. Kembali pekik terdengar memecah sepi, sangat jelas.

Angin! Dengar!! Aku tak dingin tertiup sejukmu, aku tak sejuk diterpa dinginmu. Tak bisa kau balut aku dengan hawamu. Ada daki-dakiku yang menyelimuti sekujur tubuhku. Heuh, apa lebihmu? Angin, apa lebihmu? Apa?

Teriakan itu terdengar lantang dari gubuk kecil berdinding papan jarang-jarang. Sebuah gubuk berpanggung satu meter, beratap rumbia di tengah kebun kelapa yang jauh dari rumah-rumah penduduk yang dihuni Pikar, pemuda kampung terpasung.

Pikar mewakili semua kegalauan hatinya pada kata-kata puitis, kata-kata yang kadang-kadang sangat menyedihkan, mengerikan. Pikar gila, gila yang tercipta sudah sangat lama. Tidak ada yang peduli pada pikar, tak ada gaji untuknya saat ia membacakan puisi-puisinya di atas panggung kerajaannya. Tidak ada publikasi, tidak ada komisi. Toh pikar gila, mana ada yang mau dengar syair-syairnya. Hanya angin yang selalu bertepuk tangan dan jangkrik yang selalu riuh menonton pementasan puisi-puisinya.

Sunyi merenda hari-hari Pikar, hanya ada burung-burung yang selalu setia menemani siangnya, dan kelam buta yang jadi sahabatnya menghabiskan malam. Sesekali seorang wanita tua yang telah hilang beberapa giginya datang membawanya makanan, membersihkan kotorannya, memberikannya kain combreng sebagai selimut untuknya. Dia Nyak Ti, seorang wanita sahabat ibu Pikar, bukan ibunya.

Ibu Pikar telah pergi jauh darinya. Ia tidak pernah tahu di mana ibunya. Yang ia ingat, itu pun kadang-kadang, suatu malam, saat Pikar masih sekolah di sebuah SMP Swasta di sebuah desa terpencil di pinggir pantai barat Aceh, sekelompok orang bertopeng masuk ke rumahnya dan menyeret ayahnya keluar secara paksa. Ibu pikar dan pikar mencoba menahan ayahnya, tapi tarikan orang-orang bertopeng itu sangat kuat. Pikar diikat di tiang tengah rumahnya, mulutnya disumbat dengan kain pengikat leher mereka, matanya dibiarkan leluasa menonton kejadian tragis yang sedang menimpa orang tuanya.

Pikar kadang-kadang bisa mengenang saat ayahnya ditusuk di perut dan punggungnya, beberapa di antara mereka menarik kuat-kuat tali yang mengikat leher ayahnya. Ayah Pikar mencoba melawan, sia-sia saja, mereka sangat banyak. Sesaat terdengar suara letusan senjata berkali-kali, Pikar memejamkan matanya, di bukanya kembali matanya saat suara tembakan itu berhenti. Pikar mendengar teriakan ibunya, sekali lagi letusan senjata terdengar, suara ibu Pikar hilang. Teriakan itu adalah salam terakhir dari ibu pikar untuknya. Pikar melayangkan pandangan ke arah ayahnya yang sedang menghadapi maut. Pikar melihat seorang dari mereka melayangkan golok ke muka ayahnya, begitu sadis, golok itu menghampiri wajah dan tubuh ayah Pikar berkali-kali sampai ayahnya tersimpuh mencium bumi.

Sejak saat itu, Pikar menyimpan dendam pada geuchik kampungnya, dendam yang takkan pernah usai mungkin sampai pikar atau geuchik itu mati. Dendam itu terpupuk subur di hati pikar. Tiap ada warga kampung yang melintas di depan gubuknya, pikar selalu menitipkan pesan agar geuchik datang ke tempatnya supaya dia bisa membalas dendamnya. Geuchik menurutnya adalah dalang pembunuh ayahnya. Karena saat itugeuchiklah orang yang sangat dekat dengan kelompok-kelompok bersenjata. Tidak ada yang tahu benar tidaknya cerita itu, karena pikar lebih dulu mengambil keputusan untuk menghabiskan sisa-sisa hidupnya di pasungan. Tidak ada yang percaya pada ocehannya,kan pikar gila. Namun, di antara kata-katanya yang ngawur, Pikar paling sering meneriakkan sebuah untaian kata-kata yang disebut warga kampung sebagai ”Syair-Syair Pasungan”.

Ayahku, mukanya hancur, tubuhnya juga hancur. Dimakan besi-besi tajam, kejam.Ayahku, nyawanya hancur, hidupku hancur. Melebur, padahal aku masih bau kencur. Ayahku, matikah? Wafatkah? Meninggalkah? Atau sudah gugur?

Syair itu selalu ditutup dengan tangisan perih dan teriakan keras Pikar, sangat keras memecah sunyi seluruh kampung, mengerikan. Syair-syair itu telah begitu akrab di telinga warga, tidak ada lagi yang peduli. Mereka tidak peduli Pikar sehat atau sakit, toh hidup atau matinya Pikar tidak berpengaruh apa-apa pada mereka. Tidak ada yang setia pada Pikar, selain celana jeans berkarat yang dipotong 5 cm di atas lutut dan sebuah kayu keras berlubang, layaknya gelang yang melilit di kakinya. Pikar tidak pernah memakai baju, hanya sepotong kain penuh sobekan yang dijadikannya selimut kala dingin malam merajam.

Pikar malang.

***

Malam ini sangat dingin, lebih dingin dari biasanya. Rintik-rintik hujan membawa aroma sepi yang sangat. Jangkrik bersuara pelan-pelan, diikuti suara kodok yang menambah kesunyian malam, sungguh sunyi. Pikar melilitkan kain usang yang hampir luruh itu ke tubuhnya. Ia mencoba menahan dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Pikar gemetar, dirasakan tubuhnya bagaikan terbalut es, bahkan kain tua itu tidak dapat menahan dingin malam ini. Pikar resah, mukanya mulai memancarkan tanda-tanda ketakutan. Dia memalingkan mukanya ke semua penjuru gubuk. Dia begitu takut.

Sesaat dingin benar-benar menyergap seluruh tubuhnya, memeluk Pikar erat-erat. Pikar menangis ketakutan, dibuka mulutnya, dia mencoba minta tolong. Suaranya serak. Tolooong…!! Tolong aku dan tubuhku. Lepaskan gelang kakiku malam ini, jangan besok pagi. Tolooong…!!

Dingin kian mendekap tubuh Pikar, tidak ada yang dengar pekikannya malam ini. Padahal, ia benar-benar ingin pertolongan. Pikar tersedu kecil, sayup terdengar rongrongan anjing yang seakan membantu Pikar berteriak. Tapi Pikar masih sangat ketakutan, bulu kuduknya sesaat berdiri, rebah lagi.

Tolooong..!! Dengarkah kau suaraku anjing menggonggong? Dengarkah kau aku meminta bantuan? Tolong lepaskan pasung ini dari kakiku, agar aku bisa lari menjauh dari tempat seram ini. Aku takut di sini. Atau.. Atau tolong kau laporkan permintaanku pada orang-orang kampung. Bilang pada mereka aku takut sekali di sini. Tolong lepaskan pasung ini. Sekaraaaaang…!!!!

Pikar menangis dalam keadaan yang sangat menakutkan, bibirnya bergetar. Pikar menarik kakinya dari pasungan itu, tapi tidak bisa. Pikar berteriak-teriak, dia sangat takut pada keadaan malam ini. Teriakannya semakin keras memecah sunyi malam, tapi tetap saja tidak ada yang peduli. Suara gaduh terdengar sayup dari istana Pikar, begitu ribut.

Sesaat suara itu hilang. Kembali sunyi mendekap seluruh pelosok desa, begitu juga dengan kebun kelapa tempat istana Pikar berdiri. Pikar sedang diam, matanya terpana melihat sosok yang tidak dikenalnya datang melepaskan gelang-gelang pasungan dari kaki-kakinya. Pikar tersenyum, sosok itu mengajak Pikar lari dari istananya, jauh meninggalkan semua yang ada di tempat busuk itu. Pikar mengangguk ajakan itu. Ditinggalkan gelang-gelang kakinya yang sudah menemaninya sangat lama, dilupakan istananya, ditanggalkan celana jeans berkarat yang dipotong 5 cm di atas lututnya, disibakkan kain tua penuh sobekan yang melilit tubuhnya. Pikar ingin pergi menjauh dari sarangnya, entah kemana. Yang jelas kepergiannya tidak akan ada kata kembali.

Pikar tersenyum menatap gedungnya, dia melambaikan tangannya pada pasung dan jasadnya yang terbujur sendiri di gubuk berdinding papan jarang-jarang, berpanggung satu meter, beratap rumbia, di tengah pohon kelapa itu. Dia terus terbang, mencari kedamaian hati. Mencari orang-orang yang selama ini dicarinya, terus mencari, entah sampai kapan. Bahkan, dia tidak memalingkan lagi wajahnya ke gubuk itu, dia terus terbang. Selamat jalan penyair pasungan.

Nazar Alam, mahasiswa PBSID FKIP Unsyiah angkatan 2008