BinlvqTCYAAcZ35(18’th Bunga Nabilah)

Rinduku adalah hujan yang tiba secara tiba-tiba pukul dua puluh lebih tiga puluh lima menit pada tanggal delapan. Aku terjaga sebab sesuatu yang aku tidak ketahui. Dari jendela kamar yang (lupa kututup senja tadi) menghadap ke selatan aku menemukan gigil serupa pernah. Tapi entahlah. Aku menutup jendela paling kiri dan membiarkan dua daun lagi terbuka. Kunikmati gigil itu. Serupa pernah. Aku duduk di ujung tilam. Serupa pernah. Tapi. Entahlah.

Rinduku adalah seorang bocah perempuan kurang gigi tiba padaku tapi tidak kuketahui ia masuk dari celah mana. Pintu kamarku masih terkunci seperti petang tadi. Apakah melewati jendela? Tidak mungkin. Terlalu tinggi untuknya. Dia duduk membaca salah satu buku prosa dari sekian buku yang berserak di lantai. Aku memandangnya dengan cinta pertama. Dia memandangku dengan rindu pertama. Kami menyatukan pandangan yang menggigil sebab hujan semakin deras sampai pandangan itu saling peluk.Dan bocah itu menangis. Aku tidak tahu mengapa. Tapi. Sudahlah.

Rinduku adalah pejam. Berhari-hari. Bermalam-malam. Dan ketika terjaga delapan belas tahun kemudian, peluk itu hilang. Di almanak kamarku tertera angka sembilan. Mestinya bocah kurang gigi itu ada di sini agar kuhadiahkan padanya sekotak sunyi sebagai ucap selamat bertambah usia lagi. Tapi. Begitulah. Tiba-tiba rindu meraup menjadi sepi. Di luar hujan tengah deras sekali.

(NSA. Alue Naga, 9 Juni 2014)