Faktor CBagaimana mungkin saya percaya kalian sudah melupakan Genk Apache. Nama mereka setidaknya masih bisa kalian baca di museum Negara Kesatuan Mauro Raya ini. Bukankah pada kartu jaminan perawatan (sebab kesehatan tidak bisa dijamin) masih juga bisa kalian baca nama sang dermawan kita, Muhammad Pengko Khan? Baiklah, sudah cukup mengangkat ingatan kalian yang barangkali sudah terendam kepada kawanan yang besar sekali jasanya pada Negara ini. Sekarang saya akan mengabarkan sesuatu yang sangat penting. Seduhlah kopi kalian sebagai persiapan membaca kabar ini.

Sebuah surat kabar di Negara tetangga, Indonesia, menurunkan berita menggemparkan. Adalah Shakir, yang kita ketahui sebagai pecinta ulung dan sangat setia telah ditangkap oleh pihak keamanan di sana sebab tuduhan perampokan. Rakyat se-Mauro Raya tidak bisa percaya pada berita ini. Mereka menghubungi duta besar di negara tetangga. Benar adanya, Shakir ditangkap pada Selasa malam bersama barang bukti.

“Bagaimana kabarnya sekarang, Lah?” tanya Pengko yang setia kawan itu setelah terkejut membaca berita tentang Shakir, melalui telpon. Dia sekarang berada di Somalia, membantu anak-anak kelaparan di sana.

“Jangan panggil saya Lah saja, Pengko. Nampak sekali saya bukan orang kaya!” jawab Wak Lah. Masih sempat ia mempersoalkan nama padahal kabar Shakir adalah hal utama.

“Baiklah, Wak Lah Violeta, bagaimana kabar Shakir?” ulang Pengko agak kesal. Gelar Violeta dipasangnya sendiri untuk menjelaskan betapa dia menyukai warna ungu sebab melambangkan janda.

“Wax, pakai X. Kamu cepat sekali melupakan nama besarku, Pengko!”

“Oke, Wax Lah Violeta. Bagaimana kabar si Shakir sekarang?” bentak Pengko.

“Hehehe. Begitulah, kan enak didengar. Nampak aku sebagai seorang yang…”

“Bagaimana kabar Shakir!” Pengko geram.

“Katanya akan dibuang ke Nusa Kambangan. Tak apa, Pengko. Mau dibuang ke mana pun, si Shakir juga tidak akan mendapatkan cinta Jingga. Lagi pula ini salah dia. Untuk apa dia merampok bank di sana? Kalau ingin membantu rakyat, bukan merampok caranya. Itu kan sama saja dia dengan koruptor!” Wax Lah Violeta panjang lebar.

“Terimakasih kabarnya. Aku akan pulang ke Mauro Raya besok. Kamu juga harus pulang. Hubungi Anjali di Manchester!” perintah Pengko.

Wak Lah yang merasa kurang berkenan melepas Shakir segera menolak,”begini, Pengko. Bukan aku tak berkenan membantu Shakir. Tapi, apakah kamu lupa, ada beberapa proyek baju ungu untuk majlis taklim janda-janda di Milan ini belum rampung kupasok?”

“Baiklah. Besok aku akan ke Milan dulu. Semua hartamu kucabut!” ancam Pengko.

Bukankah kita semua ketahui bahwa semua harta yang dimiliki Wak Lah adalah milik sang rupawan, Pengko?

“Hehehe, aku cuma bercanda lho. Pengko cepat kali marah ya sekarang? Nanti hilang gantengnya. Ayoo,” rayu Wak Lah sebagai kilah. “Sekarang Wax Lah akan telpon si Anjali hitam ya. Tenang, Pengko. Semua lancar!”

Telpon dimatikan.

***

Entah dari mana kabar berhembus, Bandara Sultan Akmal van Roem di Mauro Raya sudah dipenuhi Pengko Cool Fans dan para awak media. Pengko berjalan di belakang kedua kawannya. Nampak Wax Lah Violeta dan Anjali Dotkom (Dotkom ini dipakai agar terkesan dia orang Inggris, ini usul Wax Lah) melambai-lambai tangan ke para wartawan. Namun wartawan tidak peduli. Mereka berdesakan ingin mewawancarai Pengko Khan. Namun sang tampan yang mengenakan jas putih tersebut mengisyaratkan buru-buru.

Demi tidak mengecewakan awak media, Wax Lah Violeta dan Anjali Dotkom segera menuju mereka. Keduanya berdiri dan mengatakan siap untuk diwawancarai. Namun para wartawan langsung berbalik badan. Tinggallah mereka berdua dengan wajah menyedihkan.

Nun di Jakarta, Shakir masih dalam penjara. Dia mendapatkan siksaan yang berat namun tidak dinampakkan bahwa ia lemah. Tiap dipukuli dia berpekik,”Jinggaaaa!” seolah nama itu sudah menjadi mantra ampuh penawar lukanya. Para polisi dan tentara berduyun-duyun datang memukulinya, dia tak bergeming. Shakir malah tersenyum, memamerkan barisan gigi, mahkota liarnya yang berkilat-kilat diterpa cahaya.

Pengko mengatur rencana di hotel Hermes Nazar. Telah ditentukan waktu penyerangan ke penjara yang didekam Shakir. Malam hari, pukul dua.

Wax Lah Violeta lebih dulu dikirim ke Jakarta demi mencari tahu tempat. Sedangkan Anjali Dotkom mencari pemasok senjata. Pengko akan berangkat bersama Anjali Dotkom. Di Jakarta, Wax Lah kesulitan mencari Shakir. Tiap penjara yang didatangi, tidak ada terpidana bernama Shakir. Ada keraguan dalam hati Wax Lah bahwa Shakir sudah mengganti namanya. Dia menghubungi Pengko.

“Apa namanya, Pengko?” tanya Wax Lah kesal.

“Shergill. King Shakir Shergill. Dia seorang pengasuh rubric puisi di Koran Waktu. Coba cari tahu!” jawab Pengko di seberang.

“Apa, Shergill? Kamu lupa membelikan dia kaca atau memang dia tidak pernah sadar bahwa nama itu terlalu keren untuknya?” Wax Lah geram.

“Panggilannya lebih keren lagi, Lah. Jimmy. Shakir dipanggil Jimmy di Jakarta,” jawab Pengko sembari tertawa.

“Jiiimmyyy? Dari suku kata mana dia ambil panggilan itu, Pengko? Apa hubungan King Shergill dengan Jimmy?” Wax Lah tertawa. “Sialan si Jimmy. Baru sampai Jakarta saja dia begitu susah dicari.”

***

Pencarian Jimmy selesai. Genk Apache sudah berkumpul di zona serang, tak jauh dari penjara. Wax Lah, sungguh sialan, rupanya sempat menggoda salah seorang penjaga pintu penjara yang kebetulan janda.

“Mukanya sangar, Pengko. Tapi itu tidak penting. Asalkan dia janda,” ucap Wax Lah setengah berbisik ketika mereka mengendap-endap masuk ke daerah penyerangan.

“Apa pentingnya janda, Wax? Wajahlah yang utama,” potong Anjali Dotkom. Matanya awas sekeliling.

Wax Lah yang merasa tersinggung langsung berhenti. Kedua kawannya juga.

“Apa pentingnya, tanyamu? Untung kamu panggil namaku pakai X, kalau tidak, sudah kusuruh gali kuburmu sendiri di sini!” semprot Wax Lah. “Masih mending aku suka janda, tapi ada pasangan. Dari pada kamu, suka gadis, tapi tidak ada seorang pun yang sakit mata mau menerima cintamu. Kasihan sekali kamu, Dotkom!”

“Jangan menghina, Wax. Dulu ada gadis Manchester yang dekat denganku,” bela Anjali. Pengko segera melihat kawannya yang berkulit legam dan berambut keriting itu dengan pandangan sulit percaya. “Tapi…”

“Tapi apa?” tanya Pengko dan Wax Lah bersamaan.

“Suatu hari kami berangkat ke Liverpool, menonton bola. Ketika pulang, dia bertemu teman lelakinya. Aku menunggu mereka selesai bicara sampai tertidur di café klub Liverpool. Begitu terjaga, dia sudah tidak ada. Kasir café itu memberikanku selembar kertas yang dititip calon pacarku itu. Di sana tertulis, aku pergi dengan pacar baruku, ya. Hancur hatiku, kawan!” Anjali menelan ludahnya. Wax Lah berlinang air mata. Pengko menepuk bahu kawannya yang jelek itu agar tabah.

“Lalu kamu pulang?” tanya Wax Lah.

“Tidak, aku pergi dengan mobil gadis itu. Dan uangku habis untuk membayar airnya. Aku mengemis seminggu di sana. Untung ada Shergill yang sedang melancong ke Inggris. Dia mengajakku pulang, walaupun pada teman-temannya dia mengaku tidak mengenalku. Katanya dia kasihan pada pengemis, maka dia beri tumpangan!” adu Anjali Dotkom. Tak terasa air matanya mengalir.

“Apa, Jimmy Shakir Shergill tidak mengakuimu sebagai teman? Sombong sekali dia!” Wax Lah marah.

“Cukup! Kita harus beraksi sekarang,” tutup Pengko. Wax Lah berbisik pada Anjali tentang akan dibalasnya perlakuan Shakir tempo waktu.

***

Penjara besar itu sepi. Beberapa penjaga terlihat sibuk berbicara dan tertawa-tawa. Pengko menyusup lewat pintu belakang yang sudah terbuka. Konon janda penjaga penjara yang didekati Wax Lah-lah yang membuka pintu itu. Suasana masih aman. Dan sungguh mudah mencari ruang penyergapan Shergill (Shakir) sebab sinar lampu dari ruang itu dipantulkan giginya keluar membentuk bilah cahaya. Belum lagi suara,”Jinggaaaa” yang membahana.

Wax Lah menjaga lorong masuk bersama janda penjaga. Anjali Dotkom bersiap menembak. Pengko mengetuk pintu. Tiga kali diketuk, pintu pun terbuka.

Tuuuuum!

Pistol Anjali Dotkom menyalak. Pengko masuk dan melepaskan tembakan demi tembakan ke arah para polisi di sana. Shakir dilepaskan. Dia yang hanya mengenakan pakaian dalam segera mencopot pakaian salah seorang tentara yang dari tadi menyiksanya. Anjali melemparkan senjata laras panjang pada Jimmy. Mereka keluar.

Wax Lah dan janda yang memberikan peta dan membuka pintu tadi kewalahan mengatasi para serdadu yang semakin banyak tiba. Jimmy datang membantu. Dia duduk memejamkan matanya sebentar. Begitu matanya belalak, dia berubah menjadi Terminator. Dia berteriak dan lari ke hadapan para penembak. Dilepaskan semua peluru yang ada dalam selongsong senjatanya. Sehabis-habisnya, sepuas-puasnya.

“Jiiiiiinnngggggaaaaaaaa!”

Suara itu menggema. Pengko menarik temannya. Mereka harus keluar segera sebab para serdadu semakin banyak datang entah dari mana. Lewat pintu yang terbuka, mereka berlari ke mobil van yang sudah tersedia.

Tuuup…!

Sebuah tembakan seperti mengenai sesuatu. Wax Lah rubuh. Pelan sekali badannya jatuh. Gerakannya slow-motion. Namun dengan sigap, sang janda menangkapnya. Tubuhnya yang lemah digotong oleh Anjali Dotcom.

“Mengapa kau merampok, Jimmy?” tanya Pengko pada Shakir setelah mereka di mobil.

“Faktor C, Pengko. Faktor C,” tegas Shakir.

“Maksudmu?”

“Cinta!” jawabnya tersenyum lebar sehingga giginya memantulkan cahaya.

“Untuk Jingga?” tanya Anjali Dotkom.

“Tidak, untuk bangsa yang melarat. Raja di sini kita sibuk dengan istana. Rakyat merana. Aku cinta pada mereka. Faktor C inilah yang membuat saya bertindak, Tuan!” ucap Shakir tenang. Apache bertepuk tangan tanda bangga.

Nun di pelukan janda, Wak Lah terlihat sengaja melemah-lemahkan dirinya.

(Banda Aceh, Februari 2014)