JundieOleh Nazar Shah Alam

Kota ini sama membosankannya dengan kala dijauhi, katamu. Aku melongo keluar jendela, malam sedang perkasa. Kita saling diam, mengharap segera pagi agar bisa beranjak lagi, pergi lagi dari kota suntuk ini. Di sudut ruang tamu sebuah teplok semakin lesu. Selesu kita yang baru saja tiba. Kota ini kota dusta, katamu sembari mengelus-elus borok sisa luka wajahmu.

“Kita akan kemana lagi?” tanyamu. Aku malas menyahut. Sesuatu sedang bermain di kepalaku, berwujud setan. Setan? Aku terlalu suuzan. Bukannya kita tidak pernah tahu wujud setan? Baiklah, wujud itu jahat sekali dan berulang kali menggangguku. Tapi apakah benar setan adalah satu-satunya ciptaan yang harus disalahkan jika-jika kita terganggu? “Kamu punya usul?” tanyamu lagi.

“Diamlah, bangsat! Aku sedang berpikir bagaimana perjalanan tidak lagi menghukum. Kita menemui orang-orang dungu, menceramahi mereka. Kau dengar dusta merebak pada tepuk tangan mereka?” bentakku.

“Lebih baik. Kau lihat dusta di depan matamu dari banyak mata di sini? Tidak ada lagi perjalanan yang jujur, tidak juga mata. Ada baiknya kita berjalan dan menemui segenap ketidakbiasaan. Aku lebih rela didustai pengelanaan,” kau membela diri.

Aku bengis. Kelana terburuk denganmu telah membuat semangatku jatuh. “Baiklah, aku masih ingin berjalan!”

“Kita memang harus terus berjalan untuk belajar,” bujukmu.

“Belajar? Tentang mati muda sebab merasa sudah cukup bersejarah?” aku makin enggan menatapmu.

“Kamu kalah?”

“Tidak, aku tidak kalah. Aku lelah.”

“Pemalas!”

“Aku rindu!”

“Rindu? Aku akan menabrak seribu domba lagi jika menemanimu dalam keadaan begitu, Setan!”

Teplok di sudut ruang tamu mati. Kau sementara mati. Besok kita mulai kelana lagi.

Ai1, 25 Desember 2013