zarOleh Nazar Shah Alam

Aku semakin yakin matahari sudah sangat dekat pecah, Bu. Semakin lama makin percaya. Beberapa gurat putih atau lintang ragam warna selaik isyarat tiba pagi biasa belum pun punya tanda-tanda tampak. Aku percaya sebentar lagi, Bu, garis-garis aurora akan muncul, mula-mula serupa benang, kemudian menjadi garis, lalu membuntal, menjadi naga, dan akhirnya bersimbahlah ia menyerupai tikar indah. Hanya saja ini masih malam, tanpa bulan, kelam masih gagah. Kita tidak pernah bisa menebak apakah langit sedang mendung atau akan cerah. Namun harapan adalah sebuah kemestian untuk kita yang mencari, bukan?

Aku duduk di teras rumah singgah, barangkali sebentar lagi Subuh akan tiba. Tapi itu pun belum ada tanda-tanda. Bintang-bintang di langit kota kita semua alpa tiba, rasanya. Setengah hatiku berharap matahari akan datang untuk kita, Bu. Tapi sebagian lagi aku risau, takut-takut mendung jelang serupa dalam ceritaku: pelan-pelan, membunting, dan pecah. Aku tidak mau pagi datang untuk kita dalam rupa basah. Kita sudah sangat lelah.

Bu, kita bahkan tidak mendapatkan bulan atau sebiji bintang pun di malam yang diberikan Tuhan, ya? Ingin sekali kuanjurkan engkau rehat, kuberikan bantal dan selimut agar mata lelahmu tak belalak lama. Aku semakin resah menatapmu berjalan, Bu. Semakin payah saja, ya?

Aku semakin yakin matahari akan muncul setelah gelap melalang terlalu lama. Apakah karena kita menunggu? Bukan, malam kita memang lebih panjang diberikan Tuhan, Bu. Engkau semakin buyut, aku semakin tua. Kita terus berlelah-lelah untuk keluar dari malam celaka. Dan orang-orang yang merasakan hal serupa telah berkumpul dalam satu jamaah penanti. Beberapa mereka mati dalam malam panjang mereka sendiri. Aku berharap kita bisa menemui pagi. Kalau pun kelak ditakdirkan mati, aku ingin di pelukmu, siang hari.

 

Pengkostadium, 26 September 2013