pengkod copyKarya Nazar Shah Alam

Kopi suguhan Zuraita masih mengepulkan asap tipis di mejaku. Dia berdiri di kaca menatap hujan turun yang pelan-pelan, pelan-pelan, dan melebat. Aku baru bangun tidur dan menatapnya. Rambutnya yang lurus terurai sampai di punggung. Aku mencoba menangkap maksud dia menatap hujan sejak mendung tadi. Dan aku mendapatkan jawaban atas misteri yang selama ini ingin sekali kuketahui.

Zuraita menyukai segala sesuatu yang didapatkan dari proses, tidak instan. Sungguh menjemukan dan buang-buang waktu, rasanya. Dan kami sungguh berbeda; aku—seperti yang kawan ketahui (apakah sudah pernah kukatakan?) adalah seorang terburu-buru dan selalu ingin lekas mendapatkan apa yang kukehendaki.

Sejatinya kami bisa memadukan perbedaan itu dengan kedok saling melengkapi dalam sebuah hubungan yang jelas. Tapi begitulah, manusia kerap tidak berkehendak untuk melengkapi, melainkan selalu ingin dilengkapi. Mungkin aku juga begitu dan Zuraita tak jauh beda dariku.

Zuraita memang misterius. Dia pernah membuatku kesal ketika kuberikan draf buku karya pertamaku padanya sebelum diterbitkan. Padahal aku hanya memintanya membaca, bukan menilai. Dibuka beberapa halaman, kemudian dilempar begitu saja. Aku geram. Betapa sombongnya dia. Sering aku merenung penyebab dia membuang draf itu. Tidak kudapatkan jawaban.

Setahun kemudian dan buku itu resmi urung kuterbitkan—untuk apa kuterbitkan jika Zuraita, gadis yang menjadi ilham cerita-ceritaku tidak menyukainya? Akhirnya kukira aku mendapatkan jawaban pagi ini: ceritaku begitu terburu-buru. Dia ingin cerita yang pelan tapi menjanjikan kejutan. Aku mengejutkannya di awal, dia tak suka. Begitu lama mengetahui maksud seorang pendiam dan misterius.

Sudah tujuh bulan kami tinggal serumah dengan alasan yang entah. Aku tidak pernah tahu dan membahas alasan-alasan mengapa kami bisa bersama. Paling kuketahui, semua dimulai pada suatu pagi. Zuraita datang ke rumahku dan buru-buru mengetuk pintu. Dengan keadaan kuyup dan hanya berdiri di pintu, dia membocorkan rahasia rencana pembunuhanku oleh kelompoknya.

“Ayolah, aku bersumpah orang-orang itu tidak akan membiarkan minggu ini berlalu tanpa kematianmu,” ucapnya setengah berbisik.

“Kamu tahu sebabnya?” aku sedikit ketakutan.

“Kamu harus ikut aku. Tidak ada waktu banyak untuk membahas alasan orang lain dan itu tidak perlu. Kamu harus kuselamatkan!”

“Kita akan ke mana? Tidak ada tempat yang bisa menerima kita, Zu.”

“Tidak ada jika aku mengikutimu. Tapi ada jika kamu mengikutiku. Sudahlah, jangan banyak bicara. Kita pergi sekarang!”

Begitulah, aku mengikutinya. Zuraita terburu-buru berjalan. Aku jauh tertinggal di belakang. Begitu tiba di lorong dekat mesjid, dia berhenti sembari memasang wajah bengis. Aku mempercepat langkah. Tiba di sana, dia mendorongku ke mobil yang sudah menunggu dan aku tidak tahu siapa yang mengemudikan mobil itu.

“Kelompokmu akan membunuhku?”

“Ya, bukan aku.”

“Mungkin kamu akan membawaku pada mereka,” aku memandangnya ragu-ragu.

“Kamu akan mati di mobil ini jika itu yang kumau. Atau jika kubuang di jalan, malariamu akan melenyapkan dirimu pelan-pelan,” bentaknya.

Kami saling diam. Di pinggir laut yang tidak kukenali, malam hari, kami turun. Zuraita mengangkat tasku dan memberikanku selimut. Angin masih sangat celaka menyaru ke tubuhku. Cepat-cepat Zuraita berjalan sembari menarik tanganku. Besoknya, di meja makan dua buku nikah tergeletak dekat piringku. Aku memandang Zuraita. Dia diam saja.

“Aku hanya ingin kelompokmu tidak membodohi orang-orang kampungku lagi, itu saja. Apa aku salah?” ujarku pada malam kedua kami bersama di rumah perasingan.

“Salah menurut mereka!” jawab Zuraita singkat sembari mengaduk kopi untukku.

“Menurutmu?”

“Salah. Dan mereka juga tidak benar. Warga akan membunuh kami jika nyatanya kamu berhasil membongkar kesalahan kelompokku!” disodorkannya gelas kopi padaku. Kami duduk di meja makan ditemani dua batang lilin yang baru dinyalakan.

“Lalu kamu menyelamatkanku? Aku tidak paham. Sama seperti tidak paham pada mengapa kelompokmu menjanjikan wargaku kejayaan tapi berlaku sebaliknya.”

“Itu politik. Semua orang ingin menjadi penguasa. Mereka ingin menguasai kampungmu dan mengambil apa yang mereka mau. Aku tidak suka. Dan menyelamatkanmu, aku hanya tidak mau kamu dihilangkan. Jika pun mati, warga bisa menguburkanmu. Lagi pula aku sudah terlanjur dianggap pengkhianat,” seloroh Zuraita. Kami tertawa.

“Aku mencintaimu, Zu!”

“Kuharap kamu tidak akan mengulang kata-kata itu lagi. Aku hanya menyelamatkanmu, bukan mencintaimu,” Zuraita benar-benar marah, kukira. Dia tidak bicara denganku sampai beberapa hari.

Dia tidak mencintaiku. Tapi mengapa menyelamatkanku dari pembunuhan. Dia bersedia serumah dan menutup kemungkinan orang lain membawa cinta kepadanya atau aku? Kami tidur di kamar berbeda. Aku lebih banyak menghabiskan malam di ruang tamu, lelap di sana. Tiap pagi Zuraita bangun lebih awal dan menyeduhkanku kopi, menyediakan sarapan, memilih baju yang akan kupakai bila ingin ke mana-mana. Siang hari dia akan menungguku pulang, kemudian makan berdua. Malam, dia akan mematikan semua lampu dan memastikan aku sudah tidur atau belum, baru dia tidur. Sesekali dia menyelimutiku, menutup jendela kamarku, menutup pintu.

Aku tidak pernah lagi bertanya padanya mengapa dia melakukan semua itu. Dia pun tidak pernah menyampaikan padaku mengapa. Aku sangat yakin dia mencintaiku, tapi kukira tebakanku salah. Mungkin dia memang tidak bisa mencintaiku. Aneh sekali.

Zuraita lima tahun lebih muda. Kami bertemu dua tahun sebelum kejadian ini di sebuah tempat perumusan politik. Aku adalah anggota di sana saat itu, sedang dia anggota baru. Sekian waktu aku dan dia bertugas bersama-sama. Aku mencintainya. Apakah dia menganggapku saudaranya? Tidak, aku sudah tidak mau memiliki saudara. Orang-orang yang kuanggap saudara kebanyakan menjadi pengkhianat. Dan aku di sini, dalam keterasingan yang hanya ditemani oleh Zuraita, berdua kami, itu sebab harus lari dari kejaran orang yang pernah kuanggap saudara.

“Kamu mencintaiku?” tanya Zuraita semalam padaku ketika ia masuk untuk mematikan lampu.

“Tidak! Maksudku tidak lagi, Zu!”

“Kamu harus mencintaiku. Jika tidak, kamu akan dibunuh di sini oleh keluargaku,” matanya memerah. Aku menatapnya lama sekali. Dia semakin sulit kupahami.

“Aku salah lagi?”

“Kamu melarikanku!”

“Kamu yang melarikanku!”

“Sama saja. Ketika anak gadis hilang di rumahnya, keluarganya tidak akan pernah menyalahkan anak gadis itu. Orang bersamanyalah yang salah, meskipun padahal sebaliknya.”

“Jadi aku harus bertanggungjawab?”

“Kamu hanya perlu mengatakan bahwa kau mencintaiku!”

“Itu saja?”

“Jangan pura-pura bodoh. Ini untuk menyelamatkan kita.” Zuraita menguap. “Boleh aku tidur di sini. Kamu tidak keberatan, bukan?” matanya memohon untuk pertama sekali. Dan itu lucu.

“Kemarilah!” kujawab sambil mengulum senyum.

Hujan pagi ini, betapa ia benar-benar serupa cerita yang suspensif. Digulirkannya gelap pelan-pelan, pelan-pelan, pelan-pelan, lalu pada hitam yang cukup dihempaskannya air-air itu ke bumi. Ya, kami mesti berbicara tentang betapa perlunya merumuskan kembali hubungan demi hubungan yang sadar atau tidak telah memenjarakan diri. Orang-orang ketakutan mendekati aku dan Zuraita sebab dugaan-dugaan yang mereka buat sendiri.  Betapa teraniayanya mereka.

“Bagaimana kalau kita berjujur saja? Lalu saling melepaskan dan melupakan? Kamu setuju?” tanyaku pada Zuraita. Ucapan itu membuatnya menatapku lebih lama dari biasanya. Lebih menyayat.

“Keluar, bajingan!” suara itu mengejutkanku dan Zuraita. Sekelompok laki-laki sudah berdiri di depan rumah kami. Aku keluar tanpa baju, hanya bercelana pendek. Zuraita berdiri di belakangku dengan piyama yang belum ditukar.

“Mereka kelompok atau keluargamu, Zu?” bisikku.

“Keduanya telah bersatu!”

“Untuk membunuhku?”

“Aku juga!”

“Aku mencintaimu, Zu!”

“Sebentar lagi kita akan mati. Apakah cinta itu masih perlu?”

Kami saling menatap. Saling tersenyum.

Pengkostadium, 11-12 September 2013