BacaOleh Nazar Shah Alam

Kita sedang berada di negeri yang mana membaca di tempat-tempat umum seolah-olah hal tabu. Nampaknya ini tidak akan berubah juga tahun depan. Maka, segalanya jika terasa kacau selama ini dan ke depan nanti, anggaplah wajar. Kamu temukan orang-orang berpikiran sempit dan menyukai debat kusir. Ilmu semata-mata hanya sahih bila menular dari mulut seorang tua dan atau dituakan, menular bersama umpatan-umpatan terhadap orang yang berbeda pilihan jalan pikir, menular sembari menikmati setengah gelas kopi traktir.

Kita sedang berada di negeri yang mana anak-anak menikmati paha perempuan dewasa bersama orang tuanya dan itu sudah bukan hal tabu. Nampaknya ini semakin parah tahun depan. Ruang menonton di rumah-rumah telah terlanjur ditaklukkan oleh tontonan sampah. Para penonton muda yang labil akan meniru tontonannya tanpa pertimbangan. Semuanya. Semua gerik, laku, sifat, ditiru dengan taat.

Kita sedang berada di negeri yang mana orang-orang tua membiarkan anaknya tidak mengaji malam hari. Nampaknya ini  pasti akan semakin buruk tahun depan. Mereka tidak lagi menghukum anaknya yang tidak ibadah. Sebaliknya, diperas kepala anak-anak mereka dengan beragam kursus (mungkin sebab sekolah sudah tidak lagi cukup memberi pengetahuan) sehingga punya alasan memaksa anak-anak mereka memberi nilai terbaik pada rapor mereka. Anak-anak tidak sempat lagi berpikir cara membuat mainan sendiri. Mereka menyukai segala hal instan. Segalanya. Permainan, makanan, bahkan cara menyelesaikan masalah dengan instan.

Kita sedang berada di negeri yang mana penulis-penulis miskin. Maunya ini bisa berubah tahun depan. Pasar buku buruk. Terbanyak lahir adalah kolektor buku sumbangan (buku-buku yang didapat cuma-cuma dari peluncuran-peluncuran buku teman atau orang lain dan tanpa malu meminta begitu saja) memajang ribuan bukunya di rak-rak pustaka pribadi mereka. Buku-buku selalu terlihat baru sebab memang tak pernah disentuh. Pedagang buku termangu-mangu.

Kita sedang berada di negeri yang mana semuanya orang-orang berlari diumpati oleh orang-orang yang duduk diam. Nampaknya ini akan sama saja tahun depan. Ketika orang-orang berlari mencapai tujuannya, orang-orang diam menyepelekan dan berujar,”hidup ini pilihan!”.

KJ, 31 Desember 2013. 20.30