PengkoOleh Nazar Shah Alam

Untuk menuju saya.

Dalam hidup. Saya pernah merasa kaya dan tentu saja miskin. Lalu kaya tak alang, miskin pun tak ketulungan. Masalah-masalah datang dan tuntas, datang lagi, tuntas lagi. Saya pernah merasakan sakit yang parah hingga seolah-olah kematian sudah berdiri di lengan dan tentu saja merasakan sehat jiwa dan raga tanpa satu pun permasalahan.

Saya rasakan kemenangan-kemenangan yang sangat membahagiakan, kekalahan-kekalahan yang biasa dan menyakitkan. Ditakdirkan tinggal di tempat mewah, juga pernah di tempat miskin sama sekali. Tidur di tilam empuk juga pernah beralaskan bambu-bambu, papan-papan, bahkan tanah.

Di rimba, saya rasakan bagaimana kelam dan tidur ditusuk pentil dingin malam. Di laut, saya rebahkan badan di pasir menatap bintang yang bertebar serupa biji-biji emas dan atau dihantam badai yang ganas. Di kota, saya nikmati siang dengan debu-debu metropolitan, malam panas sisa kesibukan makhluk-makhluk pekerja dan pemalas serta lampu-lampu bercorakan. Di kampung, saya nikmati sawah-sawah beragam musim, anak-anak petani yang kotor, kerbau-kerbau bahagia dan gemuk, tanah lapang dipenuhi gulma tinggi, belakang kampung semak, kebun pisang, kebun ditinggalkan, payau, serta lapangan bola bertiang batang kelapa.

Saya mandi di sungai berbatu besar di mana kalau lelah kami akan duduk di atasnya sebelum meloncat lagi, di sumur yang airnya diambil dengan pelepah pinang yang sudah dibuat semacam timba, bahkan di bawah shower yang menyemburkan air serupa hujan rapat dan kecil. Makan sambal, sayur, ikan asin, bahkan Pizza, burger, dan makanan-makanan asing yang mewah di lidahku. Saya duduk di sofa atau buntal kayu yang kami potong di kebun-kebun dan bawa pulang lalu membuatnya sebentuk bangku.

Saya mencintai dan dicintai. Saya bahagia dan kadang-kadang sedih. Saya bertahan lama dalam satu ikatan serta tak jarang memacari sekaligus beberapa perempuan. Saya pacari gadis kurus, gemuk, cantik, seadanya (kalau tidak kukata jelek), hitam, kuning langsat, sawo matang, bermata bulat, sipit, berambut ikal, keriting berat, atau lurus. Saya begitu paham pada sikap mereka, tidak sama, tapi tak jauh beda.

Berteman dengan penjahat, ustad, teungku (saya bedakan dengan ustad karena memang menurut saya beda), tukang parkir, pekerja warkop, penjahat, penjilat, pemabuk, pendusta, pegawai, peternak, petani, penyair, penyanyi, musisi, dramawan, karyawan, mahasiswa, anak baik, anak durhaka, anak muda, orang tua, guru, dosen, pengangguran, pengemis, koruptor, tukang comblang, playboy, playgirl, siswa, anak-anak kampung, anak-anak kota.

Saya melihat semuanya, merasakan semuanya. Dan beginilah jalan menuju saya sehingga membentuk saya yang kini dan terus menjadi saya yang begini. Beginilah adanya, segala yang saya ketahui dan beberapa tidak saya sebutkan mengetahuinya.

Rumah KJ, 1 Desember 2013