ggggggggKepada Nazar Shah Alam

Maafkan bila dia tidak bisa membubuhkan bukti kesenangannya pada ucapan-ucapan, doa-doa, puisi-puisi, dan segala yang kalian, kawan-kawan, berikan hari ini. Sengaja tidak dikomentari satu dua, biar tidak ada yang merasa si fulan spesial dan si Fulen tidak.

Katanya, dia menyukai semua baik yang terucap maupun yang sirat, baik yang di jaring sosial maupun via apa saja. Dia anggap semua itu serupa kalian datang lalu merayakan ulang tahunnya. Jujur, ini menyenangkan sekali. Maka sebab kebahagiaan itu Nazar Shah Alam berdoa pada Tuhan semoga kalian mendapatkan segala yang kalian berikan itu tanpa kurang suatu apa. Mungkin begini, jika kalian mendoakan semoga dia berhasil, dia mendoakan pula semoga kalian merasakan keberhasilan.

***

Kemarin pagi saya sempat lupa bahwa tanggal lima September adalah tanggal lahir saya. Ada banyak hal yang perlu kuingat. Tapi satu dua orang mengucapkannya terlalu awal dan saya sama sekali tidak bisa berkutik dari ingatan bahwa memang saya akan ulang tahun hari ini. Saya menunggunya. Kemudian saya lihat bagaimana hasil pencapaian setahun lalu usia saya. Nyatanya, saya menemukan banyak kebencian di dalamnya dan kebahagiaan yang hampir sejumlah sama.

Dua puluh tiga. Kadang ketika pikiran saya baik, saya berpikir sebaiknya angka itu dihapus saja dari daftar perhitungan umur. Sebab di hitungan tersebutlah saya menemukan pengkhianatan-pengkhianatan, kebohongan-kebohongan, dan berbagai macam keburukan lainnya. Saya temukan terlalu banyak sehingga bolehlah saya katakan hampir sepanjang tahun saya dalam keadaan buruk.

Hidup memang tidak bisa dibikin skenario sesuai keinginan diri, kawanku. Tapi segala keburukan yang kulakukan pada usia dua puluh tiga telah membuat saya aneh. Untuk diri sendiri, bahkan. Segala itu tidak mutlak saya lakukan sendiri. Kita hidup saling berkaitan, bukan? Faktanya, banyak yang berkaitan denganku telah memberikanku keburukan. Lalu apakah mutlak salah mereka? Tidak, saya juga berandil di dalamnya. Namun memang pengkhianatan pada usia dua puluh tiga telah membuat saya jadi pengkhianat, kebohongan di sana membuat saya jadi pembohong besar pula.

Saya berusaha bergerak dari satu titik ke titik yang lain, mencoba lepas dari jerat yang terlanjur saya masuki. Rupanya yang saya temukan adalah jerat yang semakin rumit dan bertumpuk. Saya telah menjadi penjahat pada usia dua puluh tiga. Saya membuat banyak orang sengsara. Apa yang bisa saya lakukan? Semuanya telah saya coba, tapi saya sering meloncat ke arah yang salah (ah, buruk sekali) dan salah memilih teman, salah memilih pekerjaan.

Namun pada ketika pikiran saya buruk, saya merasa angka dua puluh tiga memang tidak mesti kuhapus sebab trauma yang dimunculkannya. Dari keburukan-keburukan di sanalah saya menjadi berani dan terdidik untuk terus bergerak. Saya tidak pernah mengeluh lagi, tidak punya waktu bersedih, menjadi pemburu yang mulai bisa membaca keadaan, dan, aduhai, saya mendapatkan pemain-pemain muda berbakat di sekeliling saya.

Benarlah rupanya, kadang kamu mesti mengikhlaskan siapa pun pergi darimu, sebab penggantinya barangkali jauh lebih baik. Dan benar juga, kamu mesti ikhlas menerima kejamnya takdir karena kekejaman telah membuat kamu berubah lebih jauh. Tuhan yang Maha Cerdas menunjukkan segalanya. Saya mulai berani menikmati musik kami, menikmati tanggung jawab mengajar, menikmati dunia sastra dan tidak menjadi kering seperti beberapa kawan lainnya. Saya menyelesaikan banyak masalah dengan mereka yang muda-muda dengan tawa tanpa beban yang begitu menyiksa.

Saya sudah dua puluh empat tahun hari ini. Bangun pagi saya sadar bahwa tidak akan ada kejahatan yang abadi. Maka sebagai penjahat yang mencoba baik, saya berubah, sangat jauh. Dengan sisa kebencian di usia dua puluh tiga, saya berjalan pelan-pelan hari ini. Saya mendapatkan kebahagiaan baru, itu juga tidak mutlak. Namun berharap hidup persis seperti di mimpi, saya kira itu konyol. Saya mesti belajar dan terus harus mencoba memperbaiki diri.

Saya sudah dua puluh empat hari ini. Bangun pagi, lalu ke kampus. Saya kuliah lagi? Ya, ini sebuah wujud menuju ke arah baik. Dan saya membantu teater serta adik-adik saya di almamater: persis seperti dulu, ini semacam kembali menjadi baik. Saya sudah dua puluh empat tahun, dan masih buruk. Saya masih menjadi pembenci. Kelak saya akan melupakan kebencian. Saya hanya ingin lepas dari jerat buruk lalu dan menjadi baik. Itu saja.

Saya sudah dua puluh empat tahun dan ini buruk jika saya terus berada dalam keburukan lama. Lebih buruk lagi jika saya tidak mencoba bergerak lebih jauh. Harus sangat jauh.

***

Nazar Shah Alam sudah dua puluh empat tahun, katanya itu mengerikan.

Kamis, 5 September 2011