NulisOleh Nazar Shah Alam

Mengapa kamu menulis dan bagaimana? Pertanyaan ini sering muncul dari mulut orang-orang yang entah belum paham, mau tahu, atau mengejek seorang penulis. Masing-masing penulis punya alasan tersendiri mengapa ia menulis dan masing-masing barangkali punya trik tersendiri. Namun jika seseorang yang menganggap saya penulis bertanya pada saya perihal itu, saya lebih memilih menjawab,”saya juga tidak tahu mengapa menulis. Setahu saya, ya, saya sudah menulis dan suka. Itu saja. Bagaimana menulis, tulis saja sesuka hati apa pun yang ingin ditulis. Jangan meminta wejangan, semua orang berbeda cara melakukan semua hal.”

Semestinya tulisan ini berjudul “Rangkuman 16 Alasan Mengapa dan Bagaimana Menulis”. Tapi demi alasan yang sedikit politis, saya buat judul seperti yang tertera saja. Ketahuilah, tulisan ini bukan mutlak teori saya. Ilmu yang saya dapatkan dari guru, buku, dan terkadang imajinasi liar sebelum tidur serta sambil buang air besar telah membuat saya ingin merangkum dan menyampaikannya kepada saudara sekalian. Sekali lagi, ini bukan berdasarkan pikiran saya semata-mata, ada banyak orang dan pikiran yang berpengaruh di dalamnya.

Mengapa dan Bagaimana Menulis?

1. Menulis adalah agar kita bisa ingat segala hal tanpa alpa setitik pun. Maka semestinya tidak ada dusta dalam apa-apa yang dituliskan.
2. Tuliskan segala kebaikan dan keburukan, semuanya. Beberapa tebarkan agar dibaca banyak orang, beberapa simpanlah untuk diri sendiri.
3. Seseorang bertanya, apakah tidak boleh manipulatif? Kukata, lakukan saja. Tulisan adalah di mana kamu bisa merdeka. Suka-suka kita.
4. Semua hal bisa dituliskan, tapi tidak semua hal perlu dibaca banyak orang. Kadang kita menulis tentang sesuatu yang sakral dan sangat rahasia, ini tentu hanya boleh kita sendiri yang tahu dan baca. Kecuali ingin dipublis juga, publislah.
5. Maka menulislah. Sesuka hati, semau diri. Kalau mau dikenal, kirimkan ke koran, buat buku, muat di blog. Jika mau menikmati sendiri, tulislah di diari atau buku catatan pribadi.
6. Tulisan untuk dibaca umum (baca: koran atau buku) punya aturan-aturannya, kamu harus mencari tahu ini.
7. Menulis di koran atau buku beresiko dimuat atau tidak, diterima penerbit atau ditolak, siapkan mental, jangan cemen.
8. Jika kamu menulis dengan jujur tentang diri dalam bentuk non-sastra, itu beresiko. Tulislah kejujuran itu (dengan sedikit manipulasi) dalam wujud sastra, genre ini akan membuat kamu lebih aman.
9. Sebab sejujur apa pun kamu dalam karya sastra, tak ada yang bisa menjudge. Karya sastra bersifat imajinatif. Kamu bisa membela diri jika dihujat.
10. Berpandai-pandailah menyembunyikan kedirian dalam tulisanmu, kata guruku. Maka buatlah seolah-olah bukan tentangmu, meskipun itu mutlak tentangmu.
11. Dan memang kamu hanya perlu menulis. Jangan berpikir baik atau buruk, jangan bandingkan dengan penulis favoritmu atau orang-orang yang sudah lebih dulu menulis, dia sudah berproses lama, kata guruku, wajar kalau karya dia lebih bagus.
12. Mengapa menulis, sebab dalam hidup kita menemui cerita yang berbeda-beda. Kelak kita akan memerlukan itu, sebagai kenangan yang tak pudar.
13. Terpenting kau tulis saja. Simpan baik-baik tulisanmu, baik yang dipublikasikan atau tidak. Dia akan menjadi lucu ketika kau baca suatu waktu.
14. Kamu tak perlu menjadi penulis dengan genre serupa orang lain. Kesukaan kita berbeda-beda. Tulis saja. Meskipun tak ada yang suka. Setidaknya kamu sudah mengucurkan semua isi kepala.
15. Menulis adalah sebentuk upaya menghargai hidup. Betapa lelah tubuhmu menjalani waktu, tulislah tentangnya sebagai ganti kau beri ia hadiah.
16. Jangan lupa makan dan minum, jaga kesehatan, sebab kamu bisa mati tanpa itu. Bagaimana mungkin kau bisa menulis jika kau mati?

Selamat mencoba!

KJ, 9 Januari 2014