FATYAOleh Nazar Shah Alam

Fathya, inilah janji yang kulunaskan dan

selamat tidur, sayang

 

kamu tidak akan mengetahui apa-apa yang

kukatakan hari ini dan biarkan saja ibumu mereka-reka

sebab ibumu pun tidak tahu—kita berbicara dengan sunyi

yang hanya kita susuri. tidak ada sesiapa dan buruk sekali

saat ini aku saja yang paham. kamu perlu menunggu sekian waktu

lagi untuk tahu apalagi paham.

 

bayangkan, Fathya, sekisar dua puluh tahun kemudian

ketika kau sudah sedikit mengetahui perihal sunyi yang

kukirimkan padamu saat ini

 

suatu malam kamu keluar sebentar

untuk merayakan ulang tahunmu yang meriah

meninggalkan sunyi ini yang telah menjadi kamar lelap

 

seorang lelaki tua membaca puisiku untukmu:

berjanjilah, hanya kita berdua yang tahu perihal sunyi yang kukirim ini

orang-orang melihatmu

lalu kau dengan tersenyum berkata pada teman lelakimu

—jangan cemburu, sayangku. ini persembahan

teman ibu yang konon sangat celaka. seorang yang diasingkan, kata ibu sebab

dosa dan kejinya para penguasa di mana ibu juga merasa

 

dia yang sulit percaya itu mencariku

dia terperangkap dalam sunyi yang kukirim

sebagai hadiah ulang tahun ketigamu

kamu akan menjemputnya?

 

segala yang kukirim padamu: kelak ketika kau paham

telah menjadi maghrib untuk segenap hari lusuh

saat itulah engkau, sayangku

engkau mesti pulang ke peluk ibumu yang teduh

 

28 Agustus 2013