85f1b-suratsuarapilres2014Percayalah, saya sudah memutuskan pilihan untuk tidak Golput dalam Pilpres sebentar lagi. Namun, sampai detik tulisan ini hadir, saya belum dapat memutuskan akhirnya harus memilih siapa. Bukan sebab awam, tapi lebih kepada risih pada apa yang saya lihat dilakukan oleh pendukung kedua belah pihak yang sebagian daripadanya membela capres pilihan mereka seperti membela agama.

Memang, satu hal yang paling menarik dalam jelang Pilpres kali ini adalah ketika banyak orang berbicara politik, bahkan yang dulunya netral sudah memutuskan terjun. Di satu sisi, nampak demokrasi berjalan baik dengan semua bersuara. Namun di sisi lain, ada banyak suara yang keluar lebih condong menunjukkan betapa egois atau buta atau kejam atau awam atau bodohnya kita.

Dalam hal capres-cawapres, saya menangkap satu keniscayaan kebenaran pepatah China bahwa musuh dari musuh adalah teman. Entah mengapa saya sangat yakin, sebagian (entah kecil atau besar) dari pendukung Jokowi adalah mereka yang tidak menyukai Prabowo. Apalagi ada istilah “memilih yang baik di antara yang buruk” baru-baru ini muncul dari kalangan pemilih Jokowi. Bukankah itu sekelumit bukti bahwa kita masih memegang prinsip,”daripada leuh keu bui, leubeh get leuh keu mi”? Dan memang ada sebagian (juga entah kecil atau besar) yang memilih Jokowi sebab merasa percaya¬†pasangan ini bisa membawa bangsa ini ke arah lebih baik.

Ada banyak kawan saya yang dulunya benci Jokowi malah sekarang berbalik mendukungnya bersebab lawan Jokowi adalah Prabowo yang konon katanya memiliki catatan hitam (baca: kleng traa alias hitam ta’ala). Prabowo dalam catatan mereka adalah lelaki yang tangannya berlumur darah, nista, dan berpotensi mengulang kisah suram Orba.

Saya pribadi sempat sangat muak mendengar nama Prabowo. Waktu masih menjadi pengantar beras bagi alm. Alimuni (GAM), saya dengar nama Apajawa itu disebut dengan menambah kata “anjing” di ujungnya. Kebencian saya sebagai orang Aceh terhadap Prabowo kian bertambah setelah kemudian menemukan foto kliping koran yang bertulis,”Brigjen Prabowo Subianto: Tidak Ada Jalan Lain Kecuali Operasi Militer”. Belum lagi saya baca kejahatan orang-orang di samping dia. Belum lagi saya tidak merasa Hatta Rajasa itu sebagai sesuatu yang penting ada. Namun Prabowo saya nilai akhir-akhir ini kurang panik. Itu keren. Dan dia seperti bandit yang diam-diam menusuk lawan.

Dan saya juga tidak lupa bagaimana perlakuan Megawati terhadap Aceh. Apakah Operasi Militer di Aceh semata-mata pekerjaan Prabowo? Tidak! Megawati waktu itu presiden dan dia menyetujui Operasi Militer yang saya pikir ia merasa senang atas laporan banyaknya kematian di pihak GAM. Sama bejatnya. bukan? “Sipeh neurok, sirok bajo, sidong keudroe, sama saja”. Ya, Jusuf Kalla berjasa dengan menjadi inisiator perdamaian Aceh dan Jokowi tidak jahat di sini. Baiklah. Tapi di belakang Jokowi itu ada Megawati. Dan Mega, aku yakin (kalian sebenarnya juga yakin, kan?) tetap akan memiliki andil besar dalam pemerintahan Jokowi jika ia menang. Dan Wiranto? Saya pernah dengar nama Apajawa ini juga sebagai pelaku kejahatan di Aceh. Pernah. Dulu, waktu saya baru tahu sengsaranya hidup di negeri perang.

Saya belum memilih. Tapi firasat saya berkata, Prabowo akan menang. Entahlah, saya bukan nujum dan firasat saya tidak harus kalian percayai sebab barangkali (dan ini bisa jadi) saya berkhianat pada firasat saya di hari pemilihan nanti seperti juga bisa jadi saya akan menuruti firasat saya sendiri. Dan, bukankah saya bebas memilih siapa pun sesuka saya sesuai keinginan dan pandangan saya secara pribadi?

(NSA, 6 Juli 2014)