3465106753_9047a8afe7Pastura hati kita yang oleh sebab ketidaksabaran dan terlalu percaya pelan-pelan hanya menyisakan rumput merah. Di wajahmu  yang resah penyesalan tergurat parah. Ia memanjang sejarak jalan yang menghubungkan kota ke lingkup hutan teduh ini beberapa tahun silam telah lunas dimamah.

Hutan-hutan kita dimatikan bandit kota sehingga telah tidak bisa lagi kau dan aku melunas rindu dalam peluk lembut angin dan dingin yang dibawa ke pastura. Kita menerima gigit panas yang berat. Dan dalam keputus-asaaan akut, engkau berulang kali mengirimiku seamplop surat yang mengabarkan rindu pada lembab tanah, teduh daun, dan jutaan pohon yang tegap melindungimu. Yang seperti aku, katamu. Yang seperti dulu.

Namun bagaimana ia kembali kecuali setelah kita sadar untuk menanti tumbuh hutan teduh itu lagi dan tidak serta merta percaya pada bualan yang dijanjikan mulut tirani. Bagaimana ia kembali jika kita tidak merawat cinta setiap hari dan menyiram rumput di pastura kita sendiri dengan ketabahan tiada peri.

O, kekasih yang rindu telah lama kau rawat. Akan kita temukan semua jawab jika kelak kau dan aku tidak salah memilih ruwat.

(NSA, 06 Juli 2014)