teaterOleh Nazar Shah Alam

Kami baca alirnya dan pelajari deru yang turun malam buta

Menyusup papan-papan tua rumah dan melengkingkan pilu

Dari mulut bocah, nyeri dari mulut Ayah, pekik ibu

Dan lolong takut dari rata penjuru

Pada akhirnya kami tidak lagi merindu hujan malam hari

Sebagai pengantar tidur atau sebagai dingin yang menggoda birahi

Hujan adalah ketakutan dan barangkali isyarat kehilangan

Kami baca alirnya dan pelajari deru yang turun malam buta

Menghantam kebun dan sawah, ternak dan tanaman lalu meruah diri

Ke jalan-jalan ke taman-taman ke segala yang ditemui di hadapan

Dan tanah sebagai muasal dilanda penyakit insang

Kami pelajari lahapnya dan panas yang datang seketika

Memamah rumah kami dan tak kunjung mati

Menjalar ke rumah tetangga tanpa permisi

Pada akhirnya kami mengganti kayu di tungku dengan isi tanah

Sedikit lebih parah

Kami kesulitan membuang cinta pada api tapi api tidak mencintai lagi

Kami pelajari alirnya jalarnya dinginnya panasnya

Kami baca tanpa lelah dan tak berhenti di setiap titik yang

Ditemui sebab kami perlu terus membaca untuk paham

Pada alir pada jalar pada dingin pada panas yang membakar

Kami tidak mendapatkan jawaban

Tuhan barangkali telah menyimpan petaka ini dan

Menunggu sekian lama agar kami rusak belantara

Lalu pada saat yang tak disampaikan Ia mengirim

Bala tentara langit berupa dingin menggigit

Bala tentara bumi berupa kobar sembelit

Dan kami terus mencari penawar

Berharap Tuhan turun tangan seperti sediakala

Memindahkan bala

Rumah Jeuneurob, 25 April 2013

*Puisi ini dibacakan pada malam peduli korban banjir, abrasi, dan kebakaran, 28 April 2013 di Gedung Sultan II Selim Banda Aceh)