NekgamKenangan-kenangan yang hidup adalah kenangan yang meminta ia dituliskan. Aku (kalian juga) terkadang acap membiarkan kenangan demi kenangan menua di ingatan. Kita boleh saja mencoba melupakan kejadian-kejadian buruk masa lalu, tapi tidak bisa menghapusnya. Hanya hal-hal kecil yang bisa hilang, tidak hal besar. Seperti luka, semakin parah, maka ia semakin jelas membekas.

Akhirnya kutulis juga tentang ini. Semestinya tidak. Tapi aku adalah seorang yang yang tidak ingin melupakan hal-hal penting. Bagiku ini hal penting, kalian boleh katakan tidak. Kita boleh berbeda

Nekgam (bapak dari ayahku) adalah lelaki yang paling cepat tersulut kemarahannya. Dia tidak menunggu kapan akan memarahi dan di mana. Pernah sekali waktu dia memarahiku di tengah keramaian kota Blangpidie. Aku kesal betul padanya. Kami tidak pernah mendapatkan keakuran, sepertinya. Aku tinggal bertahun-tahun bersama Nekgam, tapi dia selalu saja memarahiku. Dia memarahi siapa saja jika dirasanya tidak benar. Orang kampung kami begitu menghormati ia.

Teungku Alimuddin yang pemarah, bisik orang kampung. Setengah hati aku setuju, tapi tidak bisa terima mereka mengumpati Nekgamku. Kalian bisa membenci orang tua kalian, tapi orang tua adalah orang tua. Kalian akan hilang kesabaran jika seseorang menghinanya (tentu saja jika hati kalian belum dibutakan benci). Tiap kali kudengar ada anak-anak sebayaku menghina Nekgam, aku akan berkelahi dengan mereka. Sialnya, ketika pulang Nekgam malah memarahiku. Nekgam mengatakan begitu cepat marah. Aku heran padanya.

Nekgam tidak pernah mau disalahkan. Dia mendebatku atas berbagai masalah yang kuutarakan. Dengan tangan kekarnya berkali-kali aku hendak dipukul. Aku kerap meninggalkan perdebatan dengannya tanpa penyelesaian dan berkata bahwa Nekgam memang keras kepala. Dia dengan suara dilemahkan kerap berkata, aku keras kepala. Jika marahnya memuncak, aku menangis. Besoknya aku diberi jajan lebih. Namun sepulang sekolah kami kembali berdebat. Aku sulit menang, Nekgam selalu memberikan logika-logika yang masuk akal.

Barangkali masa kecil, keluarga akan menyuruhmu belajar shalat. Nekgam tidak. Dia memaksa kami shalat dan harus bisa menghafal bacaan tanpa salah. Jika ketahuan meninggalkan shalat, kami dilarang makan. Sebenarnya bisa saja aku pulang ke rumah, tapi oleh sebab entah aku malah menerima hukuman dengan hati dipenuhi kesal. Kami akan lapar sampai selesai shalat Asar jika shalat Zuhur ditinggalkan. Bayangkan jika tinggal Subuh atau Isya.

Lelaki tua itu tidak pernah berubah walaupun semakin renta. Ia menghidupkan panyot. Senja dicuri malam. Anak pertamanya baru saja meninggal dua hari lalu. Dia masih merasakan duka tak terperi. Cucun tertuanya tidak nampak di rumah duka sejak pagi tadi. Dia sudah tak peduli. Pembangkang kecil itu memang sudah kelewatan. Lelaki tua tersebut sudah berjanji di hadapan banyak orang di rumah duka, akan menghukum cucu tertuanya setelah acara tujuhan selesai.

Digelarnya sajadah di samping panyot yang lemah cahaya. Azan belum terdengar. Dia duduk sembari membaca tasbih. Barangkali di wajahnya terlintas rupa almarhum putranya. Dia menangis. Sesosok pemuda tanggung masuk, menghampiri ia.

“Kalau aku shalat, Nek Gam mau menjadi imamku sore ini?” tanya pemuda tanggung itu. Lelaki tua yang di tangannya masih memegang tasbih itu menghentikan tangis.

 Dalam isak suara tuanya dia bertanya,”masih bisa shalat kau, Abang?”

“Nekgam sudah mewajibkanku shalat sejak usia 5 tahun. Aku wudhuk dulu!” ujarnya.

Tidak ada yang jauh beda Maghrib itu. Kami tetap saling diam dan Nekgam paling suka protes. Namun waktu membawaku jauh dari mereka. Nekgam melepaskanku malam pergi dengan derai air mata, dengan segunung fatwa.

Dia mengirimikku surat-surat puitis dan aku dengan setia menunggunya sebulan sekali. Surat-surat itu dibenamkan dalam sekarung beras. Aku selalu memeriksa beras kiriman itu. Dan, bukankah Nekgam pernah berjanji akan menghukumku? Itu tidak pernah terjadi. Aku datang padanya suatu pagi setelah dia shalat subuh, tiga tahun setelah ia mengucapkan janji. Meminta ia melunaskan ucapannya. Nekgam mengambil lidi, dan demi Tuhan tanpa rasa sayang dia menghajar betisku sampai perih.

Aku sudah terlalu besar untuk perih yang diberikan lidi. Dia memelukku dan menangis. Nekgam sudah tidak begitu kuat lagi. Penyakit batuknya semakin parah dan usia membuatnya terlihat lebih lemah. Namun jangan pernah berharap Nekgam menunjukkan raut lelah. Dia masih saja ke sawah, masih mencari lidi-lidi untuk dibuatkan sapu lalu menjualnya ke kampung-kampung dengan sepeda tuanya. Dia masih terlihat perkasa.

Kami berpisah lagi. Aku harus kembali ke Banda untuk kuliah. Nekgam berhenti mengirimiku surat akhir-akhir ini. Biasanya dengan bahasa melayu dia menuliskan surat yang bagus sekali. Seminggu kemudian, aku ingat, kota Banda panas tak alang. Di ruang maya aku mendapat kabar bahagia bahwa sejudul puisiku dimuat di buku antologi bersama hasil lomba. Siang turun, perkasanya mundur. Pada sejam lepas shalat Zuhur di hari yang sama, sebuah telpon masuk mengabarkan Nekgamku sudah tiada.

KJ, 18 Januari 2014