Ehan#Untuk ulang tahun Rayhan Hayati

 Oleh: Nazar Shah Alam

 

Pagi ketika kamu kabarkan ketibaanmu di jauh

Judul puisiku memutuskan untuk menggigil sendiri

Bahkan tak ada kata yang mampu menusuk otakku selaik ketika matamu pating di sana

Dan rupanya kata-kata itu menunggu di dapur

Bersama karatan kaki meja

 

Yang paling celaka itu adalah hujan turun sore

Tatkala aku terus menerus dikerubungi rindu pada pertanyaanmu yang kerapsajak

Kita pernah menunggu hujan tiba dan berencana memungut beberapa percik

Kau hendak menuang ke kertasmu; aku pun

 

Masih ingat duduk kita pada suatu dekat malam?

Azan menyimpulkan pertanyaanmu lalu menarik badan kita ke pulang

Bila kau berbalik, aku akan melihatmu sampai dilenyapkan tikung lazim

Yang menelan sesiapa pun yang kuantar pulang

Dan lalu aku melihat kertas kita yang melompong di meja dapur

Diam tanpa hujan, tanpa kata, tanpa hujat, tanpa apa-apa

 

Sepertinya kelak kamu akan menguburkanku di kertas itu; aku merasakannya

Bila penguburan itu semakin dekat, aku lantas melihat judul puisiku

Ia menggigil dirasuki takut pada kematian

Kuselimuti ia dengan gordin hijau lusuh yang biasa kukenakan

Malam hari bila rumah api ini dimasuki badai

 

Kamu tidak harus menunggu lebih lama untuk membunuh kemenanganku, Han

Sunyi hujan sore ketika kau jauh telah mengambil setengah gairahku

Tulislah beberapa mantra di usia baru ini

Maka engkau telah menguasai separuh lagi dari yang tersisa padaku

 

Hujan itu masih serupa ketika kau tinggalkanku dalam ringkuk, Han

Dan kau telah memegang waktu

Selamat ulang tahun untukmu

Aku sedang menunggu puisimu menebas leherku

Juga sambil meringkuk

 

Rumah Jeuneurob, 5 Juli 2013