eka:19’th e-Kawati

Ada api menyambar kota tubuhku semalaman, Kawati
azan Subuh tertatih-tatih menuju kampung dengar
gordin kamarku tersingkap dan kobar cahaya
merayap-rayap dari dinding rumah tetangga

Mestinya kamu tiba dalam rupa sungai
sembilan belas delta: satunya menuju kalapku
pelajarilah hulu, pelajarilah hilir
mengerti pada segala takdir di sepanjang alir

Kamu memang harus menjadi sungai, Kawati?
ilham alam bagi penyair melankoli
di tepimu seribu akar menjalar
benamkan di genangmu yang tenang

Kelak ketika bulan mengangkang lagi
dan pendarnya nyala birahi dan api telah padam
dan kota tubuhku telah khatam aku akan berlayar
kau harus mengalir
kita akan saling mengarah ke lelap matahari kuning

Sungai dirimu barangkali akan terus menjadi gebu
gairah harap samudra menunggu
kota tubuhku barangkali hanyalah menyisa debu
menjadi saksi gelora arusmu

KJ, 14 Februari 2014