Mata SatuKarya Nazar Shah Alam

(Sumber: Harian Serambi Indonesia, 8 September 2013)

Kata Neknong, kelak Dajjal akan datang ke kampung kami. Dia pertama-tama akan mengambil anak-anak malas mengaji dan malas sembahyang. Dajjal juga senang mendatangi orang-orang yang tidurnya terlambat, suka berbohong, dan jahat. Aku dan adik lelakiku, Afzhal akan segera tidur bila cerita Dajjal jahat itu sudah selesai. Kadang tidak bisa, tapi aku memaksa mata. Berusaha cepat-cepat lelap agar makhluk aneh tersebut tidak datang malam ini lalu memakanku.

Siang hari aku selalu berpikir, jika Dajjal benar-benar datang ke kampung kami, akan kutusuk matanya yang tidak buta biar kedua mata itu sempurna tidak bisa melihat apa-apa. Atau aku akan masuk kelompok Imam Mahdi sebab sang imam punya pedang yang tajam. Jika aku mahir memainkan pedang, tentu Imam Mahdi akan menerimaku menjadi anggotanya. Lalu, jika mata Dajjal sudah kutusuk, Imam Mahdi akan memberikan pedangnya padaku. Kami akan berperang bersama-sama melawan pengikut Dajjal yang tersisa.

Sejak aku menanam niat untuk bergabung dengan kelompok Imam Mahdi, sejak itu pula aku mulai suka bermain pedang-pedangan. Kubuatkan dari pelepah rumbia muda bermacam-macam pedang. Aku tidak hanya akan menusuk mata Dajjal, tapi akan membunuhnya dan memberikan kepalanya ke hadapan Imam Mahdi.

Afzhal juga mulai suka membuat mobil-mobilan. Bermacam-macam mobil. Truk katanya untuk mengangkut orang-orang kampung kami bila Dajjal datang. Sedang untuk dirinya sendiri, dibuatkan mobil bersayap. Bisa terbang, katanya. Namun sungguh aneh, bila suatu kali kami katakan perihal apa yang kami persiapkan pada Neknong, ibu dari ayahku itu akan tertawa. Kata Neknong Dajjal tidak bisa dilawan, kecuali jika kami rajin mengaji dan sembahyang.

Meskipun Neknong telah berkata begitu, aku dan adikku tetap melakukan apa yang menurut kami bisa membantu membalas kejahatan Dajjal. Sesekali kami pergi ke kuburan Nekgam dan minta doa restu serupa pejuang yang sudah cukup dekat menuju perang. Pulang dari sana aku akan kembali berlatih ilmu pedang dan adikku merakit mobil-mobilan.

“Ada orang tua di depan sekolah kita, Zar. Dia Dajjal. Aku yakin!” ucap Dawod dengan napas yang masih belum teratur sebab buru-buru mengayuh sepeda. Aku dilanda semangat memuncak. Kukatakan pada adikku agar terus bersiap-siap membawa lari orang-orang kampung kami jika nanti aku mati melawan Dajjal itu. Dia menyalamiku. Kami berpisah di bawah sebatang jambu rindang belakang rumah yang sedang berbuah lebat sekali.

Dawod mengayuh sepeda dengan cepat, memboncengku di belakang. Jalan setapak berkerikil penuh itu membuatnya semakin lelah saja. Setiba di sekolah, orang tua yang dimaksud Dawod tidak ada. Kami bertatapan. Aku menarik kain merah setapak tangan dari kantong celana puntung dan mengikatnya di kepala. Pelan sekali aku memasuki area sekolah.

“Tidak ada!” kataku pada Dawod yang masih melepas lelah di bangku semen dekat pagar.

“Apa kataku, orang tua itu memang Dajjal. Dia bisa hilang dalam sekejap. Ayolah pendekar pedang kami, kita pulang. Kita sudah punya amal hari ini dengan mencoba menghalaunya,” ucap Dawod. Kami pulang. Aku kecewa sekali sebab Dajjal yang kutunggu-tunggu itu rupanya tidak kudapati. Mungkin dia sudah tahu ada seorang pemain pedang bagus di kampung ini, maka buru-buru pergi agar tidak cepat mati.

Namun itu, ketika aku baru saja melanjutkan latihan pedang di belakang rumah, menghantam batang-batang pisang dengan kuat, aku dikejutkan teriakan sekelompok kawan-kawanku. Mereka memanggil-manggil namaku. Kata mereka ada Dajjal di depan rumahku. Segera saja aku menuju arah yang mereka sebut.

Di depan pintu, seorang lelaki tua berwajah lusuh dengan pakaian putih belel bertambalan di beberapa bagian berdiri kaku. Aku memerhatikan gelagatnya. Mulutnya komat-kamit membaca doa. Aku mendengar dia menutup doa itu ketika ibuku menuang beras ke dalam karung yang dibawa.

“Hei, orang tua. Kamu siapa?” hardikku. Dia terkejut. Ibuku segera menatapku tajam.

“Aku peminta sumbangan, anakku!” ucapnya lembut.

“Kamu Dajjal, kan? Ayo menyerah sebelum kuhunus pedangku!” kali ini aku benar-benar marah padanya. Dia sudah membohongi kami. Orang-orang kampung berkumpul cepat di rumahku yang dekat pasar ikan. Mereka berbisik-bisik. Beberapa di antara mereka melihat ke arah ibu. Beberapa melihatku. Beberapa melihat ke arah lelaki lusuh yang kuyakini sebagai Dajjal itu.

Mata yang sebelah terbuka itu menatapku dengan teduh. Kata Neknong, Dajjal sangat pandai mengelabui siapa pun dengan tatapan dan tutur sapanya. Aku tidak percaya pada keteduhan itu, kubalas dia dengan tusukan mata bengis. Tanganku bersiap menarik pedang. Aku yakin, Dajjal itu sedang kelaparan lalu meminta beras ke rumahku. Nanti di suatu tempat dia akan memasak beras itu dari tangannya yang sakti. Dalam keadaan lapar, siapa pun menjadi tidak berdaya melawan. Inilah saatnya.

Adikku berdiri tepat di sampingku. Tangannya terkepal. Aku masih menatapnya. Tapi, oh, aku ingat, di sini tidak ada Imam Mahdi. Bagaimana kalau Dajjal itu benar-benar kuat dan sakti? Aku mulai merasa sedikit gentar. Di hati kuharap Imam Mahdi segera datang. Orang-orang berkumpul itu menyuruh Dajjal pergi dan tidak memperdulikan kami. Aku menghentikannya dengan teriakan yang kuat. Orang-orang memandangku dan berbisik-bisik.

Mungkin Dajjal sudah merasuki pikiran mereka. Dajjal itu berbalik. Aku berang. Dengan cepat kuhunus pedangku dan mengejarnya. Pedang kuayunkan cepat menuju punggungnya. Akan kubelah punggungnya. Sedikit lagi, sial, Ayah menyambutku dan menghempas badanku ke tanah berumput lebat.

Di tangan ayah sudah ada lidi. Berkali-kali dihujamkan lidi itu ke betisku. Teman-teman dan adikku berlari tak karuan langgang. Neknong tidak pernah katakan bahwa tidak semua yang bermata satu adalah Dajjal. Ayahku terus murka sebab katanya aku tidak punya etika. Menghardik orang tua yang miskin tak berdaya di hadapan banyak orang adalah sebuah sikap nista, katanya. Lelaki tua tadi sudah pergi. Betisku semakin perih dihujam lidi berkali-kali. Malamnya Afzhal dan semua kawanku menertawakan cara berjalanku yang mengangkang dan cara dudukku yang kepayahan.

Pengkostadium, 5 September 2013