NaNa, foto-foto masa lalu kita di rumahmu masihkah sering kau jenguk? Salah satu yang paling kuingat adalah ketika pesta khitan bang Wan (alm) kita meloncat ke depan kamera. Aku tertawa lebar sekali, begitu riang, sehingga nampak gigi atasku yang hitam dimakan ulat sebab terlalu banyak makan permen pemberian bapakmu. Kalau sesekali pulang, ingin sekali kuminta lihat foto itu. Tapi selalu lupa.

Hari ini aku akan menceritakan tentang kita pada banyak orang, Na. Agar mereka tahu, ketika pertama kali mataku bisa mengingat wajah-wajah, kau yang keempat kukenali setelah Umi, Ayah, dan Vodjan adik kandungku. Saat itu, aku satu-satunya bocah yang tidak takut pada amuk murka bapakmu sang pedagang penuh amarah itu. Orang-orang mencibir bapakmu di hadapanku, aku tidak peduli. Beliau bukan seperti kata mereka ketika bersamaku. Bapakmu adalah penyelamat lidahku untuk segenap rasa makanan. Kerupuk dan makanan ringan terbaru di kedaimu, hampir tak ada yang luput diberi untukku. Di sana aku belajar, pada bapakmu, bahwa kebaikan memang menuntut siapa orang yang kita hadapi. Kita bisa menjadi baik terhadap orang yang disayangi, sejurus kita bisa menjadi jahat kepada yang dibenci.

Sudahlah, tentang kita lagi. Sejak kecil kita tidak pernah bisa dipisahkan oleh apa pun. Aku diantar sekolah oleh Umi sebab sudah tidak ada teman bermain di kampung. Kau sudah diantar oleh ibumu, aku menangis histeris memaksa diantar bertemu kamu. Usiaku belum cukup, kata guru penerima itu, tapi aku tidak peduli dan malah lari menghampirimu pagi pertama di SD Suak Labu. Kau sudah pakai seragam, aku belum punya. Sebab tentu saja orang tuaku tidak mempersiapkannya karena mengira aku belum jatah sekolah. Aku diterima duduk percobaan, namun terlalu jahat guru kalau tidak menganggapku di kelas satu. Pada caturwulan kedua aku sudah bisa membaca, kamu baru bisa caturwulan ketiga.

Hari-hari di SD, tiap ada tugas mengarang kau sering menemuiku di rumah Neknong. Kau meminjam buku cerita nabi-nabi dan cerita sahabat yang kumiliki. Sebagai imbalan, kau harus memberiku kue-kue di kedaimu. Diam-diam aku datang menunjuk mana yang kumau. Kita memanjat pohon jambu di samping rumahmu. Bila sedang musim, bapakmu melarang kita memanjatnya, takut ada dahan yang patah. Buahnya selalu lebat, kan? Seiring tak ada Bapakmu, jambu itu ditebang. Dan pohon delima, kau selalu berteriak-teriak menunjuk buah-buah yang masak dan aku memetiknya sekali pun di ujung dahan. Kulemparkan padamu. Dengan tangan membentuk serupa corong menghadap langit, kau menyelamatkan buah-buah petikanku.

Di kampung, tidak ada orang yang dekat denganku melebihi dirimu. Tidak ada teman bercerita lebih baik untukku. Saat SMP kita tak pernah sekelas. Tapi kita pulang bersama dan di kampung kita bersama. Ketika aku mulai pacaran, kamu teman curhat yang tepat, padamu kuminta pendapat boleh atau tidak. Kamu memahami semuanya, Na. Semuanya.

Di SMA. Aku paling ingat ketika kau dan Genk Seroja-mu itu tiap Kamis pagi memenuhi pintu untuk bercerita tentang sinetron Jangan Berhenti Mencintaiku. Kalian sama-sama membenci Andre (Tommy Kurniawan) yang memperkosa Suci (Inne Azri) dan menjadi suami kejam. Dan kamu, Na, termasuk yang paling banyak desus. Lalu suaramu dan lekuknya ketika menyanyikan lagu dangdut Bunga dan Kumbang denganku, aku mencintainya. Kau punya modal besar menjadi penyanyi dangdut, Na. Kau lebih bagus menyanyikan Memandangmu-nya Ike Nurjannah daripada penyanyi aslinya. Sayangnya, kamu pemalu dan tidak pernah mau berada di panggung sepertiku.

Dan kau lihat bagaimana takdir menampi-nampi kita pada beberapa mozaik hidup ini? Segalanya sama. Kita pernah ketakutan melihat takdir berkitar-kitar di atap rumah. Tuhan selalu memberi hal yang tak jauh beda. Aku tak lulus SMA, kau juga. Ikut paket C gagal, kau juga. Tidak lulus ikut tes kuliah, kau juga. Ketika itu kita dihibur bersama-sama. Di rumahmu oleh seluruh keluarga kita. Lalu, ayahku meninggal, bapakmu juga.

Mestinya kita percaya bahwa sebenarnya kau dan aku ditakdirkan berada pada garis nasib yang sama maka Ia memilih menyatukan kita. Agar saling menguatkan. Agar saling mengingatkan. Dan orang-orang memberi gelar Teman di Kandung untuk kita. Dan kita selalu bercanda barangkali kelak Tuhan akan menjodohkan pula aku denganmu. Tak ada yang mustahil, bukan? Tak ada pemuda yang boleh memboncengmu, kecuali aku. Dan aku tidak akan diomeli Umi jika memboncengmu.

Aku semakin dewasa, Na. Dan merantau. Rantaulah yang ternyata memisahkan dua makhluk yang kerap diberi nasib serupa. Kita pernah membenci garis hidup yang kerap kejam. Mengapa Tuhan selalu memilih kita untuk hal-hal yang demikian buruk, tanya kita suatu waktu. Hari ini aku sudah paham maksud Tuhan. Dia memang maha benar dan aku berjanji tidak akan pernah lagi menghujat Ia.

Na, tidak ada kamu bersamaku pada tiap hari di sini. Itu sangat buruk. Aku tidak bisa mengatasi pendidikanku secara maksimal seperti ketika adamu. Hei, masih kau ingat siulanku tiap pagi pertama aku pulang ke rumah tetanggamu? Tiap pagi pertama aku setia menanti kamu keluar dengan wajah kusut dan menyapu halaman agar aku bisa menemukan beberapa garis hidup masa silam pada tatapmu yang kalam.

Teman di Kandung sudah tak sering bersua. Nasib kita tak lagi sama. Kau wisuda, aku belum. Kau mengajar di sekolah, aku di sanggar-sanggar. Kau tunangan kemarin, aku baru saja dapat izin. Tapi percayalah, aku akan mengejarmu seperti ketika kau diantar ke sekolah dulu. Dan, selamat berbahagia, Nirnaku.

(NSA. Alue Naga, 4 Agustus 2014)