(Dari mitos, Magis, Kepercayaan, Hingga Adat di Aceh Barat Daya)

fix-kawen-copia-copiaKarya Nazar Shah Alam

Bicara tentang meu-alek kawen (pesta kawin) dalam kearifan masyarakat Aceh Barat Daya dimulai dari hal sangat dasar sekali. Pemuda yang hendak menikah, mestilah datang ke orang-orang tua untuk belajar atau mempersahih ilmu agamanya, memperdalam ilmu-ilmu putih tertentu agar kelak bisa meringankan masalah keluarga (magis), belajar tata cara berumah tangga, berikut segala hal yang diperlukan dalam membina keluarga kelak.

Seperti juga di tempat lain, perkawinan di kampung-kampung di Aceh Barat Daya dimulai dengan prosesi cah rot atau cah rauh (melamar). Namun, jauh sebelum itu, pemuda mesti menelisik terlebih dahulu gadis yang hendak dilamar. Tidak cukup dengan keinginan diri dan izin keluarga saja.

Pasangan yang akan dilamar juga ditanyakan dulu kepada orang tua yang cerdik pandai tentang kecocokan dan bagaimana caranya agar cocok, sehingga kelak dalam berumah tangga bisa mudah rezeki dan hidup bahagia. Tidak jarang kelak, setelah lamaran diterima dan orang tua kedua belah pihak bertemu dengan cerdik pandai lagi, nama perempuan akan diganti ujungnya, agar sesuai peuraja (semacam sio). Kebiasaan melihat peuraja sebelum melamar ini mungkin sudah dianggap mitos di tempat lain. Tapi, bagi orang tua di sana hal ini dipercaya ampuh untuk membuat keluarga anak-anak mereka berlangsung baik, tidak diterpa banyak masalah baik dari sisi finansial maupun sikap.

Mahar diputuskan pada saat melamar tersebut. Telah ditetapkan dalam adat di Aceh Barat Daya mahar seseorang berupa emas dan uang. Mahar di sana biasanya bernominal sama antara emas dengan uang, misal 10:10 (emas sepuluh mayam dan uang sepuluh juta). Angka 10:10 ini masih langka di sana, yang paling banyak berkisar 7:7 (emas tujuh mayam dan uang tujuh juta). Tapi tidak tertutup kemungkinan lebih besar atau lebih kecil dari itu dan bahkan berbeda nominalnya, sesuai kesepakatan kedua belah pihak saat melamar.

Setelah menentukan jumlah mahar, pada saat yang sama ditentukan pula tenggat bertunangan yang dalam kearifan masyarakat setempat disebut Intat Ranup. Bila diterjemahkan secara bebas, Intat ranup berarti mengantar sirih. Sirih dalam kebiasaan orang-orang Aceh dipercaya sebagai salah satu alat perekat hubungan, sebuah kemuliaan untuk tamu (ranup lam bate peumulia jamee/ adat geutanyoe keujame teuka). Di sini pihak perempuanlah yang dianggap tamu mulia yang dijemput kedatangannya. Sebab kelak, perempuan akan dibawa oleh suami dan banyak yang tinggal dalam lingkungan keluarga pihak suami.

Pada proses intat ranup, keluarga pihak laki-laki membawa setengah dari jumlah mahar yang sudah disepakati dalam bate. Mahar yang dibawa setengah tersebut bisa jadi uang saja atau emas saja. Selain itu dibawa pula sebuah persembahan berupa rangkaian sirih yang dilekatkan pada batang pisang muda. Inilah alasan mengapa kemudian bertunangan disebut intat ranup. Batang pisang muda itu diambil dari bagian akar—serabut akarnya dibuang—hingga daun. Dalam prosesi intat ranup ini, sebagian orang kampung ikut serta mengantar tanda jadi hubungan antara dua keluarga.

Prosesi intat ranup bukan hanya semata-mata untuk mempersahih ikatan kedua belah pihak. Namun jauh daripada itu, di sini juga disepakati tentang jadwal menikah, ketentuan-ketentuan lain yang menyangkut calon pengantin. Di sini diputuskan pula tentang: nyoe salah agam hana peu tanyong/ nyoe salah inong peugandeng dua (jika kesalahan selama bertunangan berasal dari pihak laki-laki jangan ditanyakan lagi—maknanya segala yang sudah diberikan akan hilang, jika pihak perempuan bersalah maka—mahar yang sudah diberi—mesti dibayar dua kali lipat.

Hal ini dilakukan demi menjaga kedua calon pengantin ini dari berbuat kesalahan yang bisa membatalkan hubungan pertunangan mereka. Ada kemufakatan tentang apa saja yang bisa membatalkan hubungan ini. Lazimnya untuk hal ini dibicarakan secara gamblang di hadapan para yang datang dalam prosesi intat ranup agar kelak pihak keluarga yang tidak bersalah bisa mendapatkan pegangan ketika menggugat (bila) pihak satunya lagi melanggar.

Biasanya, tenggat antara intat ranup dengan menikah tidak lebih dari dua kali panen (ada juga satu dua yang lebih dari itu dengan alasan-alasan tertentu, tapi jarang). Hal ini disepakati demi menjaga sikap calon pengantin, sebab tidak tertutup kemungkinan bila terlalu lama bertunangan ada salah satu pihak yang tidak sabar dan melanggar.

Keputusan tentang tenggat pernikahan berlandaskan pendapat orang tua cerdik pandai. Lazimnya pesta dilaksanakan pada saat buleun ek (bulan langit awal hingga pertengahan). Menurut mitos, hal ini bisa membuat pernikahan tersebut mudah rezeki dan bisa jaya. Keputusan ini diambil dalam rapat wali, dimana saudara-saudara bertali darah datang untuk merembuk. Di sanalah para keluarga memberikan bantuan semampu-mampunya untuk meringankan pesta.

Pernikahan diselenggarakan seminggu sebelum pesta. Di sinilah semua mahar dilunaskan. Setelah ijab qabul, pihak linto baro (pengantin laki-laki) akan pulang ke rumah dara baro. Sedang dalam menuju proses menikah, di kedua rumah sudah menyiapkan pesta.

Pada masa lalu, pesta pernikahan dilakukan pada saat lepas panen. Memang ada musimnya, di mana pesta-pesta baru boleh dilaksanakan di rumah warga. Dipilihnya waktu panen adalah demi memudahkan warga lain untuk datang ke pesta tersebut. Sebab jika sudah musimnya, pesta di sana akan sambung menyambung. Jadinya masyarakat memang mesti menyiapkan bekal yang cukup untuk menghadapi musim (pesta) ini.

Penyebab lain adalah karena sudah lazim pula di Aceh Barat Daya ada semacam adat pula (tanam) dan balah (balas). Orang membawa kado atau bekerja keras pada sebuah pesta sedang dia belum membuat pesta sama sekali disebut orang yang pula. Sedangkan orang yang berpesta wajib membalasnya kelak.

Seseorang yang telah pernah membuat pesta di rumahnya, wajib datang ke rumah lain yang pernah pula but atau pula kado di pestanya silam. Semacam adat balas budi, meskipun tidak diminta. Kalau kemudian orang yang sudah pernah dipula tidak datang atau membalas, maka dia akan dikucilkan oleh masyarakat. Tiap acaranya kelak hanya akan dikerjakan oleh keluarga dekatnya saja.

Sebelum pesta besar digelar, di rumah pengantin sudah terlihat banyak orang. Perempuan-perempuan tua sudah sibuk dengan kebiasaan leu u (menggonseng kelapa parut) untuk dijadikan bumbu masakan hari pesta. Anak muda saling membantu mencari kayu di kaki gunung atau bahkan di rimba sekali pun. Semua dilakukan dengan suka cita, tanpa dibayar sepeser pun.

Pesta semakin jelas nampaknya dua hari menjelang malam boh gaca (memakai inai). Linto baro sudah pulang ke rumahnya. Rumah sudah dihias sedemikian rupa. Para gadis sudah mengambil piring dan segala peralatan masak di rumah tertentu yang memang menyewakan alat tersebut dan memasang leun langet (kain lebar biasanya berwarna merah atau kuning untuk membalut bagian plafon rumah), menghias teumpat duk sanding (pelaminan), dan membersihkan rumah. Untuk segenap keperluan peralatan dapur, biasanya warga akan saling melengkapi.

Dua malam sebelum boh gaca, akan diadakan rapat umum. Seluruh masyarakat, kenalan, saudara, diundang untuk datang merapatkan tentang hari H. Agenda ini ditandai dengan penyerahan hewan yang akan disembelih pada ketua pemuda secara simbolik. Dimulai saat itu, segala hal yang menyangkut pesta semuanya diserahkan kepada pemuda.

Adat boh gaca dilaksanakan sampai tiga malam. Pada hari kedua, ada ritual peumano pucok dimana pengantin akan dimandikan di hadapan orang banyak. Kelompok peumano pucok diundang khusus. Ritual ini menjadi ajang membersihkan dan mewangikan linto atau dara baro sebelum bertemu kelak.

Baru pada malam ketiga pesta di rumah pengantin laki-laki akan dilaksanakan intat linto. Pengantin laki-laki diantar ke rumah pengantin perempuan. Jika tempatnya dekat, maka acara intat linto dilaksanakan malam hari. Namun, bila jauh, pengantin akan dibawa sore hari, agar bisa menjelang rumah dara baro pada malam hari.

Ketika linto tiba, pihak keluarga dara baro sudah menyiapkan sebuah kursi hias yang diikatkan payung kuning di salah satu sisinya. Linto akan didudukkan di sana dan diangkat beramai-ramai menuju pintu rumah dara baro. Di pintu linto disambut dengan berbalas pantun. Ini hanya formalitas semata. Kemudian linto dibawa masuk ke rumah, didudukkan di tempat duk sanding bersama dara baro.

Pagi-pagi sekali linto sudah harus pulang ke rumahnya, diantar oleh salah seorang dari pihak dara baro. Sorenya giliran pihak dara baro pula yang datang. Prosesi ini disebut intat dara baro. Linto yang sudah menunggu di rumah dipanggil keluar untuk menemani dara baro pada sebuah kursi pasangan yang sudah dihias. Diangkat lagi sampai ke muka pintu. Disambut dengan pantun petuah dari seorang yang dituakan di kampung.

Linto baro akan kembali ke rumah istrinya setelah semalam menginap di rumahnya. Sedangkan dara baro menginap di rumah linto. Dipisahkan begini bertujuan agar dara baro bisa diajarkan oleh mertua tentang sikap dan kebiasaan suaminya selama muda agar dara baro paham bagaimana menanggapi suaminya kelak. Tentu tidak efektif bila memberitahukan kebaikan dan keburukan di hadapan orangnya. Maka, pemisahan sementara ini dilakukan. Baru pada hari kedelapan mereka dipertemukan lagi di rumah linto baro. Sang linto menjemput istrinya untuk dibawa pulang ke rumahnya. Jika pun linto sudah punya rumah pribadi, ia tetap mesti tinggal sementara di rumah mertua. Biasanya sampai sebulan, baru diperbolehkan pulang ke rumah pribadi mereka sebagai suami istri.

Pasangan ini bila tiba lebaran pertama wajib tumuntuk, yaitu datang ke rumah keluarga-keluarga dekat untuk membawa kue-kue kering dalam jumlah tertentu. Nantinya keluarga yang dibawakan kue ini akan meletakkan sesuatu dalam tempat kue tersebut. Inilah batas akhir mereka disebut linto dan dara baro. Setelah itu, tidak ada yang perlu dilakukan lagi, segala ritual linto dan dara baro usai.

Meskipun adat perkawinan telah diatur sedemikian rupa, tidak tertutup kemungkinan segalanya bisa berubah. Kelak ada penyesuaian-penyesuaian lagi tentang segala ritual, manakala hal itu diperlukan oleh alasan-alasan tertentu. Bukankah telah ditoreh dalam hadih maja, adat meukoh reubong, hukom meukoh purih/ adat jeut beurangkaho takhong, hukom hanjeut beurangkaho takhih. Hanya hukum yang tidak bisa diubah, sedang adat selalu bisa disesuaikan. Wassalam.

*Tulisan ini keluar sebagai juara dua dalam lomba penulisan artikel di LPM Unmuha Aceh 5.