Tentu bYasalamisa kau bayangkan bagaimana tatapan orang kampungku yang awam begitu melihat seorang pemuda pulang di rantau yang perantauannya untuk menuntut ilmu, dengan penampilan paling tidak rapi. Mata-mata itu seperti menghardik, menyindir, kesal, nanar. Aku tidak pernah peduli. Toh, Kuta Bakdrien bagiku sudah serupa tempat singgah, di mana sejenak kukutip kasih sayang Ibu, pergi lagi sepekan setelah itu.

Aku kesulitan kembali ke masa silam. Begitu sulit berbaur dengan keadaan yang semakin jarang. Perjumpaan singkat di kedai, jalan, hanya menghasilkan percakapan sesingkat menit. Beberapa mata lain, gadis-gadis yang ketika kurantau silam hanyalah anak kecil, cuma berani menatap sekilas, asing, dan kemudian kutemu lirik mereka berbisik-bisik sembari sesekali menyengir satir.

Pagi lebaran di Kuta Bakdrien, seperti di kampung kalian, ramai dan bising. Bisa kutemukan sebuah kepulangan hari ini. Dalam keadaan tidak lagi gondrong, bersilaturahmi adalah masa menuai puji. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan usil tentang kuliah dan kapan kawin. Tuhan melindungiku dari ini, syukurlah. Namun, keusilan orang tua memang tidak berbatas ada. Pertanyaan dan pernyataan yang menghinggapiku jauh lebih nyeri,”nanti mau menikah jauh, ya? Di sini saja. Dengan anak Makcik boleh? Dia sedang mengaji!”

Oh, Tuhan!

Sore tadi, ketika duduk dengan tuha-tuha gampong, beberapa dari mereka adalah guru saya mengaji, beberapa teman sebalai silam, canda mantiq mereka benar-benar bikin geli. Aku mati kalam pada kala sudah timpal menimpal nyataan. Beberapa gadis kampung kami yang sedang mengaji di pesantren-pesantren besar, dipuji-puji di hadapanku sehingga tampaklah serupa pemilik pohon durian menyatakan betapa lezatnya buah-buah hasil kebunnya itu.

“Agar kau pulang ke sini untuk menjadi guru sekaligus pengganti teungku, Za,” ucap Wandi, teman sebalaiku yang kini sudah menjadi teungku.

“Bisa kubaca jiwamu, teungku Nazar! Kamu harus mendapatkan gadis terbaik kampung kita ini,” timpal Sukardi sembari tertawa geli.

“Gadis di sini tak kalah cantik dari gadis di kota, Za. Justru lebih baik,” tambah tengku Suryadi.

Aku hanya menunjukkan raut serupa bertahun-tahun silam, lugu dan selalu tersenyum lebar. Suara mengaji di masjid mengenyahkan canda kami. Tidak begitu banyak jamaah, tapi setidaknya aku bisa merasakan kenangan menguap memenuhi masjid. Konon, di sinilah dulu kami memuliakan Kuta Bakdrien, bertarung demi menjadi seorang dipercaya teungku menjadi pendamping dan penerusnya. Di sini, kami pernah berdaras, berdarus, mendekam, dan menerima hukuman.

Pulang shalat maghrib, seorang ibu mendekat padaku,”nanti Subuh akan kuperkenalkan teungku dengan anakku!”

Yassalam.

NSA, Kuta Bakdrien, 29 Juli 2014