1470793_770259746333941_2084457821_nTersebutlah, sebab kubaca sepotong isyarat dari seorang ahli kerabat yang seolah-olah mengharuskanku menjenguk masa yang lewat. Maka tanpa muqaddimah sebagai kilah memanjang-manjangkan permulaan, serta-merta kukabarkan kepada sekalian handai taulan.

Bahwasanya masa itu ayah mengantarku meneruskan kaji pada seorang teungku di balai  selatan kampung. Ayah berjalan lebih tergesa seperti entah sedang mengejar apa. Sedang aku dengan susah payah mengatur langkah sebab sarung merah yang baru dibeli ayah siang tadi begitu sempit dililit umi. Dari belakang, diterangi bulan lima belas kulihat wajah sumringah umi seperti menyimpan keyakinan bahwa akan jadi aku seorang qari.

Aku ingat, malam itu Jumat. Ketika ayah mengutarakan maksud pada Teungku perihal telah diputuskannya melanjutkan kajiku di balai tersebut, mataku bertemu dengan sebuah senyum dari seorang gadis muda. Bayanya masih sekisar limabelas menurut firasatku. Aku tersipu, merasa seolah dia tersenyum padaku. Aduhai, betapa cantiknya senyum gadis itu.

Selaik yang pernah kutemukan, saban murid baru diantar orang tuanya, pengajian dihentikan sementara. Betapa bahagianya hati teman-temanku sebab mendapat kesempatan bermain-main sebentar di balai, meskipun sekedar saling sentil. Dan gadis yang kutemukan senyumnya baru saja juga tengah meracik tawa dengan teman-temannya. Dia berkali-kali melihat pada kami. Aku semakin malu.

Teungku menerimaku setelah ayah memberikan sebilah lidi belah tujuh dan setalam nasi ketan serta sesisir pisang raja. Perjanjian antara Teungku dan ayahku terdengar ngeri sekali, bahwa bila tingkahku memperkeruh suasana, teungku boleh menghajarku sesukanya dan ayahku tidak akan menuntut. Aku tidak begitu mendengar ikhwal perjanjian ayah. Betapa senyum gadis muda itu telah mengganggu malam pertama aku di tempat mengaji baru.

Barulah ketika ayah pulang pengajian dilanjutkan. Aku bergabung dengan teman-temanku yang telah lebih dahulu diantar orang tuanya ke balai tersebut. Kami akan membaca Dalail, sedang di balai perempuan terdengar gema Barzanji. Aku tidak benar-benar serius mengikuti kawan-kawanku. Pikiranku masih dipenuhi senyum gadis muda yang kutaksir lima tahun lebih tua.

Madah Terakhir terdengar lantun manakala kami sedang istirahat Dalail. Aku berdiri seolah sedang membetulkan sarung, padahal mataku hendak melihat gerangan siapa yang memiliki suara mengalun. Gadis yang memiliki keindahan senyum, oh, suaranya bagai bansi meraung menyusuri sunyi kampung pinggir gunung. Aku terpana.

Bila kelak daku terkenang/ kutatap bintang di malam kelam
Bila tak sanggup daku berenang/ kurelakan diri hanyut tenggelam

Aku menghayati kata-kata itu. Rajin membaca buku telah membuatku sedikit tidak paham pada makna lirik itu, meskipun kemudian hari kuketahui bahwa makna yang kupikir semula tidak mutlak benarnya.

Suara itu menggema sekian lama di telingaku. Aku suka sekali. Lalu sebab tahu dia kerap datang mengaji setelah Asar, aku pun demikian. Maka saban sore aku bisa puas menatap tawanya, suaranya, senandungnya.

Dia benar-benar telah menderaku dengan lantun Madah Terakhir saban malam Jumat tiba. Menderaku dengan senandung serupa pada acap petangnya. Di rumah, ketika umi menyenandungkan syair itu, aku berlari keluar, mengharap kutemukan seorang gadis muda berambut panjang dengan mata bulat berbinar sedang bersenandung dengan raut tenang. Aku terbawa perasaan.

Bertahun kemudian, ketika telah kuketahui makna menyukai dan disukai, aku telah terlambat untuk kembali. Gadis itu telah memiliki kekasih dan sebentar lagi barangkali sudah akan diperistri. Satu pagi ketika hendak ke sekolah, aku mendengar Madah Terakhir mengalun dari rumahnya. Suara dia.

Aku berhenti sampai lagu selesai seolah-olah sedang membetulkan rantai sepeda. Dia keluar  juga. Tersenyum ia selaik pertama kulihat. Senang tak alang hatiku. Maka urunglah aku sekolah hari itu, lalu pulang ke rumah dengan alasan sakit perut. Di kamar, setelah puas mengaduh, seolah sakitku bukan palsu, kututup wajah dengan bantal. Di bawahnya aku tersenyum-senyum senang.

Dia sudah bersuami sekarang. Aku sudah lupakan. Di sini aku mendapatkan seorang lebih cantik darinya. Namun sungguh celaka, link di bawah ini membuatku kembali terkenang dan seolah mengharuskanku menulis semuanya ulang.

http://idrusbinharun.blogspot.com/2010/12/gambus.html?fb_action_ids=10201238766639282&fb_action_types=og.likes&fb_source=aggregation&fb_aggregation_id=288381481237582

KJ, 16 Januari 2014