481209_156442537853256_1181789195_nHei, serigala. Kabarku baik-baik saja, sebaik-baik saja surat yang tiba padaku setelah tujuh tahun kau tulis dengan kecamuk rindu kama hatimu. Sebegitu jarakkah kita sudah sehingga untuk menyampaikan satu pesan saja membutuhkan empat belas kali pertukaran musim lamanya?

Tidak perlu kau ketahui, kekasih, bagaimana aku ketika menerima selipat surat bersampul kesumba dari tangan lata lelaki bangka yang  sudah kubunuh sebelum kutulis balasan suratmu sebab ia begitu lalai menyampaikan pesan penting itu. Kugantung kepalanya di dahan randu sedang tubuhnya kubenamkan di kuala tempat tubuhku disampirkan laut jelaga selepas dilantak badai yang—betapa sialannya dia—telah membuat kau berpikir aku mati nirpusara.

Tentu saja aku ingat suatu pagi hujan sebelas tahun silam di kamar murkaku, sambil saling melecut tatap kepada dua tanganmu kuselipkan mantra rahasia pemanggil ruh kata-kata. Aku ingat bagaimana ranum bibirmu menghafal mantra itu sefasih-fasihnya, sebersih-bersihnya. Hanya padamu, tidak pada lainnya. Sehingga kemudian betapa kata-kata itu demikian akrab denganmu. Tidak lagi denganku.

Sisa kata-kata padaku umpama perigi kemarau yang tak lagi cukup menandaskan haus seorang pengelana sekali pun. Begitu kering meski telah kutenggak beberapa botol tuak sebagai picu, tak terpicu. Begitu kering meski telah kugali berhari-hari tidak juga kutemukan mata air. Begitu kering sehingga setelah kelelahan, aku jatuh telungkup (seperti rebah serah di tubuh kamamu) dan bermimpi kata-kata itu mengucapkan selamat tinggal padaku lalu memasuki kepalamu: kepalamu sudah menjelma sebuah rumah kayu tua di tengah hutan rindang dengan halaman ditumbuhi bunga mahawarna, di halamannya sebuah bangku panjang tempat sepasang kekasih saling manja melunaskan siang dengan membaca sehimpun puisi cinta serta daun-daun berwarna kuning-merah tiap hari jatuh dibiarkan berserak sehingga kuning-kesumbalah segalanya, sekuning-kesumba berahi cinta mereka.

Sebab itu, aku tidak bisa fasih menyampaikan apa-apa padamu kecuali betapa kerinduan telah sepekat mendung tak kunjung pecah hujan dalam diriku. Dia menggantung sekian lama di hatiku. Dan hatiku, tidak kuketahui apakah ia masih memiliki dahan bagus demi menahan kesemakin-buntingan rindu itu, sebagus, setahan kehendakmu sebelas tahun lalu.

Aku tidak dimakamkan laut. Dan kau sudah memilih tempuhmu? Sejak kapan aku menolak keinginanmu, kekasihku? Pilihlah. Laut tidak memakamkanku sebab tempat kubermakam adalah hatimu. Simpan jasadku di sana, Zu. Simpan sampai kapan hendakmu. Aku akan datang pada beberapa malam hari kelak untuk mengajarimu cara berlari. Dan kau, maksudku kita, akan lari dari semua keburukan yang terlanjur terbubuhkan.

Zu, dua botol Vodka di kamarku telah kuhempaskan ke lantai, aku tidak akan menenggaknya ulang. Tidak akan lagi. Kau harus bahagia. Dalam cekaman kesendirian, aku tidak butuh apa-apa selain engkau, kekasihku. Kecuali itu, ketika pecahan kaca itu kutusukkan ke perutku, darah mengalir ke lantai kayu. Pelan-pelan, dalam penantian kematianku, kusaksikan darahku membentuk dirinya sendiri, menulis namamu.

Alue Naga, 1 Juni 2014