481209_156442537853256_1181789195_nWarning: ini serius dan saya sedang marah!

Begitulah, akhirnya tadi selesai juga saya menjuri lomba baca puisi tingkat siswa di PKFA 5 Fakultas Adab UIN Ar-Raniry. Tidak sulit menentukan juara satu. Dari ketika ia berdiri dan memulai, sudah saya taksir dia bakal menang. Dan benar, dia juara pertama. Posisi dua dan tiga harus menunggu sampai tutup. Tapi, sebenarnya juga sudah terlihat di awal.

Hanya saja saya dan Junaidi Zainal Arsyah (juri II) tidak ingin terburu-buru mengklaim juara terlalu dini. Sebab mungkin jadi akan ada yang lebih bagus bacaannya atau lebih layak menang di akhir nanti. Ketiga mereka yang terpilih, kentara sekali bagus intepretasi, mimik, vocal, intonasi, artikulasi, dan pemenggalan katanya dibandingkan yang lain. Saya pikir, siapa pun juri hari ini, dia tidak akan memilih berbeda dari yang kami pilih. Tidak akan.

Justru yang sulit di sini adalah menerima kenyataan. Oh, Tuhan, siapa yang mengajarkan sebagian besar peserta ini teknik membaca puisi? Jika guru, rupanya masih terlalu banyak ya, guru (seni/sastra) yang bertugas mengajarkan muridnya membaca puisi di sekolah-sekolah yang tidak pernah belajar dari apa yang mereka lihat pada lomba-lomba sebelumnya. Tidak pernah peduli pada perkembangan tata cara pembacaan puisi yang ada.

Sebagian orang berpikir, baca puisi, ya, membaca puisi saja, tidak ada aturan baku. Iya, jika kalian membaca puisi di acara-acara bebas. Tapi dalam lomba mana pun yang kalian ikuti, bukankah kalian tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa ada tata cara tertentu agar puisi yang dibacakan itu terdengar bagus dan pesan puisi tersebut tersampaikan kepada pendengar?

Apakah cara membacanya harus sama, dengan vokal bulat “sehingga A terdengar AO dan hentakan-hentakan itu harus terpatah-patah? Tentu saja tidak, kalian tahu bagaimana mengintepretasi sebuah puisi. Gaya baca, selingkung diri, gerakan, intonasi, itu harus kalian eksplorasi sehingga punya bentuk sendiri. Ketahuilah, yang juara pertama tadi, dia tidak membawa puisi dengan gaya selazim kalian dengar. Dia berbeda, sangat teduh, tenang, tanpa seringai, tanpa hentakan yang menggebu-gebu, tanpa getar yang berlebihan. Mengikuti tatacara tanpa harus sama, bisa paham, kan?

Kutaksir sebagian besar dari guru-guru/pengajar itu hanya mengira-ngira tata cara membaca puisi yang baik (padahal mungkin sudah tidak seperti yang ia kira) lalu mengajarkan muridnya, lalu membawa mereka ke lomba, lalu kalah, lalu mengajar lagi hal yang sama, ikut lomba lagi, kalah lagi, lalu….

Baiklah, tidak semua guru tahu cara membaca puisi meskipun dia pernah belajar sebanyak empat SKS mata kuliah Puisi atau pernah melihat orang baca puisi. Mungkin juga ketika dulu dia tidak punya jiwa di bidang itu lalu tidak mau ambil pusing sama sekali. Kelak ketika ia jadi guru, begitulah, diajarkanlah baca puisi anak didiknya asal-asalan, seenak perutnya.

Namun, saya anjurkan satu cara bagi guru yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang perkembangan baca puisi, tidak salah kalau kalian minta bantuan dari pihak lain untuk sekedar mengajarkan anak-anak didikmu. Tapi di sini, lihat dengan jeli siapa pengajar dari luar itu. Atau, apa susahnya kalian buka internet (jika tidak bisa, suruh murid kalian membukanya) untuk melihat dan mendengar puisi yang dibacakan dengan baik.

Jika sudah berupaya dan muridmu kalah juga, baru boleh mengembalikan nasib anak-anakmu ke telinga dan coretan tangan juri. Lain waktu anak didikmu diajari lagi, sebab bisa jadi semangat, kesehatan, atau keberuntungannya saat ikut lomba tersebut sedang tidak baik.

Dan tadi saya temukan satu prasangka lain, jangan-jangan guru-guru di sekolah memilih siswa pandai ceramah sebagai peserta baca puisi juga. Sebab suara anak itu lantang dan bulat, vokalnya bagus, dikirimlah ia dengan menyisipkan sebuah ucapan bijak,”baca puisi itu tidak jauh beda dengan ceramah, kamu pasti bisa. Suaramu bagus!” Olala!

Ayolah, kalian (para guru/pengajar) menentukan perkembangan pengetahuan generasi bangsa. Jangan tutup mata pada perkembangan dunia. Kasihan anak-anak muda itu, siswa-siswa kalian yang terus kalian sumpal kepalanya dengan teknik dan teori lampau. Ini masa mereka, masuklah ke dalamnya. Masa kalian sudah lewat. Jangan sampai kita membenarkan ungkapan salah seorang bandet kampung saya, “guru asai-asai, nyang na carong cit bangai. Bangai droe mantong hana pu cit, nyoe ijak peubangai aneuk mit rumoh sikula!”

(KJ, April 2014)